Pilunya Nasib TKI Pantura, Berangkat Perawan Pulang Bawa Anak – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Daerah

Pilunya Nasib TKI Pantura, Berangkat Perawan Pulang Bawa Anak

FAJAR.CO.ID KARAWANG – Desa Amansari, Rengasdengklok, Kabupaten Karawang termasuk daerah di pantai utara (pantura) Jawa barat yang dikenal sebagai penyuplai TKI (Tenaga Kerja Indonesia).

Sudah sejak lama, masyarakat di sana khususnya kaum hawa, menggantungkan hidupnya dengan bekerja sebagai TKI (Tenaga Kerja Indonesia).

Label “Eksportir TKI” pun lantas disematkan kepada desa mereka. Namun, seiring berkembangnya waktu, aktivitas mereka lantas memunculkan sejumlah kabar miring.

Itu tak lain lantaran sebagian dari para TKI kerap membawa “bonus” tiap kepulangannya ke Tanah Air.

Bonus yang dimaksud ternyata bukan pundi-pundi rupiah atau mata uang asing, melainkan anak yang masih balita.

Warga Dusun Cikelor contohnya. Usai merantau ke Timur Tengah, mereka membawa anak blasteran Arab.

Namun yang membikin miris, balita peranakan arab itu justru terlantar dan menderita setelah dilahirkan akibat kondisi ekonomi ibunya yang terpuruk.

Mereka juga tak mengenal ayahnya sendiri, karena status pernikahan atau perkawinan yang tak jelas saat berada di timur tengah.

Ati (25) misalnya, wanita yang notabene perawan sebelum diberangkatkan ke Riyadh, Arab Saudi justru pulang ke Indonesia dengan membawa bayi dalam kandungan.

Hal ini terjadi saat Ati berkenalan dengan Akram, seorang warga Pakistan yang bekerja sebagai supir pribadi.

Keduanya sering bertemu karena kebetulan mereka bekerja di rumah majikan yang sama, sampai akhirnya benih-benih cinta pun muncul.

“Oleh majikannnya, mereka pun dinikahkan,” kata Mimin, ibunda Ati mengisahkan sebagaimana dilansir Radar Karawang Online (Fajar Grup), Selasa (11/10).

Ati, 3 tahun lamanya menjadi TKI. Ia berangkat ke Riyadh pada tahun 2009, lalu kembali ke Indonesia pada tahun 2011.

“Waktu pulang, dia hamil sama orang Pakistan itu. Kemudian ngelahirin disini, anaknya dikasih nama Faizal Akram, diambil dari nama bapaknya,” sambung nenek itu seraya menggendong Faizal.

Semenjak lahir hingga kini Faizal berusia 2,5 tahun, Si Bapak belum pernah sekalipun menghubungi keluarga tersebut.

Ati sendiri memutuskan untuk tidak kembali lagi ke Riyadh. Semenjak Faizal lahir, sudah tidak ada lagi komunikasi dengan ayah dari anak itu.

“Ngasih kabar ataupun ngirim uang. Bapaknya cuma dua kali ngirim itupun waktu melahirkan. Pertama ngirim hanya 1 juta, yang kedua 700 ribu,” sesalnya.

Jauh dari lubuk hati Mimin, ia tak tega melihat cucu kesayangannya itu. Apalagi jika ia menanyakan ayahnya.

“Terkadang suka ajak becanda, bapaknya di Arab,” singkatnya.

Oleh karena itu, terkadang tetangganya pun iseng bertanya soal keberadaan ayah Faizal, bocah 3 tahun itu pun refleks menjawab.

“Di ayab, di ayab (di Arab-red),” kata Mimin menirukan ucapan cucunya tersebut.

Ati sendiri hanyalah merupakan perempuan lulusan SD yang terhimpit kondisi ekonomi yang akhirnya memaksanya pergi ke luar negeri.

“Sehingga ketika dia di nikahi oleh ayahnya Faizal, dia mau saja. Padahal, si Akram itu sudah punya istri dan 3 anak,” ungkapnya.

Kini, Ati dan Mimin hanya bisa pasrah meratapi nasib yang menimpa Faizal.

“Ya kalau Allah mengizinkan, mudah-mudahan dia bisa dipertemukan dengan ayahnya,” harapnya.

“Namun sampai sekarang, kita aja gak tahu harus menghubungi ayahnya menggunakan apa, surat atau pun telepon kita gak tahu,” tutupnya.

Kini, Ati memilih bekerja sebagai buruh di sebuah perusahaan setelah ibunya tidak mengizinkannya kembali untuk kerja di luar negeri. (Fajar/JPG)

loading...
Click to comment
To Top