Nusron Wahid: Kalau Ngomong Kelihatan Melotot, Tidak Ganteng Seperti Antum – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Nasional

Nusron Wahid: Kalau Ngomong Kelihatan Melotot, Tidak Ganteng Seperti Antum

nusron
nusron wahid. Foto: detik.com

FAJAR.CO.ID- Kekecewaan Ustad Yusuf Mansur terdahap komentar-komentar sini Kordinator Bidang Pemenangan Pemilu DPP Golkar, Nusron Wahid, dalam acara talk show di televise tak bisa disembunyikan. Lewat akun instagramnya Yusuf Mansur menyindir Nusron dengan meminta anak-anak tidak melotot-melotot kepada ulama.

“Bismillahirohmanirohim, kepada adik-adik saya, anak-anak Indonesia, para remaja. Jangan ya, jangan ditiru melotot-melotot ke ulama. Jangan, jangan ditiru. Sesalah-salahnya ulama itu sebenar-benarnya kita. Jangan ditiru, yang suka maki-maki orang, jangan ditiru, yang suka bilang orang bodoh, goblok, tolol, jangan ditiru ya nak, jangan ditiru ya nak, jangan ditiru, jangan,” tulisnya, menyikapi reaksi Nusron.

Menanggapi postingan tersebut, Nusron  membantah jika dalam diksusi tersebut, dirinya memplototi ulama, melainkan wajahnya sudah seperti itu.

“Memang beginilah saya dilahirkan dengan wajah seperti ini. Kalau ngomong kelihatan melotot. Tidak ganteng seperti antum. Ya inilah saya memang marah melihat keadaan NKRI yang terganggu dengan pemahaman ayat yang sempit. Sebagaimana kyai dan guru-guru saya juga marah. Semoga antum mahfum. Sebagian kyai dan guru-guru saya juga marah Indonesia diganggu seperti ini,” katanya seperti dikutip dari detik.com

Nusron juga mengaku sangat menghormati para ulama. Kalau saat berbicara kelihatan seperti melotot, memang suah diseperti itu.

“Saya tidak melotot-melotot kepada ulama. Kalau saya ngomong ya memang begini,” kata Nusron.

Berikuti adalah postingan utuh Ustd. Yusuf Mansur di akun @yusifmansurnew

“Bismillaah… Saya dan kita semua, berdoa, dan doakan Pak Haji Nusron. Spy tdk amarah. Apalagi sampe penuh amarah. Tdk arogan. Menghargai ulama, menghargai para guru, yang dari para gurunyalah Nusron bs baca Ayat Suci. Kalau bukan dari para guru dan para ulama, yang terus bersambung kepada Rasul, darimana beliau dan kita semua bisa tau baca dan paham makna ayat demi ayat?
Satu hal. Nusron sahabat kita. Sama2 ummat Nabi. Adalah salah kalau kita yang malah saling berperang. Adalah salah kalau kita yang malah saling menyerang. Semoga tidak perlu lagi di antara kita saling menyerang sendiri. Jangan ampe salah milih musuh.

Jadi, saling meluruskan, boleh. Saling menasihati boleh. Tapi jadi saling bertikai, meledek, merendahkan, tidak menganggap, satu sama lain, maka itu yg ga boleh. Hrs krn Allah semua. Dan yang terpenting, saling doa. Jangan biarkan justru kita yang saling berantem.
Saya pribadi, banyak2 minta didoakan. Bertambah lagi pelajaran u saya anak bawang ini. Untuk menghargai orang2 tua, utamanya para guru dan ulama. Tidak meninggikan suara di hadapan ulama. Apalagi disaksikan jutaan orang. Yg kelak akan jadi value tersendiri. Value yg ngeri kalau jd standar anak2 muda. Oh boleh ya? Melotot dan ngomelin ulama?
Ngeri sekali.
Jangan sampe saya malah menghina dan merendahkan ulama, tanpa batas. Semua ulama jadinya. Dan itu berarti, ulama terdahulu, sampe ulama akhir zaman. Sedang, satu ulama saja, “beracun dagingnya”. Maksudnya gmn? Jika kita ga suka, apalagi sampe merendahkan, membenci, ribut, sama ulama, maka kitalah yang terbunuh. Kitalah yang sakit. Kitalah yang hancur. Kualat kalo bahasa gampangnya mah. Ini pelajaran tambahan lagi buat saya setelah liat rekaman ILC. Selain jd ladang amal u berdoa, mendoakan, dan minta didoakan.

Terus terang, saya nangis. Yaa Allah, selamatkan ummatnya Nabi ini. Apalagi ini Bulan Suci. Yaaa Allah, tolong lah kami. Hilangkan semua penyebab kami menjadi gaduh ini.” (fajar)

loading...
Click to comment
To Top