Sadis! Seminggu Minum Air Pemberian Kanjeng Dimas, Tewas Mengenaskan – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Kriminal

Sadis! Seminggu Minum Air Pemberian Kanjeng Dimas, Tewas Mengenaskan

CREATOR: gd-jpeg v1.0 (using IJG JPEG v62), quality = 90

FAJAR.CO.ID, Salah satu keluarga korban Kanjeng Dimas Taat Pribadi mendatangi Mapolres Pelabuhan Tanjung Perak, pada senin (4/10).

Kedatangan itu, guna melaporkan dugaan penipuan yang dilakukan di padepokan Taat Pribadi. Mereka juga turut sertakan berbagai barang bukti pemberian Dimas Kenjeng. Diketahui korbannya bernama Kasianto yang meninggal pada Maret 2015 silam. Selama menjadi pengikut, Korban telah menyetor Rp 300 juta.

Keluarga korban yang menyambangi Mapolres, masing-masing bernama Gunarsih, istri; Slamet Pramono, kakak ipar, dan Wisnu Sunarsono, kakak kandung. 

Slamet Pramono mengatakan, Kasianto meninggal seminggu setelah kunjungan terakhirnya ke padepokan Dimas Kanjeng di Desa Wangkal, Gading, Probolinggo, Jatim. 

Sebelum mengeluh sakit dan meninggal, Ka­sianto mengaku meminum segelas air pemberian Dimas Kanjeng.

Pramono menceritakan, awalnya keluarga tidak tahu bahwa Kasianto menjadi pengikut Dimas Kanjeng. Sejak ikut pada 2012, Kasianto baru mau bercerita dua tahun kemudian. Yang mengenalkan Kasianto dengan Dimas Kanjeng adalah anak buahnya di kantor. “Kami tahu setelah dia minta-minta uang ke istrinya,” cerita Pramono kepada Jawa Pos. 

Setelah itu, Kasianto mulai mendapat tentangan dari keluarga. Banyak yang mengingatkannya bahwa penggandaan uang yang dilakoni sang guru hanya tipu-tipu. Namun, Kasianto tetap bergeming. Meski saat itu hartanya mulai terkuras, dia tetap loyal kepada Dimas Kanjeng.

Dimas Kanjeng, rupanya, juga tak kehabisan akal agar pengikutnya tetap setia. Kasianto diberi tongkat komando berwarna ke­emasan dan surat notaris. Dimas Kanjeng menahbiskan Kasianto sebagai koordinator untuk Surabaya.

Muslihat itu, tampaknya, memperteguh hati Kasianto. Berulang-ulang keluarganya menentang. Bahkan, hampir setiap hari terjadi cekcok antara dia dan keluarga. Apalagi ketika Kasianto justru berusaha mengajak keluarganya yang lain.

Lama-lama keluarganya hanya pasrah. Hampir setiap pekan Kasianto pergi pulang Surabaya-Probolinggo. Ketika sampai rumah, dia selalu terlihat letih. Tak jarang pula sampai sakit demam. “Kami akhirnya diam. Sebab, selama ini dia sering bantu keluarga,” imbuh Pramono.

Proses meninggalnya warga Tambak Asri XV, Surabaya, itu pun berlangsung cepat. Awal Maret dia pulang dari padepokan Dimas Kanjeng. Dia sempat bercerita diberi air dalam gelas kecil. Berdasar penuturan Kasianto kepada keluarganya, air itu dilabeli zamzam. Air tersebut harus diminum sebagai syarat untuk membuka kotak yang dijanjikan menghasilkan uang berlipat ganda.

Namun, sebelum sempat membukanya, Kasianto mulai limbung. Hanya berselang seminggu, dia menunjukkan gejala-gejala aneh. Jarinya biru-biru, kukunya menghitam. Dia juga muntah darah. Tidak lama setelah dibawa ke rumah sakit, dia meninggal.

Ciri-ciri itu mirip dengan yang dialami Najemiah, korban asal Makassar, Sulawesi Selatan, yang telah menyetor uang Rp 200 miliar. Sebelum meninggal, dia meminum air pemberian Dimas Kanjeng. Meski sebelumnya telah sakit, namun sebelum meninggal, Najemiah juga menampakkan ciri-ciri seperti itu. 

Yakni, kuku menghitam dan muntah darah. “Setelah minta obat ke sana (Dimas Kanjeng, Red) dan dikasih air, malah muntah darah dan kuku menghitam,” ujar Akbar Faisal, anggota DPR yang juga masih famili Najemiah. Akbar ikut mendampingi keluarga Najemiah melaporkan kasus tersebut ke Polda Jatim beberapa hari lalu.

Dalam kasus Kasianto, dia sebelumnya tidak pernah sakit serius. Namun, ketika dibawa ke dokter saat sakit setelah meminum air pemberian Dimas Kanjeng, dia didiagnosis menderita kanker. “Dokter marah karena kami terlambat membawa ke rumah sakit. Dia (Kasianto, Red) divonis kanker paru-paru stadium empat,” papar Pramono.

Mendengar penjelasan dokter, keluarga korban heran. Sebab, Kasianto tidak pernah memiliki riwayat penyakit paru-paru. Saat itu sebenarnya keluarga sudah merasa janggal dengan kematian Kasianto. Mereka juga mencurigai Dimas Kanjeng.

Pramono mengakui bahwa pihaknya sempat malu dan takut melapor. Namun, setelah muncul pemberitaan besar-besaran penangkapan Dimas Kanjeng, mereka memberanikan diri. “Selain agar korban yang lain berani melapor, kami ada niat untuk melaporkan kematian (Kasianto) yang tidak wajar,” ungkapnya.

Kini, kata Pramono, harta Kasianto sudah terkuras habis. Perhiasan-perhiasan yang didapat dari Dimas Kanjeng ternyata pal­su. Sedangkan kotak yang katanya akan memunculkan uang ternyata kosong. Sampai akhir hayatnya, uang Kasianto tidak pernah berlipat ganda. Hartanya habis dan tidak pernah kembali.

Kapolres Tanjung Perak AKBP Takdir Mattanete mengatakan, polisi siap menerima laporan warga yang merasa menjadi korban penipuan Dimas Kanjeng. Dia mengimbau masyarakat tidak perlu takut melapor ke polisi. “Silakan saja lapor ke polres-polres terdekat. Ini sudah perintah Polda Jatim,” tegasnya. 

loading...
Click to comment
To Top