Tiga Kali Diperiksa, Andi Taufan Belum juga Ditahan – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

1230x100
Hukum

Tiga Kali Diperiksa, Andi Taufan Belum juga Ditahan

Andi Taufan Tiro

FAJAR.CO.ID, JAKARTA- Anggota Komisi V DPR Andi Taufan Tiro (ATT) kembali menjalani pemeriksaan dalam kasus jual-beli proyek jalan di Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) IX Maluku-Maluku Utara.

“Tersangka ATT diperiksa dalam kapasitasnya sebagai tersangka,” ujar Kepala Bagian Pemberitaan dan Publikasi KPK Priharsa Nugraha.

Politisi yang berjabat Ketua Kelompok Fraksi (Kapoksi) Partai Amanat Nasional (PAN) di Komisi Infrastruktur DPR itu diperiksa selama 8 jam. Ia baru keluar dari gedung KPK pukul 18.00.

Taufan yang mengenakan jaket warna biru muda langsung menuju mobil Honda CRV abu-abu, yang sudah menunggu di depan lobi gedung. Ia eng­gan meladeni pertanyaan awak media mengenai pemeriksaan dirinya. “Silakan tanya ke pe­nyidik ya,” elaknya.

Taufan ditetapkan sebagai tersangka kasus jual-beli proyek jalan di BPJN IX pada 27 April 2016. Berdasarkan catatan, Wakil Sekjen DPP PAN itu su­dah tiga kali dipanggil ke KPK untuk menjalani pemeriksaan sebagai tersangka.

Pemeriksaan pertama di­jadwalkan pada 4 Mei 2016. Sepekan kemudian, KPK kem­bali memanggil Taufan untuk menjalani pemeriksaan pada 12 Mei 2016. Taufan memenuhi panggilan itu. Hingga pemer­iksaan ketiga sebagai tersangka kemarin, Taufan belum juga ditahan.

Priharsa mengakui, penyidik belum memutuskan untuk mena­han Taufan. Penahanan, sambung dia, dilakukan jika tersangka dianggap mempersulit proses pe­nyidikan, dikhawatirkan melari­kan diri atau menghilangkan barang bukti.

Menurut Priharsa, Taufan bersedia menjalani pemerik­saan ketika dipanggil penyidik. Tersangka juga kecil kemung­kinan menghilangkan barang bukti. Beberapa barang bukti perkara ini telah dipakai untuk persidangan tersangka lain.

Beberapa saksi perkara Taufan juga telah memberikan kesaksi­annya di muka pengadilan. Salah satunya, Abdul Khoir, Direktur Utama PT Windhu Tunggal Utama (WTU). Khoir adalah kontraktor yang telah “membeli” proyek Taufan di Maluku.

Di persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Khoir men­gungkap pernah bertemu dengan Taufan di ruang kerja poli­tisi PAN itu di DPR pada awal November 2015. Khoir datang bersama Qurais Lutfi (pejabat BPJN IX) dan Imran S Djumadil, politisi PAN Maluku Utara.

Dalam pertemuan itu, Taufan menyampaikan program aspi­rasinya sudah disetujui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Ia mendapat jatah proyek jalan Wayabula-Sofi dengan nilai Rp 100 miliar.

Kepada Khoir, Taufan me­nawarkan menggarap proyek itu. Namun Khoir harus membayar fee 7 persen dari nilai proyek atau sekitar Rp 7 miliar.

Pada 9 November 2015, Khoir memerintahkan Erwantoro, anak buahnya, menyerahkan uang Rp 2 miliar untuk Taufan lewat Imran. Penyerahan dilakukan di Blok M Jakarta Selatan.

Esok harinya, 10 Novemer 2015, Imran menyerahkan uang itu ke Taufan di belakang kompleks rumah dinas DPR Kalibata.

Pada hari yang sama, Khoir bersama Imran datang ke ruang kerja Taufan di DPR untuk kembali menyerahkan uang Rp 2 miliar.

Selang dua hari, yakni 12 November 2015, Khoir me­merintahkan Erwantoro meny­erahkan uang Rp 2 miliar buat Taufan lewat Jaelani Parrandy. Jaelani adalah staf ahli anggota Komisi V Yasti Mokoagow. Uang diserahkan kepada Jaelani di tempat parkir kantor PT WTU di Melawai Jakarta Selatan.

Ketika bersaksi di pengadilan, Jaelani mengaku menyerahkan uang kepada Taufan di pinggir jalan dekat kompleks rumah dinas DPR Kalibata. (Rmol)

loading...
Click to comment
banner advertise
To Top