Kaum Perokok se-Indonesia Berbahagialah, Harga Rokok Tak Jadi Naik – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

1230x100
Nasional

Kaum Perokok se-Indonesia Berbahagialah, Harga Rokok Tak Jadi Naik

rokok

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Kaum perokok se Indonesia akhirnya bisa bernafas lega, setelah sebelumnya beredar kabar yang menyebutkan harga rokok bakal naik di kisaran Rp 50.000, karena Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan memastikan informasi tentang kenaikan harga rokok itu hoax alias palsu.

Bantahan DJBC itu disampaikan melalui akunnya di Facebook dan Twitter, Senin (22/8). Instansi pimpinan Heru Pambudi itu merasa perlu menyampaikan bantahan karena kabar hoax tentang harga jual eceran (HJE) rokok di atas Rp 50.000 yang menyebar secara viral.

“Menanggapi isu yang beredar mengenai harga rokok yang beredar di Sosial media / pesan berantai/media lainnya, Kami sampaikan bahwa berita tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya karena sampai saat ini belum ada aturan terbaru HJE Rokok,” tulis pengelola admin DJBC.

Sebelumnya memang muncul kabar wacana agar pemerintah menaikkan HJE rokok di atas Rp 50.000. Wacana itu dilontarkan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI).

Menurut Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu Suahasil Nazara, hingga saat ini pemerintah masih membahas besaran kenaikan cukai rokok untuk tahun depan. Karenanya soal usulan dari FKM UI itu, pemerintah baru sebatas mendengarkannya.

“Itu kan usul. Kita mendengarkan dulu. Sementara itu, timing dan besaran kenaikan tarif cukai masih dibahas internal,” terangnya kepada Jawa Pos kemarin.

Dirjen Bea Cukai Kemenkeu Heru Pambudi juga mengakui wacana harga rokok Rp 50 ribu adalah salah satu usul yang disampaikan kepadanya. Namun, dia menegaskan, jika pemerintah menuruti usul yang diajukan tersebut, industri rokok dipastikan bangkrut.

“Kalau hanya mendengarkan satu pihak (pro kesehatan, Red), ya bisa bangkrut itu (industri rokok). Selalu kalau lewat kurva optimum, ada ekses negatifnya, yaitu industrinya mati atau bermunculan yang ilegal. Jadi, tidak hanya (mempertimbangkan) yang pro kesehatan, tapi juga ada petani (tembakau),” tutur Heru. (ara/jpnn/Fajar)

loading...
Click to comment
banner advertise
To Top