Hanya 2 Bulan, Tim Elit Death Squad Sudah Habisi 2.000 Penjahat di Filipina – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Internasional

Hanya 2 Bulan, Tim Elit Death Squad Sudah Habisi 2.000 Penjahat di Filipina

ATTENTION EDITORS - VISUAL COVERAGE OF SCENES OF INJURY OR DEATH Jennelyn Olaires, 26, cradles the body of her partner, who was killed on a street by a vigilante group, according to police, in a spate of drug related killings in Pasay city, Metro Manila, Philippines July 23, 2016. A sign on a cardboard found near the body reads, "Pusher Ako", which translates to "I am a drug pusher." REUTERS/Czar Dancel/File Photo        TPX IMAGES OF THE DAY
NGERI: Jennelyn Olaires, 26, memeluk jasad kekasihnya yang dibunuh death squad di Kota Pasay, Metro Manila, Juli lalu. Di dekat mayatnya terdapat karton bertulisan Pusher Ako atau saya pengedar narkoba.

FAJAR.CO.ID, FILIPINA- Rodrigo Duterte alias The Punisher alias Duterte Harry sudah dua bulan menjabat presiden Filipina. Sesuai dengan janji kampanyenya, yakni melibas 100.000 pelaku kriminal dan penjahat narkoba dalam semester pertama pemerintahannya, pemimpin 71 tahun itu sudah mengirim sekitar 2.000 tersangka kejahatan ke liang lahat.

Dari jumlah tersebut, kepolisian Filipina mengaku hanya menembak mati 756 tersangka kejahatan yang sebagian besar adalah bandar atau pengedar narkoba. Maka, sisanya yang berjumlah lebih dari 1.000 orang tewas di tangan pembunuh bayaran yang tergabung dalam death squad.  Aksi koboi pasukan elite yang terdiri atas orang-orang sipil itu membuat Duterte bersitegang dengan Senat Filipina dan beberapa lembaga internasional. Termasuk PBB.

Pekan lalu senat menggelar hearing khusus tentang death squad. Kepala Polisi Nasional Filipina Ronald Dela Rosa hadir dalam pertemuan itu. Demikian juga sejumlah polisi dan beberapa kerabat atau keluarga korbandeath squad. Duterte memang tidak hadir dalam hearing yang berlangsung selama beberapa hari tersebut. Tapi, dia mengikuti jalannya hearing yang digagas senator Leila de Lima itu.

Dalam sebuah kesempatan, Duterte sempat mengkritik De Lima. Dia menuding perempuan 57 tahun itu sengaja ingin menjatuhkan dirinya. Apalagi, De Lima menyelidiki keterlibatan Duterte dalam death squad sejak dia masih menjadi wali kota Davao. ’’Anda sendiri yang memulai segala kegaduhan ini. Anda sengaja menumpang tenar lewat program yang saya gagas ini,’’ keluhnya.

De Lima, menurut Duterte, juga bukan orang bersih. Kabarnya, dia mendapat banyak upeti dari para bandar narkoba Filipina. Para bandar itu setor upeti kepada sopir pribadi atau pengawal De Lima yang kemudian meneruskannya kepada sang senator. Maka, Duterte tidak terima jika De Lima menyelidiki death squad dengan menempatkan dirinya sebagai orang bersih. Padahal, dia mengambil keuntungan dari sana.

Tidak hanya menarget para bandar dan pengedar narkoba, Duterte juga membidik para pejabat dan aparat yang menjadi pelindung sindikat narkoba. Sejauh ini, dia sudah dua kali menerbitkan daftar hitam berisi nama-nama para pejabat yang diduga terlibat sindikat narkoba. Selain sekitar 2.000 tersangka kejahatan yang tewas, program Duterte itu membuat 576.146 pengedar dan pengguna narkoba menyerahkan diri.

Mereka yang menyerahkan diri itu mengaku takut kepada death squad. Mereka tidak mau mati konyol hanya karena diyakini sebagai bandar dan pengedar narkoba. Khususnya sabu-sabu. Kisah Restituto Castro yang tewas setelah timah panas bersarang di kepala bagian belakangnya membuat mereka yang berdekatan dengan narkoba gemetar. Mereka tidak mau menjadi Castro berikutnya yang tewas di tangan death squad.

Castro memang sering memegang sabu-sabu. Tapi, dia bukan pengguna, apalagi bandar. Dia hanyalah kurir yang dipekerjakan paksa oleh sindikat narkoba di Kota Manila. ’’Dia sering tidak bisa menolak permintaan dan paksaan dari teman-temannya,’’ kata Merlyn, istri Castro. Karena sering terlihat membawa sabu-sabu, pada 25 Juli lalu dia menjadi sasaran death squad.

Sejumlah pria dengan mengendarai sepeda motor mendekati Castro yang lebih dulu dikirimi pesan pendek lewat telepon. Bapak empat anak itu diminta meninggalkan rumahnya di Distrik Caloocan dan menunggu di McArthur Highway. Saat itulah sang eksekutor merenggut nyawa Castro. Tembakan fatal langsung mendarat di kepalanya tanpa basa-basi.

Meski fakta berbicara tentang keberadaandeath squad dan Duterte pun tidak menyangkalnya, membuktikan keberadaan kelompok elite itu sangat sulit. ’’Tidak pernah ada bukti konkret tentang eksistensi mereka,’’ kata Senior Superintendent Fausto Manzanilla Jr yang menjabat eksekutif pada Directorate for Investigative and Detective Management.

Tidak hanya kontroversial, death squadternyata juga misterius. Tidak pernah ada yang mengabadikan sepak terjang kelompok tersebut. Sebab, kehadiran mereka memang tiba-tiba dan tak terduga. Konon, mereka juga dilindungi polisi dan pemerintah setempat. Maka, melacak jejak mereka sangatlah sulit. Apalagi mendapatkan kesaksian langsung dari mulut mereka tentang pembunuhan yang dilakukan.

Duterte yang sedang menikmati masa-masa indah sebagai presiden, tampaknya, tidak mau ada pihak lain yang turut campur. Dia memilih mengabaikan seluruh kritik dan teguran. Bahkan, PBB tidak diacuhkan. Dia malah menganggap organisasi terbesar dunia itu rewel. ’’Saya tidak pernah membaca (di media) tentang komentar lembaga bodoh itu terhadap kekejian perang Syria,’’ ketusnya.

Sebagai pemimpin, Duterte mengaku bukan hanya dirinya yang ’’semena-mena’’ terhadap para penjahat narkoba. Dia menyebut mantan Perdana Menteri (PM) Thailand Thaksin Shinawatra sebagai pemimpin lain yang juga tegas terhadap penjahat narkoba. ’’Dia pernah punya program yang sama dan merenggut 3.000 nyawa. Tapi, tidak pernah ada yang menanyakan hal itu kepadanya,’’ keluh Duterte.Di Filipina, menurut dia, ada tiga juta pecandu narkoba. Jika tidak dilawan dengan program supertegas seperti yang digagas, dia yakin jumlah pecandu terus melonjak. ’’Sebagai presiden, saya harus bagaimana? Saya harus melindungi mereka yang lemah dan tidak berdosa. Hukum menyebutkan demikian. Bukan malah melindungi para pelaku kejahatan,’’ tandasnya. (time/AFP/asiatimes/hep/c19/any)

loading...
Click to comment
To Top