Ingat Ya! Sekarang Nggak Semua SPBU Sediakan Premium – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

1230x100
Ekonomi & Bisnis

Ingat Ya! Sekarang Nggak Semua SPBU Sediakan Premium

bbm

FAJAR.CO.ID, JAKARTA- Warga pengguna premium yang berada di kawasan mampu atau mewah perlu membiasakan diri saat masuk ke SPBU. Sebab, bisa jadi bahan bakar minyak (BBM) dengan oktan 88 itu tidak lagi ditemukan. Pengelola pom bensin akan fokus pada pertalite.

Kepada koran ini, Direktur Pemasaran Pertamina Ahmad Bambang menjelaskan, ada misi besar yang sedang dipersiapkan BUMN energi itu. Yakni, melangkah menuju standar emisi yang lebih baik lewat bensin berkualitas. ’’Secara makro, ada roadmappemerintah untuk memberlakukan Euro IV,’’ ujarnya.

Saat ini, Indonesia masih menganut standar emisi Euro II yang kurang ramah lingkungan. Pertamina sendiri sudah bisa memproduksi bahan bakar standar Euro IV pada 2019. Jika saat itu bensin yang tidak ramah lingkungan seperti premium langsung dihilangkan, bisa menimbulkan gejolak.

’’Jadi, pertalite ini transisi untuk edukasi ke masyarakat soal melihat efisiensi, bagaimana perlunya menjagaenvironment, soal power atau tenaga di kendaraan sampai kecocokan BBM ke mesin,’’ jelasnya.

Direksi yang akrab disapa Abe itu menambahkan, selama ini edukasi itu berhasil membuat orang-orang penasaran. Jadi, konsumsi pertalite terus meningkat di SPBU yang menjual bensin beroktan 90 itu. Saat ini, dia menyebut pertalite tidak hanya dikonsumsi kendaraan pribadi, termasuk angkutan umum.

Nanti, bahan bakar yang lebih ramah lingkungan memiliki nilai oktan paling rendah 91. Di dalamnya, kandungan sulfur dan olefin semakin rendah. Untuk harga, bakal lebih mahal sampai 10 persen di atas pertalite saat ini. ’’Makanya perlu disiapkan dengan baik supaya warga tidak kaget,’’ urainya.

Dia lantas membuka data, kebenaran data yang disampaikan Pertamina membuat konsumsi pertalite melonjak. Pada awal tahun ini, konsumsi pertalite hanya 3.100 kiloliter (KL) per hari. Sedangkan pada Juli lalu, sempat melonjak lima kali lipat menjadi 15.700 KL per hari.

’’Konsumsi pertamax juga meningkat. Jadi, pengusaha meperbanyak nozzle itu dengan mengurangi premium karena konsumsinya menurun,’’ urainya. Di samping itu, pemerintah daerah juga setuju ada pengurangan itu. Sekadar informasi, untuk menghilangkan premium pengusaha meminta izin ke perseroan. Setelah itu, Pertamina koordinasi dengan pemda.

’’Kami malah kesulitan karena banyak pengusaha yang mengajukan ijin untuk hapus premium dan disetujui Pemda. Kami ambil jalan tengah dengan memulai dari perumahan atau area mewah dulu,’’ tuturnya.

Di Jakarta sendiri, beberapa SPBU sudah memasang plang yang memberitahu tidak ada lagi premium. Seperti di kawasan mewah Pondok Indah, perkantoran Kuningan, dan kawasan pada di Palmerah Barat. Di kota-kota besar lainnya menurut Abe juga sudah seperti itu.

’’Tapi, premium bukan dihilangkan atau tidak disediakan lagi. Pertamina tetap menyediakan berapapun kebutuhan masyarakat. Hanya saja, SPBU yang menyediakan agak minggir sedikit,’’  ungkapnya. (dim)

loading...
Click to comment
banner advertise
To Top