90 Pengusaha Lalui Seleksi Awal DSC, Hibah Rp2 Miliar Menanti – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

banner-oktober
Ekonomi & Bisnis

90 Pengusaha Lalui Seleksi Awal DSC, Hibah Rp2 Miliar Menanti

Wismilak

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Diplomat Success Challenge 2016 (DSC) baru saja menyelesaikan tahapan seleksi awal. Dari 6000 lebih proposal usaha yang masuk, sudah dijaring 90 proposal yang dinyatakan berhak lolos ke tahapan berikutnya.

90 proposal usaha ini akan berebut satu pemenang utama dan tiga runner up untuk mendapatkan modal usaha dengan total Rp2 miliar dalam bentuk hibah (bukan pinjaman).

DSC adalah Program Kompetisi Wirausaha yang dicetuskan Wismilak Diplomat dan Wismilak Foundation, untuk mendorong pertumbuhan wirausaha dikalangan usia produktif 20-45 tahun di Indonesia.

Diselenggarakan setiap tahun sejak 2010 dab tahun ini sudah memasuki tahun ke tujuh. Proses seleksi awal ini berlangsung satu bulan terhitung sejak pendaftaran ditutup tanggal 13 Juni 2016 lalu dengan hasil yang luar biasa.

“Tahun ini kami kembali kebanjiran peminat mengulang sukses tahun lalu, ada lebih dari 6.000 proposal yang terjaring masuk,” ujar Ketua Dewan Komisioner Diplomat Success Challenge Surjanto Yasaputera.

Dia menjelaskan, seluruh proses pendaftaran harus melalui website yang mencatat total traffic sekitar 50 ribuan pengunjung. Dari seluruh pengunjung tersebut ada seperlima atau sekitar 13 ribu yang mendaftar sebagai peminat. Pada saat ditutup ada sekitar 6300 proposal yang dinilai memenuhi persyaratan sebagai proposal bisnis.

Sebagaimana tahun lalu, peminat berasal  dari berbagai latar belakang. Selain didominasi mahasiswa dan mereka yang baru lulus kuliah (61 persen), kompetisi ini juga menarik minat banyak professional muda (39 persen). Proposal juga datang dari seluruh provinsi di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa kompetisi ini menjangkau berbagai segmen secara luas.

Proposal yang masuk dikelompokkan dalam 10 kategori. Tiga besar jenis usaha yang paling diminati masih seperti tahun lalu, yakni perdagangan (36 persen), diikuti oleh kuliner (31 persen) dan industry kreatif (13 persen). Diikuti Industri proses (5 persen), industry agro (4 persen) dan teknologi informasi (4 persen).

Hal yang menarik tahun ini adalah munculnya minat di bidang teknologi hijau, energy terbarukan dan pariwisata. Meski secara persentase angkanya masih belum signifikan, namun dari jumlahnya lumayan menggembirakan. Peminat usaha terkait teknologi hijau misalnya, mencapai 73 orang. Sementara yang terkait energi terbarukan ada 26 orang.

Sama seperti tahun lalu, proposal dibagi dalam tiga area, yakni kawasan Indonesia Timur, Tengah dan Barat. Peserta paling banyak masih datang dari Central Region (Kalimantan, DIY dan Jawa Tengah) yakni sebanyak 56 persen. Posisi terbanyak kedua peserta dari East Region (Sulawesi, Jawa Timur dan Indonesia Timur) sebanyak 26 persen dan jumah peserta dari West Region tahun ini ada di peringkat ketiga sebanyak (15 persen).

“Pertama kali kami melihat kelengkapan administrasi yang diminta dalam proposal, ada beberapa proposal yang tidak bisa diloloskan karena tidak lengkap, termasuk yang tidak menyertakan perhitungan cash flow” ujar Surjanto Yasaputera yang akrab disapa Pak Sur ini. Ada juga sejumlah proposal yang harus didiskualifikasi karena tidak menggunakan format yang telah disediakan.

Tahap berikutnya panitia memusatkan perhatian meneliti akurasi angka-angka keuangan dari ribuan proposal yang lolos. “Kinerja keuangan atau cash flow adalah salah satu hal paling penting dalam proposal usaha.

Usaha itu harus menghasilkan untung secara logis. Kami tidak menuntut perhitungan keuangan yang sempurna, namun proposal yang perhitungan keuangannya ngawur sudah pasti langsung dicoret,” tambahnya.

Feasibility sebuah proposal usaha memang langsung tergambar dari rencana keuangan, terutama dari perhitungan modal yang diperlukan serta keuntungan yang akan dihasilkan.

Akhirnya proses seleksi awal ini berhasil meloloskan 90 proposal untuk tiga kawasan kompetisi; East, Central dan West Region. Di tiap kawasan masing-masing tersaring 30 kandidat, yang untuk selanjutnya disebut sebagai challenger. Para kandidat ini langsung dikontak oleh panitia untuk mengikuti tahapan selanjutnya yakni audisi. Mereka yang lolos tidak terbatas pada kegiatan wirausaha yang sudah berjalan, namun juga yang masih dalam bentuk idea atau konsep usaha.

Tahapan audisi, adalah berlangsungnya proses ujian yang lebih berat bagi seluruh challenger. Semuanya harus tampil satu persatu menyajikan proposal ide bisnisnya di depan dewan juri. Untuk peserta dari Indonesia Timur, tahap presentasi ini diadakan pada tanggal 2 Agustus 2016, bertempat di Hotel Harris Gubeng, Surabaya.

Para challenger dari Indonesia Tengah harus hadir untuk melakukan presentasi di Hotel Harper Mangkubumi, Yogyakarta pada tanggal 4 Agustus 2016. Sedangkan untuk Indonesia Barat, presentasi challenger diadakan di Hotel Akmani,  Jakarta pada tanggal 6 Agustus 2016.

Mereka yang lolos audisi selanjutnya akan diundang untuk mengikuti tahap berikutnya, yakni Market Challenge yang akan diadakan di 3 kota yakni Surabaya, Yogyakarta dan Bandung. Menurut Pak Sur, dalam tahap terakhir ini para challenger akan dihadapkan pada berbagai kasus bisnis yang harus mereka pecahkan.

Masing-masing akan menerima tantangan yang sama. “Misalnya bagaimana mengatasi penjualan produk baru yang terus menurun, inovasi apa saja yang harus dilakukan untuk menarik minat pembeli. Semua seputar tantangan usaha yang sesungguhnya,” sebutnya. (arm/fmc)

 

loading...
Click to comment
Fajar.co
To Top