HEBOH! Warga Disini Tiba-tiba Jadi Beringas dan Serang Orang Seperti Zombie – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Kriminal

HEBOH! Warga Disini Tiba-tiba Jadi Beringas dan Serang Orang Seperti Zombie

zombie

ISTILAH “kampung zombie” menjadi viral di sosial media belakangan ini. Bagaimana tidak, beberapa remaja di lingkungan itu bak zombie akibat penyalahgunaan lem kayu dan alkohol cair. Bahkan mereka bisa menyerang warga di sekitarnya secara tiba-tiba.

 

OLEH: Bagus Arya Susanto, Samarinda

PEMBAHASAN hangat tentang kampung “zombie” membawa saya menelusuri lingkungan RT 14, Kelurahan Mangkupalas, Samarinda Seberang, Rabu (28/9). Terik matahari yang menyengat siang kemarin, tak menyurutkan niat mencari markas para remaja yang memiliki hobi menyalahgunakan berbagai benda sebagai alat untuk mabuk-mabukkan.

Bermodalkan informasi warga, langkah kaki mengarah ke sebuah gang tanpa nama. Tak jauh dari Pasar Uka di sebelah Jalan Manunggal. Tepatnya sebelum tikungan pertama di ujung Jalan Pattimura. Situasi di gang yang belum tersentuh semenisasi itu sekilas terlihat biasa saja. Beberapa bocah berusia kurang dari 8 tahun bermain bersama di samping rumah sederhana.

Tepat di ujung gang, terdapat bangsalan lima pintu yang berdiri di atas rawa dengan kondisi kurang terawat. Bangunan berbahan kayu dan beratap seng itu terlihat sangat rapuh. Beberapa bagian depannya rusak. Hanya dua pintu di bagian ujung yang dihuni.

Rapuhnya bangunan itu disinyalir menjadi alasan kuat mengapa bangsalan itu sampai sekarang kurang diminati. Situasi itu diperparah dengan lingkungan yang kumuh. Bagian depan rumah bangsalan justru dijadikan tempat sampah. Berbagai barang ditumpuk. Sementara, rawa di bawah bangunan menjadi sarang berbagai macam hewan menjijikkan.

Setelah sekilas memerhatikan kawasan itu, tanda-tanda mengenai markas “zombie” semakin jelas.

Menurut informasi, “para zombie” menjadikan kamar ke dua dari kanan bangsalan itu sebagai tempat ngumpul. Karena bangsalan nomor tiga dan keempat sudah dipalang menggunakan kayu.

Saat mengamati bangunan itu, seorang bocah membuat saya kaget. Bocah itu tiba-tiba menepuk paha saya dan langsung bertanya. “Cari siapa?,” katanya. Tanpa basa basi pun, saya menjelaskan tujuan saya ke lokasi tersebut. “Kalau kakak-kakak yang ngumpul di rumah itu sekarang agak kurang om. Biasanya ramai,” tuturnya bocah berusia sekitar 5 tahun itu sembari menunjuk ke kamar nomor dua.

Rasa penasaran mendadak muncul. Kaki pun melangkah ke depan pintu kamar nomor dua setelah melewati jembatan panggung berbahan kayu ulin dengan panjang sekitar dua meter. Ternyata kamar itu kosong. Pintu utamanya pun tidak terkunci.

Setelah berada di depan pintu bercat putih, dan membuka engsel tanpa gembok, saya pun melangkah masuk dengan sangat pelan untuk melihat kondisi dalam kamar itu. Di ruang depan, sebuah kardus kemasan lemari es terampar. Disinyalir kardus itu digunakan sebagai alas para remaja untuk baring tatkala mereka merasa mabuk akibat menenggak minuman keras racikan, atau aroma lem kayu yang mereka hirup.

Rumah sewaan itu pun terasa pengap. Maklum, nyaris tidak ada ventilasi di kamar itu. Jendela bagian yang menjadi akses keluar masuknya udara tidak pernah terbuka sejak lama.

Langkah kaki terus berjalan sampai ke ruang tengah. Di sana, ada sebuah pintu rapuh yang disenderkan ke dinding kamar. Tak jauh dari tempat itu, terdapat plastik berisikan lem kering serta kaleng kemasan lem yang berserakan berhamburan. Diduga, ruangan ini digunakan para remaja sebagai tempat mengonsumsi miras racikan dan menghirup lem kayu.

Rasa penasaran pun semakin membuncah. Saya pun menarik pintu yang disandarkan di dinding kamar. Lagi-lagi kemasan lem, plastik hingga botol alkohol cair berkadar 70 persen bersembunyi di lantai tepat di balik pintu rapuh itu. Sinar matahari yang menembus beberapa lubang di atap rumah menjadi pencahayaan satu-satunya di ruang itu.

Puas mengamati bagian tengah, saya menuju bagian dapur markas “zombie”. Di ruang ini tidak ada yang spesial. Karung bekas berisikan sisa-sisa plastik dan kemasan makanan tergantung di dinding kamar mandi. Spanduk bekas terhampar di lantai sebagai alas untuk mereka beristirahat.

Langkah kaki selama di ruangan itu ternyata membuat seorang ibu rumah tangga (IRT) bernama Nurhayani, yang tinggal di kamar nomor satu keluar. Saat saya keluar dari pintu kamar tersebut, wanita 38 tahun itu sudah berada di depan dengan wajah penuh curiga. “Ngapain masuk ke sini?,” tanyanya sinis.

Saya pun menjelaskan maksud dan tujuan kepada ibu lima anak tersebut. Beruntung, wanita berbaju lusuh itu mendengarkan apa yang saya sampaikan. Akhirnya obrolan mengenai aktivitas di rumah sewaan tersebut pun mengalir. Ternyata, wanita yang akrab disapa Yani ini adalah pemilik rumah sewaan itu itu. “Memang selama kosong, kamar itu sering digunakan anak-anak ngelem dan mabuk-mabukan,” katanya dengan nada lirih.

Obrolan pun semakin hangat. Sembari menyuapi anak bungsunya yang masih berusia sekitar 2 tahun, Yani memberikan penjelasan mengenai aktivitas para remaja yang menggunakan rumah sewaan itu sebagai lokasi untuk melakukan hal-hal yang kurang wajar.

“Sebenarnya sudah saya sering tegur, tapi tidak mempan. Mereka tetap saja datang. Kalau nggak lewat depan, mereka lewat pintu belakang,” ulasnya dengan nada lantang.

Para remaja yang masuk ke rumah sewaan dengan kondisi bugar akan keluar dengan pandangan kosong hingga sempoyongan bak zombie. Beberapa dari mereka juga, menurut Yani, terkadang tertidur di dalam rumah itu lantaran mabuk berat. “Saya tidak bisa menghubungi polisi karena tidak punya hp (handphone, Red),” paparnya.

Sebagai pemilik rumah sewaan, Yani tidak kuasa membendung ulah para remaja nakal itu. Selain sering mengintimidasi dengan berbagai cara, Yani juga mengaku nyaris menjadi korban aksi brutal mereka belum lama ini. “Ni lihat pintu saya jebol. Itu mereka yang pukul waktu mengejar saya karena nggak terima ditegur. Saya nggak tahu harus berbuat apa,” kata Yani sembari memperlihatkan kondisi pintu rumahnya.

Yani seakan pasrah dengan kondisi itu. Apalagi, saat ini dia hanya tinggal seorang bersama tiga anaknya yang masih kecil setelah bercerai dengan suaminya. Makanya saat para “zombie” itu datang, dia memilih diam dan mengajak anak-anaknya masuk ke dalam rumah agar tidak menjadi sasaran amuk mereka. “Bukan mengancam dan menganiaya saja, mereka mengancam mau menyakiti saya pakai ilmu hitam. Saya jadi takut,” ujarnya.

Warga sekitar pun seakan menyerah dengan tingkah laku para remaja tersebut. Ketimbang ribut hanya lantaran persoalan yang tidak jelas, sebagian besar warga yang tinggal di lingkungan itu memilih tutup mata.

Disinyalir, tradisi ngelem hingga menenggak miras oplosan sudah jadi rutinitas sejak beberapa tahun lalu. Hal itu terlihat dari banyaknya plastik berisikan lem hingga kaleng lem, serta kemasan botol alkohol cair yang berserakan di lingkungan itu.

Ketua LPM Kelurahan Mangkupalas, Rusdiansyah Rais sebenarnya sedikit keberatan dengan istilah “kampung zombie” yang disematkan untuk lingkungan itu. Walau demikian, dia tidak memungkiri juga aktivitas menyimpang para remaja terpusat di lokasi tersebut.

“Tapi untuk kebaikan, istilah kampung zombie saya kira tidak jadi masalah untuk sementara waktu. Asalkan ada jalan untuk memperbaiki kondisi ini,” kata Rusdi.

Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Karang Taruna Mangkupalas ini menyebut, aktivitas para remaja itu tak hanya di rumah kosong tersebut. Bukit yang lokasinya hanya berjarak sekitar 100 meter dari bangsalan milik Yani juga menjadi markas besar mereka. Menurut Rusdi, mereka memanfaatkan bagian bawah pohon besar sebagai lokasi menghirup aroma lem untuk menghindari warga.

“Bukit itu namanya Mangkuliat. Waktu saya ke sana, saya lihat ada tujuh sampai delapan titik bekas lokasi mereka ngelem. Itu dibuktikan dengan bekas plastik maupun botol alkohol yang mereka buang,” ujarnya.

Rusdi menyebut, ada alasan mendasar mengapa mereka menggunakan bukit tersebut untuk menyalahgunakan lem dan alkohol. Selain jauh dari warga, para “zombie” ini juga lebih mudah kabur jika petugas ingin membekuk mereka. “Jadi seperti pos pantau begitu. Karena dari atas, mudah melihat ke bagian bawah,” ulasnya. (*/nha)

loading...
Click to comment
To Top