Modal Ikan Hias Murah, Hamzan Sukses Raih Omzet Rp 50 Juta per Bulan – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

1230x100
Ekonomi & Bisnis

Modal Ikan Hias Murah, Hamzan Sukses Raih Omzet Rp 50 Juta per Bulan

CREATOR: gd-jpeg v1.0 (using IJG JPEG v62), quality = 90

FAJAR.CO.ID MATARAM – Memulai bisnis hanya berjualan ikan harga lima ribuan, Hamzan Mulyadi kini bisa membeli tanah bernilai ratusan juta.

Badannya kurus, cenderung ceking. Tatapan matanya sayu. Seolah tak ada yang spesial dari sosok Hamzan Mulyadi sebagai seorang pebisnis muda beromzet puluhan juta perbulan.

Setiap harinya Hamzan selalu berkutat dengan sejumlah akuarium mini, plus ember dan ikan yang sudah ada dalam plastik.

Tingkahnya tenang dan tak banyak bicara. Sesaat kemudian satu demi satu orang berdatangan ke tempat usahanya. Mereka adalah pembeli setia ikan yang dijualnya. Ya, pria 30 tahun itu adalah penjual ikan hias.

Jalan Majapahit dan Udayana adalah dua kawasan tempatnya biasa mangkal. Dengan gayanya yang sangat biasa, ia tak ubahnya PKL lain yang sedang mencari peruntungan.

Harga ikannya pun sangat murah. Hanya dengan Rp 5.000 saja, sebuah ikan jenis maskoki sudah bisa diperoleh pembeli.

Namun siapa sangka, dengan ikan berharga murah itu, ia bisa meraup omzet hingga Rp 50 juta per bulan. Itulah yang membuat dia berani mempekerjakan dua karyawannya.

Bermodal keuntungan bersih pada kisaran belasan juta, ia sebenarnya masuk kategori pengusaha muda yang sukses.

Memulai berjualan ikan sejak 2008, ia kini bisa membeli sejumlah kendaraan roda dua dan empat.

Pria asli Yogyakarta itu juga sudah memiliki sejumlah aset tanah bernilai ratusan juta rupiah.

BACA:  Tahun Depan, Go-Jek Bisa Bernilai USD 1 Miliar

“Alhamdulillah, dari ikan yang sangat murah bisa hidup,” katanya terkekeh.

Bagi Hamzan, ketekunan adalah kunci keberhasilan. Hanya berstatus lulusan SMA, ia tak memiliki bekal apapun untuk memulai bisnis.

Jangankan modal, pengetahuan juga sangat minim. Bahkan nihil. Namun berbekal tekad dan kemauan, ia meneguhkan hati.

Bisnisnya ia mulai dengan mengirim ikan dari Tulungagung.  Kala itu harus berhutang uang.

Belajar otodidak, belajar dari kesalahan, belajar sambil langsung melakukannya adalah langkah yang dipilih.

Hasilnya? Jelas tak langsung sukses. Pernah satu waktu semua ikan kiriman mati. Itu karena  hujan yang mengguyur sehingga membuat kandungan dalam air berubah.

Rugi, sudah tak terhitung. Namun ia menolak menyerah. Dia sejak awal yakin, bisnis ikan yang tak banyak digeluti orang prospeknya cerah. Jatuh bangun sudah dirasakan.

Mencari untung lebih, ia juga pernah mencoba langsung membudidayakan di Mataram.

Namun iklim yang tak cocok, kandungan air yang juga tak pas, membuatnya rugi besar.

Lagi-lagi itu bukan lantas membuatnya tutup buku dan menyerah. Ia terus bangkit setiap terjatuh.

Dengan semangat yang berlipat, ia mengambil pelajaran untuk tak diulangi lagi.

“Banyak kesialan dan cobaan, tapi saya pantang menyerah,” ujarnya memberikan tips.

Kini, dia makin mantap dengan bisnisnya. Siap mengembangkan sayap terus menancapkan kekuatan di pasar Mataram. Ia ingin semakin banyak omset yang diraih. (Wahyu P, Mataram/jpnn/Fajar)

loading...
Click to comment
banner advertise
To Top