Ini Jawaban Nurhadi Saat Ditanya Soal Duit Rp 3 M dari Bos Lippo Group Eddy Sindoro – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Hukum

Ini Jawaban Nurhadi Saat Ditanya Soal Duit Rp 3 M dari Bos Lippo Group Eddy Sindoro

Sekretaris Mahkamah Agung (MA) Nurhadi Abdurrachman usai memenuhi panggilan di gedung KPK, Jakarta, Selasa (24/5/2016). Nurhadi diperiksa sebagai saksi terkait pengusutan kasus dugaan suap pendaftaran peninjauan kembali (PK) di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.--Foto: Imam Husein/Jawa Pos

FAJAR.CO.ID JAKARTA – Nama bekas Sekretaris Mahkamah Agung (MA) Nurhadi Abdurrahman terseret dalam pusaran suap Lippo Group kepada Panitera Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Edy Nasution.

Nurhadi sudah dilarang ke luar negeri dan kerap menjalani pemeriksaan di Komisi Pemberantasan Korupsi.

Dalam surat dakwaan Edy Nasution, Nurhadi disebut-sebut meminta duit Rp 3 miliar kepada Lippo Group yang tengah berperkara.

Namun, Nurhadi usai diperiksa KPK, Kamis (6/10) sore enggan menjawab panjang lebar saat dikonfirmasi ihwal duit Rp 3 miliar itu.

Dia menegaskan, nanti akan menjelaskan semuanya di persidangan. “Nanti saya jelaskan di pengadilan itu,” ujarnya terburu-buru menuju mobil yang menjemputnya di halaman KPK, Kamis (6/10).

Saat dicecar lagi, Nurhadi kemudian membantah keras meminta duit Rp 3 miliar. “Tidak, tidak ada. Bohong itu,” tegas Nurhadi. Dia langsung masuk mobil dan meninggalkan gedung komisi antirasuah.

KPK masih mendalami dugaan keterlibatan Nurhadi. Hanya saja, KPK belum berhasil memeriksa Royani, sopir Nurhadi serta anggota Polri ajudan bekas petinggi MA itu.

Padahal, pihak-pihak tersebut diduga banyak mengetahui dugaan keterlibatan Nurhadi.

“Khusus untuk anggota Polri tidak ada kesulitan, setiap saat bsa dipanggil. Yang  paling sulit sopirnya karena sebenarnya lebih banyak tahu,” kata Wakil Ketua KPK Laode M Syarif di Jakarta, Kamis (6/10). Saat ini, KPK tengah mencari keberadaan sopir Nurhadi yang masih misterius.

Seperti diketahui, dalam surat dakwaan terdakwa Edy Nasution yang dibacakan jaksa KPK di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (7/9), Nurhadi  disebut  pernah meminta  Rp 3 miliar ke Lippo Group yang sedang beperkara. Nurhadi menyampaikan permintaannya itu melalui Edy.

Jaksa KPK Tito Jaelani mengatakan, Lippo Group lewat PT Jakarta Baru Cosmopolitan  menghadapi persoalan hukum terkait permohonan eksekusi tanah oleh ahli waris berdasarkan putusan Raad Van Justitie Nomor 232/1937  tanggal 12 Juli 1940.

Tanah yang berlokasi di Tangerang, Banten itu milik ahli waris bernama Tan Hok Tjioe. Namun, saat ini tanah dikuasai PT JBC dan dijadikan lapangan golf Gading Raya Serpong.

Selanjutnya, MA mengeluarkan petunjuk bahwa permohonan eksekusi tanah diajukan melalui PN Jakpus. Sedangkan pelaksanaan eksekusi dilakukan PN Tangerang.

Presiden Direktur Lippo Group yang juga Direktur PT JBC saat itu, Eddy Sindoro lantas  menugaskan anak buahnya, Wresti Kristian Hesti mengurus perkara tersebut.

Hesti kemudian menemui Edy selaku panitera PN Jakpus dan meminta pembatalan permohonan eksekusi tanah yang telah dikuasai PT JBC tersebut. (Fajar/Jpnn)

loading...
Click to comment
To Top