Kenalkan, Eni Lestari Asal Kediri, TKW yang Pidato di PBB New York – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Ragam

Kenalkan, Eni Lestari Asal Kediri, TKW yang Pidato di PBB New York

Foto: Youtube

FAJAR.CO.ID, ENI Lestari, warga Kediri yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Hongkong, menggemakan nama Indonesia di gedung PBB New York. Berikut laporan wartawan Jawa Pos FIRZAN SYAHRONI dari New York.

——
PENAMPILAN Eni Lestari terlihat mungil di antara para peserta sidang Majelis Umum PBB.

Tapi, saat menceritakan kiprahnya di dunia advokasi buruh migran, suaranya terdengar lugas dan mantap.

Bahasa Inggrisnya cukup lancar. Namun, logat Jawanya tak bisa disembunyikan.

’’Mungkin karena sering bergaul dengan buruh migran dari negara lain, saya jadi lancar berbahasa Inggris,’’ ujar Eni saat ditemui Jawa Pos di Hotel AKA United State, New York, Rabu sore (21/9) waktu setempat.

Eni memang benar-benar menjiwai profesinya sebagai buruh migran.

Sebab, dia adalah seorang TKW (tenaga kerja wanita) yang kini bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT) di Hongkong.

Eni tidak malu mengakui profesinya itu. Dia justru merasa bangga karena bisa menyuarakan aspirasi teman-teman sesama buruh migran di depan Sidang Umum PBB di New York, Amerika Serikat.

Seperti kisah kelam para TKI lain, Eni juga sempat mengalami pahitnya perjalanan hidup.

Dia berasal dari keluarga miskin di Kabupaten Kediri, Jawa Timur.

Penghasilan orang tuanya sebagai pedagang kecil sangat pas-pasan.

Karena itu, pendidikan Eni terpaksa terhenti hanya sampai lulus SMA. Orang tuanya tidak memiliki biaya untuk memasukkan Eni kuliah di perguruan tinggi.

Cukup lama menganggur, setelah lulus SMA, Eni akhirnya memutuskan untuk merantau ke negeri orang menjadi TKI. Saat itu, pada 1999, usianya sudah 22 tahun.

Eni pun mendaftar sebagai TKI Hongkong di sebuah PJTKI (perusahaan jasa tenaga kerja Indonesia) di kotanya.

Alih-alih mendapat pelatihan yang memadai untuk bekal bekerja di luar negeri, dia justru mulai merasakan beratnya menjadi buruh migran sejak namanya terdaftar di PJTKI.

Misalnya, Eni tidak pernah mendapat pelatihan bahasa asing dan keterampilan seperti yang dijanjikan PJTKI.

Yang terjadi, dia justru merasa disekap di tempat penampungan. Komunikasi dengan pihak luar, termasuk keluarganya, sangat dibatasi.

“Kami saat itu benar-benar pasrah, tidak berdaya, seperti dicuci otak. Hanya menerima perlakuan tidak manusiawi dari PJTKI,” kata sulung tiga bersaudara itu.

Derita hidup Eni berlanjut. Paspor yang akan dipakainya untuk bekerja ditahan agen penyalur tenaga kerja.

Bahkan, ketika Eni minta izin untuk pulang, agen malah memintanya membayar uang tebusan Rp 2 juta.

“Saat itu uang segitu sangat besar. Saya tidak mampu membayarnya,” katanya.

Setelah lima bulan tidur beralas kasur gulung tipis di tempat penampungan, Eni akhirnya diberangkatkan ke Hongkong.

Di sana, kehidupannya tidak terus membaik. Sebab, majikan Eni memperlakukannya dengan buruk. Gajinya sering dipotong.

“Saya hanya dibayar 50 persen dari upah seharusnya,” katanya.

Eni juga tidak boleh libur selama 4 bulan. Majikannya menerapkan banyak aturan yang diskriminatif.

Tidak boleh memakai mesin cuci, mengepel lantai harus memakai tangan, bahkan perkakas makan Eni harus dipisah dari milik majikan. Eni juga sering dipaksa memakan daging babi.

“Sudah saya jelaskan bahwa saya muslim, tidak makan babi. Tapi, majikan tidak mau memahami,” tuturnya.

Eni pun kemudian melapor ke agen penyalur, tapi dia selalu diminta untuk bersabar.

Akhirnya, dia merasa tidak kuat lagi. Setelah tujuh bulan bekerja, dia memutuskan untuk kabur dari rumah majikannya.

Eni kemudian ditampung di sebuah selter bernama Bethune House. Di sanalah dia bertemu banyak buruh migran yang senasib.

Eni lalu mulai belajar banyak hal, termasuk soal hak dan kewajibannya sebagai buruh migran.

Dia menyadari, perlindungan kepada para buruh migran sangat minim.

“Kalau terjadi sesuatu, kami tidak tahu harus mengadu ke mana. Kami benar-benar merasa disisihkan dan diabaikan,” katanya.

Pada 2000, Eni dan rekan-rekannya mendirikan Asosiasi Buruh Migran Indonesia di Hongkong.

Sejak itulah kiprah Eni di dunia buruh migran dimulai. Dia juga menjalin komunikasi dengan asosiasi buruh di negara-negara lain.

Sejak itu Eni sering diundang menjadi pembicara di berbagai forum.

Jam terbangnya yang tinggi mengantarkannya terpilih sebagai ketua International Migrants Alliance (IMA).

IMA merupakan aliansi global yang menghimpun migran dan pengungsi di 32 negara.

IMA dikenal aktif membawa suara migran dan pengungsi di berbagai forum regional dan internasional.

Aktivitas Eni dkk akhirnya terdengar juga hingga ke gedung PBB. Setelah melalui seleksi ketat, Eni dipilih sebagai salah satu pembicara dalam sidang Majelis Umum PBB di New York, Senin (19/9). Eni mengaku tidak menyangka bisa tampil di sidang Majelis Umum PBB.

“Sebab, saya tahu PBB adalah organisasi yang susah diakses orang-orang seperti saya,” ungkapnya.

Eni semula menduga bahwa dirinya hanya diminta tampil dalam forum-forum kecil semacam side event atau acara diskusi round table.

Tapi, ternyata dia didapuk untuk menyampaikan testimoni sebagai aktivis buruh migran internasional di hadapan 1.900 peserta sidang dari 162 negara.

“Kebanyakan yang datang presiden atau pejabat menteri luar negeri,” tuturnya.

Hebatnya, berpidato di depan ribuan tokoh penting itu, Eni tidak terlihat nervous.

Dia justru menganggapnya sebagai momentum untuk menyampaikan masalah buruh migran.

Eni membutuhkan waktu dua minggu untuk menyiapkan naskah pidato spesial tersebut.

Dia mengonsep bahan awalnya, lalu disebar ke teman-temannya sesama buruh migran.

’’Ini bukan hanya tentang saya atau Indonesia. Karena itu, saya ingin ada masukan dari teman-teman lain di seluruh dunia,’’ paparnya.

Memang, materi pidato Eni bukan hanya soal buruh migran. Ada pula masalah human trafficking dan pengungsian.

Ada pengalaman lucu saat Eni tampil di panggung PBB. Sebelum Eni, podium itu diisi pembicara dari negara lain yang bertubuh tinggi besar.

Nah, saat giliran Eni berbicara, panitia lupa menyiapkan level khusus untuk Eni yang bertubuh relatif mungil.

Akibatnya, mulut Eni tidak sampai ke mik. Wajahnya juga tidak terlihat penuh dari depan.

Menyadari hal itu, Eni akhirnya memutuskan untuk berpidato sambil berjinjit.

“Jadi, selama 3 menit berpidato, saya harus jinjit terus. Biar suara saya bisa masuk ke mik,” katanya, lantas tertawa.

Setelah Eni turun dari podium, panitia meminta maaf. Meski demikian, pidato Eni mendapat sambutan positif dari para peserta.

Saat Eni turun dari podium, tepuk tangan pun bergema di ruang sidang PBB. (*/c5/ari/Jpnn/fajar)

Eni Lestari

Tempat Lahir: Kediri, Jawa Timur

Umur: 39 Tahun

Status: Belum Menikah

Pendidikan: SMA

Pekerjaan: PRT di Hongkong

Sejak: 1999-Sekarang

Aktivitas: Advokasi Buruh Migran

Jabatan: Chairperson International Migrant’s Aliance (IMA)

loading...
Click to comment
To Top