Pak Gubernur, Masa Tega Atlet Penyumbang Emas Ini Jadi Tukang Ojek – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Daerah

Pak Gubernur, Masa Tega Atlet Penyumbang Emas Ini Jadi Tukang Ojek

mohammad-yamin-rahayaan

FAJAR.CO.ID AMBON – Masa depan atlet di Indonesia ternyata masih jauh dari kata sejahtera.

Terbukti, tak semua atlet berprestasi di Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX/2016 Jawa Barat memiliki nasib bagus dalam kehidupan sehari-hari.

Salhsatunya atlet kempo asal Maluku, Mohammad Yamin Rahayaan, yang sepulang dari Jabar harus kembali mengais rezeki menjadi tukang ojek.

Padahal, senyum semringah tampak dari wajah Rahayaan usai pengalungan medali pada pertandingan hari terakhir cabang kempo di PON XIX/2016 di GOR Sasana Budaya Ganesa (Sabuga) ITB, Kota Bandung, beberapa waktu lalu.

Yamin menjadi pahlawan terakhir Maluku yang menyumbang medali emas di multievent empat tahunan itu.

Pria kelahiran Maluku Tenggara (Malra) 25 Maret 1989 ini meraih emas di kelas 70 kg.

Raihan satu medali emas pada pertandingan hari terakhir menambah koleksi sumbangan medali Maluku menjadi 7 emas, 3 perak dan 9 perunggu.

Namun, Rahayaan mengaku kebingungan saat ditanya tentang masa depannya setelah usai Pekan Olahraga Nasional XIX/2016 Jabar.

Nasibnya tak semoncer prestasinya. Wakil Maluku itu kini hanya menjadi seorang tukang ojek di seputaran pantai Pos Bula.

Padahal, anak pertama dari lima bersaudara ini telah menorehkan prestasi yang luar biasa bagi daerah ini.

Pada ajang Pra PON dan PON Riau 2012 silam, ia berhasil menyumbang medali emas dan tahun ini, prestasi serupa berhasil ia torehkan.

Rahayaan mengaku, prestasi yang dia raih di pelbagai level kompetisi olahraga karena rasa cinta terhadap tanah kelahirannya, Maluku. Sayang, perhatian dari pemerintah sangat minim.

Banyak mantan atlet yang hingga kini hidup terlunta-lunta. Mereka yang berprestasi belum punya pekerjaan.

“Kami tidak ingin cerita ini menimpa atlet yang meraih prestasi di PON yang beru berakhir beberapa hari lalu,” ujar Yamin Rahayaan kepada Ambon Ekspres (Fajar Group).

Anak tertua dari pasangan Sarafudin Ulima (Alm) dan Asiyah mengaku tidak tahu harus kemana setelah PON tuntas.

“Saya ini cuma tukang ojek. Setelah berhasil meraih emas di PON, saya akan kembali ojek lagi karena tak tahu harus kemana. Jujur, saya sangat bingung dengan nasib yang saya alami saat ini,” beber dia.

Atlet yang kini bermukim di Kota Bula, Seram Bagian Timur ini berharap agar pemerintah bisa membantu dirinya dan teman-teman seperjuangan (atlet yang lain) untuk bekerja.

“Saya berharap agar nanti ada kejelasan bagi masa depannya. Maklum, saya anak yang tertua, jadi harus menjadi tumpuan keluarganya. Saya tidak tahu lagi mau berbuat apa. Yang jelas, untuk kebutuhan sehari-hari, saya harus ojek,” ungkap alumni SMA Negeri 1 Bula ini.

loading...
Click to comment
To Top