PB HMI: Pasca OTT Kemenhub, Presiden Harus Dorong Gerakan Anti Pungli – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Nasional

PB HMI: Pasca OTT Kemenhub, Presiden Harus Dorong Gerakan Anti Pungli

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Kehadiran Presiden Joko Widodo dalam operasi tangkap tangan yang dilakukan oleh aparat kepolisian di Kementrian Perhubungan, Selasa (11/10) kemarin menuai beragam komentar. Termasuk dari Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI).

Ketua Bidang Hukum dan HAM PB HMI Sujahri mengapresiasi langkah Presiden Jokowi menghadiri langsung operasi tangkap tangan (OTT) di Kementrian Perhubungan serta pembentukan Satgas Sapu Bersih (Saber) Pungli dibawah koordinasi Kemenko Polhukam. Selain itu, PB HMI juga berharap agar aksi Presiden tidak berhenti sebatas itu dan ditindak lanjuti dengan adanya gerakan anti pungutan liar di segala sektor.

“Kita mengapresiasi kehadiran Presiden Joko Widodo secara langsung dalam OTT tersebut. Minimal ini bisa jadi terapi kejut bagi kementrian dan instansi lainnya agar segera berbenah. Namun kita juga berharap aksi Presiden tidak berhenti sebatas itu. Perlu langkah lebih lanjut mulai dari menyederhanakan mekanisme perizinan yang berbelit-belit hingga pemberesan tumpang tindih regulasi perizinan. Sebab jika tidak maka kehadiran Jokowi dalam OTT tersebut ibarat reality show belaka,” ujar Sujahri

Sujahri menambahkan bahwa praktik pungli tersebut tidak hanya terjadi pada level kementrian saja melainkan sampai ke level terbawah dan terjadi dalam skala yang lebih luas. Sehingga penting bagi Presiden untuk melakukan Gerakan Anti Pungli di seluruh sektor pemerintahan terutama di wilayah perizinan sebagai bentuk keseriusan pemerintah.

“Budaya pungli seperti ini tidak hanya terjadi di Kemenhub saja, melainkan hingga pada level pemerintahan terbawah dengan skala yang lebih luas. Sehingga Presiden perlu mendorong Gerakan Anti Pungli di seluruh sektor mulai dari pemerintah pusat hingga ke level pemerintah daerah,” tegasnya.

Lebih lanjut, Sujahri juga menghimbau kepada masyarakat untuk tidak mendiamkan setiap praktik pungutan liar serta budaya suap dalam perilaku kehidupan sehari hari.

“Praktik pungli itu tidak bisa berdiri sendiri dan berlaku secara resiprokal. Ada pemberi dan ada penerima serta adanya sikap pembiaran dari sebagian kita. Sehingga sampai kapan pun budaya pungli maupun suap akan susah di hilangkan jika kita sendiri masih memberi ruang terhadap terciptanya praktik-praktik seperti itu. Olehnya itu budaya pungli harus kita lawan secara bersama,” tutupnya. (hrm/rls/Fajar)

loading...
Click to comment
To Top