Menpar Arief Yahya Dorong Entrepreneurship di Wisuda STP Nusa Dua – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Budaya & Pariwisata

Menpar Arief Yahya Dorong Entrepreneurship di Wisuda STP Nusa Dua

NUSA DUA –  Menteri Pariwisata Dr Ir Arief Yahya M.Sc bangga dengan reputasi “zero unemployment” lulusan STP Nusa Dua Bali, saat mewisuda 603 lulusan di Gedung Joop Ave STPNB, 29 September 2016. Dari jumlah itu, 230 lulusannya, atau 38,14% di antaranya sudah bekerja di industri Pariwisata, sehingga punya masa tunggu 0 bulan. Sisanya, hampir pasti sudah terserap di dunia pekerjaan yang terkait dengan kepariwisataan.
Di Wisuda XXII itu, selain mengantongi ijazah, para wisudawan dan wisudawati juga memperoleh sertifikat kompetensi yang diterbitkan oleh Lembaga Sertifikasi Pihak Pertama (LSP P1) STP Nusa Dua Bali. Sertifikat itulah yang penting sebagai jaminan kepada pengguna tentang kemampuan dan kompentensi mereka. Itu akan mempermudah industri di dalam rekrutmen tenaga kerja lulusan Sekolah Tinggi yang dikelola Kementerian Pariwisata ini.
Bukan Arief Yahya kalau tidak selalu memberi tantangan baru bagi mahasiswa dan lulusan STPNB. Bagi Mantan Dirut PT Telkom ini, terserap ke bursa lapangan kerja itu prestasi bagus, yang harus dipertahankan. Bahkan dinaikkan persentasenya. “Akan istimewa jika 10% dari lulusan STPNDB ini menjadi entrepreneur, berwirausaha,” kata Menpar yang lahir di Banyuwangi itu.
Menjadi entrepreneur di sector pariwisata itu, lanjut dia, bisa menaikkan remunerasi atau pendapatan mereka. Juga bisa mendorong terciptanya lapangan pekerjaan baru, yang menjadi salah satu concern pemerintah. “Saya akan bantu, mencarikan jalan keluar, jika problemnya terkait dengan akses ke lembaga perbankan untuk modal,” kata Arief Yahya.
Mengapa harus berani mengambil risiko sebagai entrepreneur? Pertama, pemerintah semakin jelas dan tegas arah kebijakannya, yakni mendorong pariwisata sebagai sektor prioritas. Karena itu, ke depan industri yang terkait dengan sector ini, akan mendapat angin untuk tumbuh berkembang lebih pesat. “Ini momentum yang tepat untuk berwirausaha. Kalau dulu orang menyebut industry itu ada migas dan non migas, kelak akan menjadi Pariwisata dan non pariwisata,” ungkapnya.
Kedua, pariwisata masuk dalam kategori cultural industry, yang ke depan bakal menjadi primadona di gelombang keempat revolusi industri. Gelombang pertama, era agriculture atau pertanian. Lalu gelombang kedua, manufacturing, pabrik, mekanisasi. Gelombang ketiga teknologi informasi. “Sekarang kita sudah memasuki gelombang keempat, creative industry. Pariwisata berada di sini,” ungkap Menpar Arief Yahya.
Ketiga, Menpar mengingatkan bahwa dalam era persaingan SDM ke depan itu, siapa yang cepat akan menyalip yang lambat, bukan yang besar mengalahkan yang kecil. Karena itu, persiapkan diri dengan go digital dan technology friendly. “Jika ingin bersaing di pasar global, gunakan selalu global standart. Bangsa kita mampu dan bisa bersaing di sana,” sebut Arief Yahya yang didampingi Deputi Kelembagaan dan SDM Prof Ahman Sya itu.
Seperti diketahui, di bawah Deputi Ahman Sya itu ada STP Bandung, STP Bali, Poltek Makassar, Akpar (Poltek) Medan, yang baru Poltek Pariwisata Lombok di NTB dan Poltek Pariwisata Palembang Sumsel. “Kami terus mengejar target 20 juta wisman di tahun 2019, dengan menyiapkan lulusan-lulusan yang siap bersaing di burna tenaga kerja industry Pariwisata,” sebut Ahman Sya.
Ketua STP Nusa Dua Bali, DGN Byomantara menjelaskan, terserapnya lulusan di pasar tenaga kerja pariwisata di luar negeri membuktikan bahwa kualitas lulusan STP Nusa Dua Bali memiliki daya saing secara internasional. Institusi ini telah disejajarkan dengan lembaga pendidikan kelas dunia melalui akreditasi Tedqual oleh Themis Foundation UNWTO. Pengakuan dunia juga diberikan City and Guilds London. “STP Nusa Dua Bali telah menjadi City and Guilds Centre yang dapat melaksanakan sertifikasi kualifikasi yang diakui di Eropa dan Australia,” kata Byomantara.
STP Nusa Dua Bali juga telah menjalin kerjasama dengan berbagai penyalur tenaga kerja di luar negeri, di antaranya: “PT Sukamulia Mandiri Agung, yang menawarkan kesempatan bekerja di Australia untuk 80 orang chef. Lalu PT Bali Duta Mandiri, dengan program J-1 menawarkan bekerja di hotel berbintang di Amerika Serikat. Juga CTI Group Indonesia yang membantu menyalurkan lulusan untuk bekerja di kapal pesiar,” kata Byomantara.
STPNB, kata Byo –panggilan akrab Byomantara– tetap berkomitmen untuk mendukung upaya pengembangan pariwisata nasional, sehingga dilakukan kerjasama dengan berbagai industri perhotelan di Bali, Jawa timur, Lombok, Jawa Timur, dan wilayah-wilayah lainnya di seluruh Indonensia. Tentu untuk memenuhi kebutuhan tenaga terampil di bidang pariwisata, travel dan hospitaliti. “Juga mendukung program Kemenpar mengembangkan 10 destinasi pariwisata unggulan, khususnya Mandalika dan Labuan Bajo,” tuturnya.
Tahun 2016 ini, lanjut Byo, STP Nusa Dua Bali menginiasiasi dan mendirikan Politeknik Pariwisata Lombok, dengan membuka empat Prodi dan telah menerima 120 mahasiswa untuk menyiapkan kebutuhan SDM Pariwisata yang kompeten bagi Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, khususnya pada level supervisor dan pimpinan menengah.
Byo menyampaikan ucapan terimakasih kepada partner kerja, seperti Industri pariwisata, pengerah tenaga kerja yang telah mempercayai alumni bergabung dalam menyiapkan lapangan kerja serta tempat training. Dia juga berterima kasih kepada Ikatan Orang Tua Mahasiswa (IOM) yang selalu menjadi partner serta memberikan masukan-masukan yang konstruktif bagi perkembangan STPNB. “Para alumni juga sangat berkontribusi dalam membimbing dan memberikan jalan adik-adiknya agar mampu berkarir dengan baik dikemudian hari,” ungkapnya. (*)

DATA WISUDA XXII 2016
Rata-rata Indeks Prestasi Kumulatif)      : 3,34 (Tahun lalu 3,3)
Rata-rata Masa Studi S-1 dan D-4            : 4 tahun 2 Bulan 26 hari (Tahun lalu 4 Tahun 5 Bulan).
Rata-rata Masa Studi D-3              : 3 Tahun 1 Bulan (Tahun lalu 3 Tahun 5 Bulan).

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top