Hukuman Mati Menanti si Pemerkosa yang Masukan Gagang Cangkul – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Ragam

Hukuman Mati Menanti si Pemerkosa yang Masukan Gagang Cangkul

FAJAR.CO.ID TANGERANG – Dua terdakwa pembunuh sadis remaja putri Eno Parinah, Imam Afriadi dan Rahmat Arifin jalani persidangan  di Pengadilan Negeri Tangerang, Rabu (5/10).

Sidang dengan agenda dakwaan jaksa itu dipimpin Majelis Hakim, M Irfan Siregar.

Dalam dakwaannya, M Iqbal Hadjarati, salah seorang Jaksa Penuntut Umum (JPU) membacakan kronologis saat Rahmat Arifin memasukkan gagang cakul ke kemaluan korban.

Sebelumnya, terdakwa Rahmat Arifin sempat menyetubuhi korban selama dua menit.

Setelah menyetubuhi, terdakwa memasukkan cangkul pada kemaluan korban hingga mengeluarkan darah dan mengenai tangan terdakwa.

Sebelumnya, terdakwa juga melukai muka korban dengan garpu yang sudah dibawanya dari rumah dan melukai dada korban hingga luka parah.

“Atas pemeriksaan dan tidakan tersebut, korban mengalami memar di mata kiri dan kanan, di kelopak atas dan bawah, luka terbuka di pipi kiri, patah tulang pipi, luka gores di beberapa bagian pipi, luka gigitan leher dan dada, puting kiri dan kanan bekas gigitan,” ungkap Iqbal dalam dakwaan.

Dalam dakwaan disebutkan, akibat penganiayaan itu juga menyebabkan kemaluan korban rusak, pendarahan yang hebat serta patah rongga panggul, sobek pada perut, hati, usus dan patah tulang rusuk.

Atas tindakannya itu, Iqbal menjelaskan bahwa terdakwa melanggar pasal 340 subsider pasal 338 subsider 351 ayat 3 dan pasal 258 KUHP dengan hukuman maksimal mati, seumur hidup dan paling ringan 20 tahun.

“Tiga terdakwa berkomplot untuk memperkosa dan menganiaya Eno secara sadis. Maka di sini kami kenakan pasal pembunuhan berencana, di situlah yang memberatkan,” jelasnya seperti dikuti Tangerang Ekspres (Jawa Pos Group), Kamis (6/10).

Sementara itu, kuasa hukum terdakwa, Sunardi dan timnya merasa keberatan atas dakwaan JPU.

Dengan itu, tim kuasa hukum akan mengajukan eksepsi atas dakwaan pembunuhan berencana. Karena menurutnya, peristiwa itu bukan direncanakan, tapi tiba-tiba sesaat di lokasi kejadian.

“Ini kan baru bacaan dakwaan saja, nanti kedepan baru kami lakukan penolakan dalil-dalil yang tidak sesuai dengan fakta,” jelasnya.

Sidang kasus Eno akan dilanjutkan pekan depan, pada 12 Oktober mendatang. Agenda yang akan disidangkan pembacaan eksepsi dari kuasa hukum terdakwa. (Fajar/Jpg)

loading...
Click to comment
To Top