Impor 60 Ribu Happy Five, WNA Dituntut 15 Tahun Penjara – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

banner-oktober
Kriminal

Impor 60 Ribu Happy Five, WNA Dituntut 15 Tahun Penjara

chen-yung-lin

FAJAR.CO.ID, SURABAYA – Awalnya Chen Yung Lin biasa saja saat jaksa Nurlaila menyebutkan tuntutan hukuman selama 15 tahun penjara. Tuntutan tersebut dibacakan dalam sidang Selasa (20/9) di Pengadilan Negeri Surabaya.

Ekspresi wajahnya mendadak berubah saat Vivi, penerjemah, menjelaskan isi tuntutan yang dibacakan jaksa. Pria asal Taiwan itu pun tertunduk lesu.

Dalam tuntutannya, jaksa dari Kejati Jatim menyatakan bahwa perbuatan terdakwa terbukti melanggar pasal 112 ayat 1 Undang-Undang Narkotika dan pasal 61 ayat 1 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika.

”Terdakwa terbukti tanpa hak memiliki dan menyimpan narkotika golongan I dan mengimpor psikotropika tanpa ada izin impor,” kata jaksa.

Dia menjelaskan, terdakwa terbukti melanggar dua pasal sekaligus. Yaitu, kepemilikan enam butir ekstasi dan mengimpor 60 ribu butir pil happy five yang termasuk psikotropika.

Bukan hanya itu. Yung Lin diharuskan membayar denda Rp 1 miliar yang bisa diganti dengan hukuman selama enam bulan kurungan. Kepada Vivi, terdakwa mengungkapkan bantahannya.

Dia menolak disebut sebagai pemilik. ”Itu saja. Dia tidak banyakngomong,” ucapnya.
Rencananya, Yung Lin mengajukan pembelaan yang dibacakan dalam sidang pekan depan.

Hanya, pembelaan itu diserahkan kepada pengacaranya. Sebab, terdakwa tidak tahu apa yang harus disampaikan dalam pembelaan.

Yung Lin ditangkap polisi pada 23 Januari 2016 di depan Kantor Pos Kebon Rojo karena mengimpor psikotropika. Impor itu dilakukan dengan mengirimkan teh hijau dari Tiongkok ke Surabaya melalui pos.

Setelah digeledah, kemasan teh hijau tersebut ternyata berisi psikotropika yang jumlahnya mencapai 40 ribu butir.

Dari temuan itu, petugas melakukan pengembangan di kamar kos terdakwa di Metro House, Jalan Dukuh Kupang.

Saat menggeledah di kamar 510, petugas menemukan lagi pil happy five sebanyak 20 ribu butir. Psikotropika itu juga disamarkan dalam kemasan teh hijau.

Narkoba dan psikotropika tersebut dikirim dari Tiongkok ke Surabaya dengan alamat tujuan kamar kos yang disewa terdakwa. Dia menyewa kamar kos itu sebulan sebelum penangkapan.

Rencananya, obat-obatan terlarang tersebut diserahkan ke temannya yang bernama Ali. Sampai sekarang, Ali masih dalam daftar pencarian orang (DPO) alias buron.

Sementara itu, dalam ruang sidang yang sama, hakim juga menyidangkan perkara narkoba. Terdakwanya adalah Dian Luspitasari.

Broker valas itu ditangkap polisi di Apartemen Puncak Bukit Golf karena menggunakan sabu-sabu. Dalam sidang, Dian mengaku menggunakan barang haram tersebut seorang diri.

Polisi menjadikan sabu-sabu yang tersisa di dalam pipet sebagai barang bukti. ”Dia murni pengguna. Bukan pengedar. Jadi, seharusnya direhabilitasi,” ucap Budi Sampurno, pengacara Dian. (eko/c7/fal/sep/JPG)

loading...
Click to comment
Fajar.co
To Top