Kok Bisa Hakim Berbeda Pendapat Atas Eksepsi La Nyalla – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Hukum

Kok Bisa Hakim Berbeda Pendapat Atas Eksepsi La Nyalla

La Nyalla Mattalitti

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Majelis Hakim Pengadilan Tipikor Jakarta berbeda pendapat (dissenting opinion) terhadap nota keberatan (eksepsi) yang diajukan mantan Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur, La Nyalla Mahmud Mattaliti.

“Mengadili, menolak eksepsi terdakwa La Nyalla Mahmud Mattalitti. Kedua menyatakan dakwaan telah disusun secara tepat dan cermat sehingga tidak melanggar hukum, tiga memerintahkan jaksa penuntut umum untuk melanjutkan perkara,” kata Ketua Majelis Hakim Sumpeno saat membacakan putusan sela di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (22/9).

Sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Surabaya mendakwa La Nyalla merugikan keuangan negara sebesar Rp 27 miliar dan memperkaya diri sendiri sebesar Rp 1,1 miliar terkait dana hibah Kadin dari Pemprov Jawa Timur pada 2011-2014.

Atas dakwaan itu, La Nyalla dan tim kuasa hukumnya mengajukan nota keberatan (eksepsi) lantaran menilai dakwaan penuntut umum tidak cermat dan terdapat kecacatan hukum.

Dalam eksepsinya, tim kuasa hukum menilai La Nyalla tidak dapat didakwa dalam perkara korupsi dana hibah Kadin Jawa Timur. La Nyalla juga tidak dapat ditetapkan sebagai tersangka karena penetapan dilakukan tanpa diperiksa terlebih dahulu.

Selain itu, tiga putusan praperadilan telah menyatakan bahwa penyidikan terkait bantuan dana hibah Kadin Jawa Timur dinyatakan tidak sah.

Namun, majelis hakim yang terdiri atas Sumpeno, Baslin Sinaga, Anwar, Mas’ud, dan Sigit Hernawan tidak sependapat dengan tim penasihat hukum La Nyalla.

Hakim Sigit menyatakan, eksepsi yang diajukan tim penasihat hukum sudah masuk ke dalam pokok perkara yang akan dibuktikan dalam persidangan. Selain itu, Sprindik dan penetapan tersangka La Nyalla tidak pernah dipersoalkan.

“Pengajuan dakwaan dapat dibenarkan karena bukti tidak harus dari pemeriksaan calon tersangka, tapi dari bukti lain sehingga penuntutannya bisa dilanjutkan,” kata Hakim Sigit.

Namun, putusan sela tidak diambil dengan suara bulat. Ketua majelis hakim Sumpeno dan hakim anggota Baslin Sinaga mengajukan dissenting opinion.

Keduanya berpendapat dakwaan JPU tidak dapat diterima sehingga eksepsi dikabulkan. Dalam pertimbangannya, dua hakim itu berpendapat bahwa dalam beberapa praperadilan sudah jelas menyatakan bahwa penyidikan perkara La Nyalla tidak sah.

“Beberapa putusan praperadilan di Pengadilan Negeri Surabaya sudah jelas menyatakan bahwa penyidikan perkara tindak pidana korupsi bantuan dana hibah yang diterima Kadin Jatim yang digunakan untuk pembelian IPO bank Jatim tahun 2012 atas nama La Nyalla Mahmud Mattalitti berikut penetapan tersangkanya dinyatakan tidak sah,” kata hakim Baslin.

Alasan lain adalah karena putusan praperadilan itu dikeluarkan Pengadilan Negeri Surabaya yang merupakan pengadilan negara. Oleh karena itu, putusan hakim apalagi sudah mempunyai kekuatan hukum tetap harus dihormati oleh siapapun.

Karena terjadi dissenting opinion dan tidak terjadi mufakat, maka putusan sela diputuskan secara aklamasi dengan suara terbanyak. Eksepsi pun ditolak seutuhnya dan sidang dilanjutkan dengan pemeriksaan saksi. (put/JPG)

loading...
Click to comment
To Top