Begini Kondisi Apartemen Live Sex Show yang Ramai di Akhir Pekan – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Jabodetabek

Begini Kondisi Apartemen Live Sex Show yang Ramai di Akhir Pekan

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Kasus live sex show yang diungkap Polsek Pesanggrahan di Apartemen Gateway, Jalan Ciledug Raya, Selasa (11/10) malam cukup cukup menghebohkan publik. Banyak yang bertanya-tanya bagaimana sebenarnya lokasi pasangan tersebut menggelar live sex dan menarik biaya bagi yang ingin melihatnya. Berikut penelusuran wartawan JPNN (Fajar Group).

Waktu sudah menunjukkan pukul 20.30 WIB. Seorang wanita seksi dengan pakaian mini terlihat keluar dari Apartemen Gateway. Sebuah mobil menghampirinya. Perempuan dan pengendara mobil sesekali berkomunikasi lewat jendela. Seperti sudah bersepakat, sang wanita langsung masuk ke dalam mobil. Kendaraan berwarna gelap itu lalu meluncur.

Dari luar, Apartemen Gateway tak terlihat seperti apartemen. Sebab, penampilannya kusam. Ada pakaian digantung di beberapa balkon kamar yang membuatnya semakin terlihat kumuh. Lebih mirip seperti rumah susun alias rusun.

Pun demikian dengan jajaran mobil yang diparkir, ternyata tak ada basement sampai beberapa lantai ke bawah, layaknya apartemen  berkelas.

Kesan mewah tak tampak di dalam apartemen yang menjadi tempat penggerebekan terhadap seorang pria berinisial Ars (39 tahun) dan wanita Nurs (29 tahun) saat mempertontonkan live sex show di hadapan petugas kepolisian yang menyamar.

Tarif pertunjukan live sex show hanya dibanderol  Rp 1 juta. Ingin lebih atau dan ikutan main, tinggal tambah Rp 500 ribu. Tarif yang relatif terjangkau itu agaknya berbanding lurus dengan tarif apartemen yang murah.

Tapi, untuk urusan keamanan apartemen ini sedikit ketat. Tidak sembarang orang bisa masuk ke dalam. Petugas sekuriti di depan akan langsung menanyakan keperluan orang yang masuk. Kalau kenal dengan penghuni, tinggal langsung masuk ke dalam.

Sang petugas keamanan itu juga tak langsung menjawab saat ditanya mengenai unit apartemen yang kosong atau yang akan disewakan. Mereka memang terlihat cukup selektif. Setelah dirasa aman, mereka baru mempertemukan pencari kamar dengan broker. Broker ini nantinya yang menyambungkan dengan orang yang memegang kunci kamar. Mereka tak ceroboh menawarkan kamar. Dari tiga orang yang ditemui JPNN, mereka langsung menyodorkan sewa jangka panjang.

“Ini cocok untuk suami istri, untuk yang berkeluarga. Tapi harus sewa langsung tiga bulan,” ujar salah satu perempuan yang memiliki kunci kamar.

Jadilah, JPNN (Fajar Group) melihat isi kamar yang ditawarkan. Harganya relatif murah untuk ukuran apartemen. Satu bulan ada yang Rp 2 juta, ada yang Rp 2,5 juta, dan termahal Rp 3,5 juta. Menurut perempuan itu, harga di Gateway sudah melorot tajam dibandingkan sebelum-sebelumnya. “Setahun lalu masih tinggi, paling murah Rp 3,5 juta. Sekarang menurun, ya karena sudah sepi orang cari, sering didatangi (petugas kepolisian dan dirazia) sih,” ucapnya.

Melongok fasilitas apartemennya juga tak ada kesan wah atau pun mewah. Per unitnya, ukurannya kira-kira 5×5 meter. Lantai hanya keramik ukuran 40×40 berwarna putih dengan dua kamar tidur. Satu ukurannya cukup untuk kasur king size, satu lagi hanya kasur kecil yang biasanya digunakan tidur oleh satu orang saja.

Di ruang tamu sudah tersedia televisi, lengkap dengan sofa. Di samping pintu masuk ada dapur, dan juga kamar mandi yang bersebalahan. AC hanya dipasang di ruang tamu sedangkan kamar tidur tanpa pengatur suhur ruangan.

“Kalau AC-nya dihidupkan, dinginnya masuk kok ke kamar. Jadi sudah dingin gak perlu AC lagi,” paparnya.

Dari pembicaraan, akhirnya terungkap bahwa status Gateway sebenarnya bukanlah apartemen, tapi rumah susun sederhana milik (rusunami). Selebaran pemberitahuan yang dipasang di lift dan papan pengumuman pun menegaskan status Gateway hanyalah rusunami. Karenanya wajar ketika fasilitasnya berbeda jauh dibandingkan apartemen lainnya.

Saat pencari kamar merasa harga yang ditawarkan terlalu tinggi, pemilik akan menyodorkan diskon. Bahkan, tawaran yang awalnya hanya per tiga bulan, menurun menjadi bisa disewa per satu bulan.

“Dari pada kosong, nggak apa-apa disewa per satu bulan saja,” katanya agak memaksa. Kesepakatan tercapai, tapi kepastian tinggal dan tidak masih ditunda.

Ramainya di Akhir Pekan

Setelah dari satu kamar di lantai tujuh itu, JPNN kemudian hendak keluar apartemen dan berada di depan pintu keluar. Tapi, seorang perempuan paruh baya kemudian menawarkan kamar lain. Dia memberikan jaminan kamar yang akan ditunjukkan punya fasilitas lebih mewah.

Benar saja, di unit itu, terlihat ruangan lebih luas meskipun tak signifikan, hanya berselisih sekitar 60- 70 sentimeter. Harganya memang lebih mahal sekitar Rp 500 ribu. Namun AC di di setiap kamar ada, kemudian lantai sudah beralaskan karpet bulu yang nyaman.

Jurus marketing pun diluncurkan. Mau tinggal sebulan pun boleh.

Apakah boleh tinggal kurang dari sebulan? Mulailah dia menawarkan paket. “Kalau tidak akhir pekan, hitungannya per hari 350 ribu. Kalau lebih dari sehari bisa lebih murah. Kalau hari biasa, ya, Rp 250 ribu nggak apa-apa,” ucapnya.

Saat ditanya mengenai perabotan dan isinya, mulailah dia bercanda dan menawarkan paket lebih. “Kalau cari yang Rp 1 juta sama ‘isinya’ semalam juga ada,” tegasnya.

Kabar miring tentang esek-esek di Apartemen Gateway sejatinya sudah lama didengar warga sekitar. Salah satu pelanggan warung di sekitar Gateway yang memperkenalkan dirinya bernama Atep (34 tahun), menuturkan bawha dia dan warga lain memang menaruh curiga. Sebab, setiap malam, wanita seksi, warga negara asing, terlihat kerap keluar masuk.

Perempuan itu kadang dijemput di luar apartemen oleh mobil-mobil. “Bukan berburuk sangka, apalagi kalau yang jemput beda-beda, bajunya minim, seksi, kembalinya kadang besok siangnya, kadang dini hari,” ucap dia.

Dia dan rekan-rekannya sempat iseng bertanya dan mencari informasi mengenai Gateway. Jawaban dari pihak yang disebutnya sebagai ‘orang dalam situ’ ternyata mengiyakan soal adanya pekerja seks komersial di Gateway. Bahkan, kadang mereka melayani sang tamu di kamarnya langsung. “Memang kelihatan. Banyak yang nakal,” tegasnya.

Selain wanita nakal, ada juga istri muda yang sengaja diberikan tempat tinggal di sana. Tentu saja, alasannya karena sewa kamar yang murah. Fasilitas ada, meskipun tidak terlalu mewah.

“Pernah ramai, kayaknya dirazia sama petugas. Memang sekarang jumlah wanita-wanita yang nakal itu sudah tidak seramai dulu, tapi ya tetap ada,” tandasnya.

Atep dan rekan-rekannya sejatinya tak mau mengurusi masalah siapa yang tinggal Gateway.  Baginya itu urusan orang per orang yang tak perlu direcoki. Apalagi, katanya, penghuni Gateway memang tak pernah interaksi dengan masyarakat sekitar. “Ya biarkan saja. Kan sudah ada yang bertugas menertibkan. yang penting tidak menganggu warga, ya sudah,” tandasnya. (Fajar/jpnn)

Click to comment
To Top