Mengejutkan, Awal Padepokan Dimas Kanjeng Ternyata Dimulai Dari Sini – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Kriminal

Mengejutkan, Awal Padepokan Dimas Kanjeng Ternyata Dimulai Dari Sini

padepokan-dimas-kanjeng

FAJAR.CO.ID PROBOLINGGO – Padepokan Dimas Kanjeng Tata Pribadi ternyata hanya berawal dari musala kecil di sudut desa kecil Probolinggo, Jatim yang hanya bisa menampung 20-an orang pada 2006.

Tidak lebih luas dari sebuah langgar yang ada di kampung. Namun, dituturkan Sekretaris Urusan Program Padepokan Dimas Kanjeng Hermanto, seiring tersebarnya kabar kesaktian Dimas Kanjeng Taat Pribadi, makin banyak pula pengikutnya.

Hingga penangkapan Dimas Kanjeng 22 September lalu, pengikut padepokan diklaim mencapai 23 ribu orang.

Kawasan yang tadinya dihuni puluhan orang itu, kini berubah bak bumi perkemahan di Cibubur.

Betapa tidak, terdapat sedikitnya 74 pondok beratap tenda-tenda terpal di lahan 4 ribu meter persegi yang dihuni ribuan pengikut pa­depokan itu.

Ada yang dibangun dengan arsitektur tradisi Bali dan ada yang dimodel seperti pondok bambu.

Dulu, tenda-tenda itu bisa menampung 6 ribu pengikut yang menantikan pencairan uangnya yang digandakan.

Berdasar penelusuran, padepokan berkembang tidak dari uang gaib yang didatangkan Dimas Kanjeng dalam satu malam, melainkan dibangun tahap demi tahap.

Seperti halnya pengembangan organisasi massa yang bertumpu pada banyaknya pengikut.

Para pengikut setia Dimas Kanjeng yang hingga kini bertahan di tenda-tenda mengaku tidak akan meninggalkan padepokan bila tidak ada perintah dari guru spiritual mereka.

“Saya tidak akan pergi sebelum ada perintah gaib dari guru saya,” kata Nasrudin, warga asal Indramayu yang sudah beberapa bulan tinggal di kompleks padepokan.

Di padepokan itu, ada dua lapangan yang menjadi lokasi tenda-tenda tersebut, yang satu masih di-police line, dekat dengan rumah Dimas Kanjeng.

Seluruh aktivitas para pengikut padepokan pun dipusatkan di deretan tenda di lapangan kedua.

Di tempat itulah sekitar 3 ribu orang “mondok” sementara sambil menunggu pencairan uangnya yang digandakan di padepokan.

Sebagai pemondokan sementara, tempat itu juga dilengkapi fasilitas umum yang bisa dipakai untuk keperluan sehari-hari penghuninya.

Ada kamar mandi dan WC, masjid besar, serta toko koperasi yang menjual aneka kebutuhan hidup. Ada pula warung makan/kopi yang tersebar di sudut-sudut kompleks.

Menariknya, padepokan juga menyediakan tempat fitness dan panggung hiburan. Mungkin itu dimaksudkan untuk membunuh waktu selama menunggu pencairan uang yang dijanjikan.

Maklum, para pengikut yang berdatangan dari berbagai daerah tidak hanya sehari dua hari tinggal di padepokan, melainkan bulanan.

Bahkan, ada yang sampai tahunan. Bergantung kesabaran dan kesetiaan mereka terhadap “ajaran” yang diberikan guru mereka, Dimas Kanjeng.

Kini, seiring ditangkapnya Dimas Kanjeng, sudah banyak pengikutnya yang meninggalkan tenda-tenda untuk kembali ke daerah masing-masing.

Hanya sekitar 200 orang yang paling loyal yang masih menunggu kedatangan Dimas Kanjeng di padepokan. (Fajar/Jpg)

loading...
Click to comment
To Top