SADIS ..!!!, Santri Dimas Kanjeng Mati Dilakban, Ini Kronologisnya – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Kriminal

SADIS ..!!!, Santri Dimas Kanjeng Mati Dilakban, Ini Kronologisnya

52903_71732_dimas-kanjeng-padepokan

FAJAR.CO.ID SURABAYA – Dua santri Padepokan Dimas Kanjeng yang menjadi korban pembunuhan karena persoalan pencairan uang hasi penggandaan, ternyata mati dengan cara yang sadis.

Kesadisan itu terungkap saat para eksekutor suruhan Dimas Kanjeng Taat Pribadi jadi pemeran rekonstruksi saat membunuh Abdul Gani.

Reka ulang aksi pembunuhan yang dilakukan di beberapa lokasi di Padepokan Dimas Kanjeng, Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Probolinggo kemarin (3/10), terlihat korban tewas seusai dipukul dan dijerat dengan tali bagian lehernya.

Dalam rekonstruksi tersebut, ada 5 tersangka yang dihadirkan untuk memperagakan 74 adegan terbunuhnya Gani.

Mereka adalah Wahyu Wijaya, Kurniadi, Wahyudi, dan Ahmad Suryono. Tak ketinggalan, dalang di balik aksi pembunuhan tersebut, Dimas Kanjeng, juga dipulangkan ke ‘istana’nya untuk sementara agar proses rekonstruksi berjalan dengan baik.

Ada sekitaran 15 adegan penting yang ditandai dalam rekonstruksi pembunuhan Gani pada 13 April lalu.

Diantaranya proses terbunuhnya Gani yang dilakukan oleh tiga tersangka yakni, Wahyu Wijaya, Kurniadi, dan Boiron.

Juga bagaimana sosok Muryat Subianto, yang kini masih DPO, turut merenanakan proses pembunuhan tersebut.

Reka ulang dimulai sekitar pukul 10.00 WIB polisi meminta tiga pelaku, Wahyu, Kurniadi, dan Boiron menunjukkan bagaimana ketiganya membagi tugas dalam mengeksekusi Gani.

Rekonstruksi itu dilakukan di Asrama Putra Padepokan Dimas Kanjeng yang menjadi TKP pembunuhan itu.

Gedung Asrama Putra sendiri banyak digunakan untuk ruang rapat para sultan dan tempat istirahat mereka.

Bangunan berlantai dua itu cukup megah dibandingkan bangunan di sekitarnya. Letaknya tepat di samping timur rumah dari Dimas Kanjeng.

Nah, dalam rekonstruksi kemarin, hanya lantai 1 saja yang digunakan. Tepatnya ruang tamu.

Sebab, di ruangan itu Wahyu Wijaya, Kurniadi, dan Boiron (DPO) membunuh Gani. Dengan cara dipukul dan dicekik.

Eksekusi Dimulai

Reka ulang itu terlihat Kurniadi yang memulai eksekusi pada korban sekitar pukul 08.00.

Dia bertugas memukul bagian belakang korban dengan pipa besi saat akan menerima uang pinjaman sebesar Rp 130 juta dari Wahyu Wijaya.

Gani tersungkur ke lantai, dan Kurniadi langsung menguncinya dengan menindih tubuh korban.

Di sini Boiron ambil alih. Dengan tali parasit yang sudah dipersiapkan, dia mencekik leher Gani dari atas ke arah depan.  Dia juga sempat menutup wajah korban dengan kresek warna biru.

Gani yang sudah dalam keadaan sekarat langsung dihabisi oleh Wahyu WIjaya. Yakni dengan melakban kepala korban dari leher hingga hidung.

Lakban itu sudah disipakan dan disimpan di atas lemari ruangan itu.

Adegan yang lain, sebelum masuk ke dalam mobil, tersangka Wahyu Wijaya masih sempat menelanjangi tubuh Gani.

Mayat mantan sultan (gelar dari Dimas Kanjeng) itu juga dimasukkan dalam container plastic .

Lantas, jenazahnya dimasukkan dalam mobil avanza hitam yang dikendarai oleh Rahmad Dewaji. Lantas dibuang di Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri, Jawa Tengah.

Sementara itu, reka ulang itu juga menghadirkan secara langsung Rahmad Dewaji, salah satu tersangka yang masih jadi anggota aktif di TNI-AU.

Dengan penjagaan ketat dari pasukan TNI, Rahmad Dewaji didatangkan sebagai saksi dalam kasus rekonstruksi kemarin.

Seperti yang dijelaskan oleh Kepala Penerangan Lanud Abdurahman Sholeh Mayor Hamdi Londong. Dia membenarkan dalam reka ulang tersebut tersangka hanya datang sebagai saksi.

Tapi dalam BAP TNI-AU. Rahmad Dewaji sudah ditetapkan sebagai tersangka.

“Untuk sanksinya kita lihat penyelidikan lebih dulu. Yang jelas dia anggota aktif di bagian Pertahanan Pangkalan,” katanya.

Semenjak Rahmad ditangkap, Londong menjelaskan sudah memeriksa beberapa anak buahnya di kesatuan.

Ditemukan ada 5 orang termasuk Rahmad Dewaji yang merupakan pengikut setia dari Dimas Kanjeng.

“Ini kami akan data lagi, kalau memang masih ada bakal kita berikan pembinaan lebih lanjut,” bebernya.

Kabidhumas Polda Jatim Kombespol Raden Prabowo Argo Yuwono mengatakan reka ulang itu awalnya hanya ada 67 adegan saja.

Karena kondisi di saat reka ulang terjadi, akhirnya adegan tersebut berkembang menjadi 74.

“Ada beberapa hal memang yang baru ditemukan di sini, jadi adegan yang sudah disusun sebelumnya dikembangkan lagi,” terangnya.

Misalnya, saat Dimas Kanjeng memberikan sejumlah uang ke orang kepercayaannya bernama Pi’i.

Uang itu rencananya akan diberikan kepada Wahyu Wijaya sebagai iming-iming agar Gani mau datang ke padepokan

Atau juga saat tersangka Rahmad Dewaji duduk di pojok pendopo Padepokan Dimas Kanjeng, dalam berkas rekonstruksi tidak dijelaskan hal tersebut.

Padahal, Rahmad Dewaji menunggu kedatangan Gani saat itu. Ini menjadi sentral saat jadi pengemudi mobil avanza yang membuang mayat Gani ke Wonogiri. (Fajar/Jpnn)

loading...
Click to comment
To Top