Jadi Pengedar Sabu-sabu, Satu Keluarga Reuni di Ruang Sidang – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

1230x100
Kriminal

Jadi Pengedar Sabu-sabu, Satu Keluarga Reuni di Ruang Sidang

keluarga-sabu-sabu

FAJAR.CO.ID, SURABAYA – Reuni keluarga Sanolla sangatlah tidak lazim. Terdakwa pengedar sabu-sabu itu bertemu dengan anak kandung dan menantunya di dalam ruang sidang. Mereka juga menjadi terdakwa dalam kasus yang sama. Bahkan, mereka memberikan kesaksian satu sama lain.

Pertemuan itu terjadi di ruang Cakra Pengadilan Negeri (PN) Surabaya Kamis (15/9). Sanolla duduk di kursi pesakitan berdampingan dengan Anisa Rohmah yang merupakan anak kandungnya.

Mereka memberikan kesaksian untuk Fathurohman yang tidak lain adalah suami Anisa dan menantu Sanolla. Pertemuan ketiganya diagendakan sejak sepekan lalu.

Jaksa Siska Christina mengagendakan pertemuan mereka di dalam ruang sidang untuk saling memberikan kesaksian. Kekompakan satu keluarga itu terlihat sejak keluar ruang tahanan menuju tempat sidang.

Mereka diborgol secara berentengan. Anisa berada di tengah-tengah antara suami dan bapaknya. Kehadiran bapak, menantu, dan istri itu sempat membuat hakim terkejut.

”Kalian satu keluarga?” tanya Sigit Sutanto, hakim yang memimpin persidangan tersebut. Dia langsung menggeleng setelah mendapat kepastian dari jaksa.

Dalam sidang tersebut, Sanolla, Anisa, dan Fathur membeberkan keterlibatan mereka dalam dunia narkoba. Awalnya hanya Sanolla yang berjualan sabu-sabu.

Dia membeli sabu-sabu kepada seorang bandar dan menjualnya lagi secara eceran. Bisnis itu semakin berkembang karena Halimah, istri Sanolla, ikut memasarkannya.

Alasan keterlibatan Halimah, salah satunya, adalah agar pengiriman narkoba bisa aman. Sebab, sabu-sabu yang hendak dikirim ke pelanggan disembunyikan di dalam BH.

Anggapannya, lebih aman karena polisi tidak akan menggeledah sampai ke dalam BH.
Tidak berhenti sampai di situ. Anisa yang saat itu masih berusia 13 tahun juga dilibatkan dalam memasarkan sabu-sabu.

Dia ikut menjadi kurir narkoba setelah Fathur menerima pemesanan narkoba. Sabu-sabu tersebut dikirim melalui Anisa. Caranya sama. Disembunyikan di dalam BH.

”Saya lupa,” ucap Anisa saat ditanya berapa kali dia menjadi kurir. Aktivitas mereka terhenti ketika Fathur dan Anisa tertangkap polisi yang menyamar sebagai pemesan.

Ketika dikembangkan, ternyata sabu-sabu itu kulakan dari Sanolla. Saat menggeledah, polisi juga menemukan Halimah terlibat dalam bisnis tersebut. Akhirnya sekeluarga menjadi tersangka.

Jaksa Siska mengatakan, bisnis narkoba itu memang dijalankan semua anggota keluarga. Halimah pun menjadi terdakwa dalam berkas terpisah.

”Kasusnya sama, tapi tidak terkait. Makanya tidak jadi saksi,” ucapnya. Menurut dia, bisnis tersebut sudah berjalan cukup lama.

Bahkan, Sanolla dan Fathur menjadikan bisnis narkoba sebagai mata pencaharian. Mereka tidak memiliki pekerjaan tetap. Tapi, bisa hidup dari berjualan sabu-sabu.

Dalam sidang terpisah, Sanolla sudah dihukum lima tahun penjara. Begitu pun Halimah. Sedangkan Anisah dihukum tiga tahun penjara.

Tinggal Fathur yang baru menghadapi tuntutan dalam sidang berikutnya. ”Kasus-kasus yang lain sudah berkekuatan hukum tetap,” ucapnya. (eko/c7/dos/sep/JPG)

loading...
Click to comment
Fajar.co
To Top