Wah, Ada Makam Keluarga Edwin Van Der Sar di Surabaya – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Daerah

Wah, Ada Makam Keluarga Edwin Van Der Sar di Surabaya

makam-leluhur-edwin-van-der-sar-di-surabaya

FAJAR.CO.ID, SURABAYA – Ruang tamu Eddie Emanuel Samson tampak berantakan. Buku-buku, album foto, dan lembaran koran berbahasa Belanda terlihat bertumpuk kemarin (23/9). Pria yang menjadi sleutel bewaarder alias juru kunci Makam Peneleh itu akhirnya menemukan benda yang dicarinya.

”Nah, ini lho makam keluarga Edwin van der Sar,” ucapnya sambil menunjukkan foto berukuran 3R yang warnanya sudah memudar.

Nama Van der Sar sangat dikenal sebagai mantan kiper timnas Belanda sekaligus legenda Manchester United, Edwin van der Sar. Apakah ada hubungan kekeluargaan? Eddie meyakini ada. Anak keturunan Belanda yang lahir menyandang nama keluarga dari bapaknya. ”Saya yakin ada hubungan keluarga,” ujar kakek 82 tahun itu.

Dalam foto tersebut diketahui terdapat tiga nama orang yang dimakamkan dalam satu liang. Yaitu, A.A. van der Sar, J.G. van der Sar, dan H.J. van der Sar. Tertulis pula tanggal pemakaman, 17 September 1934. Pemakaman satu liang dilakukan mengingat pada 1916 lahan makam seluas 4,5 hektare sudah penuh.

Soal nama belakang, Eddie mencontohkan dirinya sendiri. Nama Samson yang didapatnya berasal dari nama ayahnya, yaitu Johanes Alexander Samson. Ibunya berasal dari Manado, yaitu Femina Koraag Pontoh. Nama tersebut melekat secara otomatis. ”Van der Sar ini bisa saja kerabat kakek atau buyut pemain bola itu,” ungkap pria yang fasih berbahasa Belanda tersebut.

Setelah membahas Van der Sar, Eddie mencari berkas lainnya. Kali ini dia mencari kartu nama. Kartu nama tersebut merupakan milik salah satu ahli waris makam. Setelah menemukannya, dia menunjukkan nomor telepon dan e-mail yang bisa dihubungi. Dalam kartu itu tertera nama Ted Braakman. Braakman kali terakhir datang pada Maret 2015.

Setelah dihubungi, Braakman merespons melalui aplikasi media sosial. Karena terdapat perbedaan waktu 6 jam, Braakman baru bangun ketika dihubungi. Jawa Pos menghubungi Braakman pada pukul 12.30. Saat ditanya soal Van der Sar, dia menyatakan bisa saja.

Karena sudah setahun tidak bertemu, Eddie meminta kesempatan untuk menelepon. Karena koneksi sinyal sulit, keduanya pun mengobrol melalui pesan suara. Mereka saling menanyakan kabar dan rencana Braakman datang ke Indonesia. ”Mungkin Mei atau Maret saya ke Surabaya,” ujar pria tersebut.

Tahun ini Braakman tidak bisa berkunjung karena sibuk. Pria yang menjadi dosen di Erasmus University Rotterdam tersebut juga menjadi konsultan pajak. Akhir tahun ini dia merencanakan kunjungan wisata bersama istri dan anak-anaknya.

Braakman menerangkan, dirinya menjadi ahli waris lima makam dengan nama keluarga Aspeling dan Canter Visscher. Keluarganya meninggal pada 1860-1900. Seluruh anggota keluarganya kembali ke Belanda tepat pada tahun Persebaya berdiri, 1927. ”Di sana makam buyut-buyut saya,” papar pria yang datang ke Surabaya bersama Joke Braakman dan Frank Sukel pada 2015 itu.

Dia menerangkan, letak makam keluarganya tidak jauh dari gerbang pintu masuk. Dia berharap makam-makam tersebut tidak dibongkar. Sebab, kondisinya masih bagus. ”Saya harap makam yang bagus tetap dirawat,” ujarnya.

Jawa Pos kemudian mengiriminya peta rencana revitalisasi Makam Peneleh. Makam-makam yang berada di pinggir sangat mungkin dihancurkan untuk pembangunan taman bermain,urban farming, parkir, hingga pasar. 

Dia beruntung karena makam-makam keluarganya berada di lokasi yang agak tengah. ”Kalau petanya seperti itu, saya sangat senang. Makam keluarga saya masuk area yang dipertahankan,” jelasnya.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya Agus Iman Sonhaji menerangkan, rencana pembangunan tersebut bakal diusulkan pada tahun anggaran 2017. Tetapi, pembangunan tersebut memerlukan waktu dan kajian lebih lanjut. ”Pelaksanaannya bertahap,” ujar mantan kepala Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (DCKTR) Surabaya tersebut.

Dia menerangkan, yang berwenang mengelola Makam Peneleh adalah dinas kebersihan dan pertamanan (DKP). Ada usul mengenai pembentukan lembaga khusus yang menangani perombakan Makam Peneleh. Baik dari Belanda maupun Indonesia. Namun, Agus menyatakan belum ada rencana untuk membentuk lembaga khusus. ”Nanti teman-teman DKP yang mengomunikasikannya,” katanya.

Koordinator Internasional Korporasi Kementerian Pendidikan, Budaya, dan Ilmu Pengetahuan Belanda Jean Paul Corten menerangkan, pihaknya siap membantu Pemkot Surabaya dalam upaya menghidupkan kembali Makam Peneleh. Dia sangat mengharapkan adanya komunikasi.

”Pemerintah Belanda akan menunggu pesan dari Pemkot Surabaya,” tegas Corten melalui surat elektronik yang dikirimkan kepada koran ini kemarin. (fajar/jpg)

loading...
Click to comment
To Top