Ini 7 Fakta di Balik Penangkapan Dimas Kanjeng. Libatkan Ratusan Ulama Hingga Banker Uang Triliunan – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Kriminal

Ini 7 Fakta di Balik Penangkapan Dimas Kanjeng. Libatkan Ratusan Ulama Hingga Banker Uang Triliunan

KASUS PEMBUNUHAN: Dimas Kanjeng Taat Pribadi saat ditangkap tim gabungan Polda Jatim, kemarin.  radar bromo
kanjeng dimas, kaos ungu

Beberapa hari belakangan publik digegerkan dengan penangkapan guru besar padepokan Dimas Kanjeng Tata Pribadi yang dikenal sebagai orang yang memiliki kemampuan menggandakan uang. Namun Dimas Kanjeng ditangkap pada Kamis (22/9) lalu lantaran diduga terlibat pembunuhan dua santrinya.

Kini, dia menjadi penghuni rumah tahanan Mapolda Jawa Timur. Banyak hal menarik tentang ditangkapnya pria yang pernah menggegerkan publik dengan videonya yang tengah bergelimpangan uang.

Berikut 7 fakta menarik dibalik tertangkapnya Dimas Kanjeng:

 

1. Polisi mengerahkan ribuan personel untuk mengkap Dimas Kanjeng. 

Polisi tak sembarangan menggelar operasi untuk membekuk Dimas Kanjeng. Butuh strategi khusus untuk menciduknya dari padepokan di RT 22, RW 08, Dusun Sumber Cengkelek, Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo. Ya, Dimas Kanjeng dikenal sebagai sosok dengan ratusan, bahkan ribuan pengikut setia. Para pengikutnya pun disebut santri.

Dalam penangkapan itu, Polda Jatim harus menurunkan 1.782 personel yang dipimpin langsung Wakapolda Jatim Brigjen Pol Gatot Subroto. Pasukan terdiri atas 400 personel Polres Probolinggo dan 1.382 personel polda.

Berangkat pukul 23.00 dari Polda Jatim, pukul 01.00 pasukan tiba di Kabupaten Probolinggo. Mereka berkumpul di lapangan Desa Wangkal, Kecamatan Gading. Tepat pukul 08.00, penggerebekan yang berakhir dengan penangkapan Dimas usai.

2. Melibatkan ratusan ulama

Tak hanya melibatkan ribuan pasukan. Pihak kepolisian juga melibatkan para ulama dan ketua ormas di Kabupaten Probolinggo saat menggerebek Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi kemarin (22/9) di RT 22, RW 08, Dusun Sumber Cengkelek, Desa Wangkal, Kecamatan Gading.

Para ulama Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nahdlatul Ulama (NU), dan Muhammadiyah berperan penting dalam menenangkan ribuan santri Dimas Kanjeng Taat Pribadi.

Sejumlah pengurus teras MUI Kabupaten Probolinggo terlibat langsung dalam penggerebekan tersebut. Yakni, Ketua Umum K.H. Munir Kholili, Sekretaris Umum K.H. Syihabuddin Sholeh, dan Sekretaris Yasin. Selain mereka, ada Ketua PC NU Kraksaan K.H. Achmad Suja’i, Ketua PD Muhammadiyah Kabupaten Probolinggo Muhammad Fadhol, dan Ketua Al-Irsyad H. Ahmad Banawir.

3. Mayat-mayat Mr X di Jawa Timur

Kapolda Jatim Irjen Anton Setiadji menyatakan, tersangka mengakui perbuatannya sejak berada di dalam kendaraan taktis yang membawanya ke Surabaya dari padepokannya di Probolinggo. Pengakuan tersebut kemudian dituangkan dalam berkas pemeriksaan penyidikan kasus itu.

Orang nomor satu di jajaran kepolisian di Jatim tersebut menambahkan, polisi masih menyelidiki kemungkinan adanya korban lain yang dihabisi Taat dan anak buahnya. Sebab, di Jatim banyak temuan mayat. “Mayat itu tanpa identitas. Masih diselidiki lagi,” ucapnya.

 

4. Bunker dan uang 1 triliun setinggi manusia

Sejak Dimas Kanjeng ditangkap, polisi menerima banyak informasi terkait aktivitas rahasia yang selama ini dilakukannya. Salah satunya, keberadaan bunker di sejumlah tempat. Bunker itu disebut-sebut sebagai tempat menyembunyikan uang.

Beredar informasi, ada uang tersangka yang dititipkan kepada seseorang di Jakarta. Nilainya mencapai Rp 1 triliun. “Semua info-info ini masih kami dalami,” imbuh Anton.

Soal aset, itu penting karena sejumlah foto dan bukti menunjukkan adanya uang berpeti-peti lebih dari Rp 1 triliun. Ada tumpukan uang setinggi manusia. Jika benar, bisa jadi itu merupakan penipuan individual terbesar yang pernah dilakukan. Jumlahnya mungkin lebih tinggi dibanding pembobolan Bapindo oleh Eddy Tansil senilai Rp 1,3 triliun.

 

5. Motif Dimas Kanjeng menghabisi dua santrinya

Dimas Kanjeng ditangkap lantaran diduga sebagai otak pembunuhan Ismail Hidayah dan Abdul Ghani, yang merupakan anggota padepokan. Ada beberapa versi motif mengapa Dimas Kanjeng menghabisi dua anggotanya itu.

Yang pertama, tersangka diduga menghabisi dua korban terkait aktivitasnya di padepokan. Korban merupakan koordinator pengepul uang dari korban yang ingin menggandakan uang. Korban juga bertitel salah satu sultan yang ditunjuk Dimas Kanjeng.

Korban mengetahui duit yang digandakan itu tidak bisa cair sesuai janjinya. Karena itu, dia berencana melaporkan dan membongkar aktivitas tersebut. Rencana itu terdengar sampai ke telinga Dimas Kanjeng. Korban kemudian dipanggil dengan dalih akan dipinjami uang. Saat dipanggil itulah, korban dihabisi.

Sementara itu, Kabidhumas Polda Jatim Kombes Pol Raden Prabowo Argo Yuwono menjelaskan, penetapan tersangka Dimas Kanjeng lantaran dia diduga sebagai otak pembunuhan mantan anggota padepokan, Abdul Ghani yang motifnya adalah persaingan bisnis di padepokan yang berupa perekrutan santri.

Menurut dia, Abdul Ghani telah merekrut melebihi jumlah santri yang sudah direkrut Taat Pribadi. Diduga, Taat Pribadi takut kalah pamor.  Dengan begitu, dia menghubungi Abdul Ghani ke padepokan. Di tempat itu, Abdul Ghani dihabisi.

 

6. Wajah tokoh nasional di rumahnya

Sementara itu, berdasar data yang dihimpun Jawa Pos, Dimas Kanjeng berusaha menunjukkan kedekatannya dengan tokoh nasional. Tujuannya, calon korban percaya bahwa dia dekat dengan tokoh elit. Hal tersebut terlihat saat polisi menggerebek padepokannya pada Kamis (22/9).

Di ruang tamu di rumahnya, terpajang sederet foto dengan pejabat tinggi negara. Antara lain, mantan Kapolri Jenderal Purn Badrodin Haiti, Jaksa Agung M. Prasetyo, Gatot Nurmantyo, dan lain-lain. Dalam keterangan foto, gambar itu diambil di istana negara. Dimas Tata terlihat mengenakan jas lengkap dengan dasi.

7. Para santri bertahan di tenda dan ikhlaskan uang mahar

Beberapa hari setelah guru besar Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi ditangkap polisi, ternyata ratusan santri yang berasal dari berbagai daerah seluruh Tanah Air masih tetap bertahan di sekitar padepokan yang terletak di Probolinggo. Orang-orang setia Dimas Kanjeng ini tinggal di tenda-tenda yang dibuat secara sederhana. Para santri ini mengaku setia menunggu guru besarnya kembali ke padepokan.

Tenda-tenda yang terbuat dari terpal plastik, dihuni ratusan santri Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi, yang terletak di Dusun Cengkelek, Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo.

Agung salah satu santri dari Purwakarta misalnya, pria pensiunan dari BUMN ini mengaku senang menjadi santri Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi.

Bahkan saat disinggung soal uang mahar yang jumlahnya tidak sedikit, Agung yang sudah 4 tahun menjadi santri ini mengaku ikhlas. “Uang tersebut merupakan bentuk perjuangan santri untuk padepokan,” kata Agung. (eko/c5/ano/pul/mas)

loading...
Click to comment
To Top