Oh Tidak! Ternyata Masih ada Bocah Raksasa di Sidoarjo – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Daerah

Oh Tidak! Ternyata Masih ada Bocah Raksasa di Sidoarjo

104838_819181_yunita
Yunita Mulidia sedang dirawat di rumah sakit. Foto: JPG/Jawa Pos

FAJAR.CO.ID, SIDOARJO – Anak obesitas di Indonesia bertambah. Dia adalah Yunita Mulidia. Tubuh Yunita meraksasa melebihi kawan-kawan seusianya.

Dalam usia 16 tahun, dara asal Desa Grinting, Kecamatan Tulangan, Sidoarjo, itu berbobot 110 kilogram.

Kemarin (7/9) dia dilarikan ke RSUD Sidoarjo.Yunita kini dirawat di Ruang Mawar Kuning RSUD Sidoarjo.

Dia didampingi orang tuanya, Tumiyatun dan Padi. Sebab, selama dua pekan terakhir, Yunita mengeluh tubuhnya sakit.

 ”Yunita gak doyan makan dan ngemil,” kata Tumiyatun.

Bagi sang ibu, aneh jika Yunita enggak doyan makan. Sebab, gadis kelahiran 14 Juni 2000 itu biasanya justru tidak pernah bisa berhenti mengunyah.

Dalam sehari, Yunita bisa makan lebih dari empat kali. Belum lagingemil dan makan di luar sepengetahuan Tumiyatun.

”Anak ini (Yunita, Red) susah dikasih tahu. Makan saya sediakan tiga kali sehari. Diam-diam, dia sudah menyembunyikan makanan di bawah kasur,” katanya.

Mengetahui ada yang berbeda dari kebiasaan anaknya, Tumiyatun langsung membawa Yunita ke Puskesmas Tulangan pada Jumat (2/9).

Kondisi Yunita dengan berat badan 110 kilogram ditambah keluhan sakit di tubuhnya membuat pihak puskesmas langsung merujuknya ke RSUD Sidoarjo.

Tumiyatun mengatakan, Yunita hanya mengeluh badannya sakit semua. Bahkan, Yunita tidak sanggup berjalan lama.

Pernah dicoba berjalan dengan jarak 3 meter, Yunita sudah merasa ngos-ngosan. ”Sik bentar, Bu. Capek,” ucap Tumiyatun menirukan kata-kata Yunita.

Setelah mendapat rujukan dari Puskesmas Tulangan ke RSUD Sidoarjo, Tumiyatun bersama dengan suaminya, Padi, langsung memeriksakan Yunita ke poli penyakit dalam pada Sabtu (3/9). Saat itu Yunita langsung dirontgen. Hasilnya keluar Selasa (6/9).

”Waktu itu kami masih rawat jalan,” ungkapnya.

Kemarin Tumiyatun dan Padi kembali membawa Yunita ke RSUD Sidoarjo. Mereka membawa Yunita dengan menggunakan pikap pinjaman.

Ya, memang butuh perjuangan untuk membawa anak pertama di antara dua saudara tersebut ke rumah sakit. Berat badan 110 kilogram Yunita tidak muat jika diangkut dengan mobil biasa.

 ”Saya naikkan mobil buntung, Mbak. Butuh bantuan banyak orang buat mengangkat anak saya,” jelas Padi yang saat itu di samping Tumiyatun.

Yunita langsung dibawa ke poli penyakit dalam pukul 10.30. Namun, dia langsung dirujuk ke poli jantung.

Yunita ditangani langsung oleh dr Arief Bowo Kurniawan SpJP FIHA, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah RSUD Sidoarjo.

Dugaan awal, Yunita mengalami pembengkakan jantung. Karena itu, remaja tersebut harus dirawat inap untuk diperiksa lebih lanjut.

Dari poli jantung, Yunita harus menunggu antrean kamar. Hingga akhirnya dia mendapat kamar di Ruang Mawar Kuning. Bobotnya yang lebih dari 1 kuintal menyulitkan para petugas medis ketika memindahkannya dari instalasi gawat darurat (IGD).

Sembilan petugas medis ikut membantu mengangkat tubuh besar Yunita. Kondisi Yunita sudah tidak berdaya. Tangan kirinya sudah terpasang infus.

Dia hanya bisa telentang dengan pasrah saat para tim medis mengangkat tubuh Yunita. Tanpa ada penolakan sama sekali dan hanya terdiam sambil melirik-lirik Tumiyatun.

Yunita pun menjadi pusat perhatian seluruh pasien di dalam Ruang Mawar Kuning tersebut.

Bahkan, keluarga pasien yang di luar ruangan pun ikut mendekati Yunita lantaran penasaran dengan berat badan yang tidak normal itu.

Setelah berhasil dipindahkan dari brankar (tempat tidur dorong) kebed, petugas medis langsung mengecek tensi Yunita.

Arief mengatakan, pihaknya baru melakukan pemeriksaan awal. Pembengkakan jantung belum bisa dipastikan. Harus ada observasi lanjutan. Karena itu, Yunita harus diopname. Hari ini gadis tersebut menjalani tes ekokardiografi.

Tujuannya, merekam aktivitas jantung dan melihat kondisinya. Kini tim dokter hanya merawat jantung dan mengevaluasi keseluruhan kondisi pasien. Terutama setelah mengetahui hasil tes ekokardiografi.

”Ini baru hari pertama. Jadi, kami masih belum bisa lebih jelas menceritakan kondisi pasien,” jelasnya. (ayu/c5/c15 /dos/flo/jpnn)

loading...
Click to comment
To Top