Pesta Bujang Berujung Maut, Sang Mempelai Pria Mendadak…. – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Daerah

Pesta Bujang Berujung Maut, Sang Mempelai Pria Mendadak….

1844535Ilustrasi-Tewas780x390

FAJAR.CO.ID TAPTENG – Nahas betul nasib calon penganten pria asal Desa Sosorgotting, Kecamatan Andam Dewi, Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara ini.

Jelang hari pernikahanya, esok hari Jakkon Purba, 48 malah jatuh tergeletak tak sadarkan diri.

Kejadian itu karena pesta lajang yang digelar seorang calon pengantin pria bersama teman-temannya, Selasa (11/10) malam.

Seketika sukacita puluhan muda-mudi yang hadir pada malam itupun berubah jadi duka.

Terlebih kepada Eniati Sitanggang, 25, calon istri almarhum yang hanya bisa menangis, merenung dan menatap dalam ke arah jenazah korban yang terbujur kaku di hadapannya.

Informasi dihimpun wartawan dari lokasi kejadian, pesta itu dimulai pukul 21.00 WIB. Pesta itu diikuti para pemuda satu kampung Jakkon.

Tradisi di sana memang begitu. Malam sebelum seseorang menikah, mereka menggelar pesta lajang.

Seperti keterangan L Purba, 29, adik kandung almarhum, sebelumnya semua keluarga sedang berkemas mau memulai acara pembukaan malam hiburan pra pernikahan untuk kedua mempelai.

Saat itu almarhum sudah berkemas dan siap mengikuti acara malam itu. Tidak ada tanda-tanda almarhum kurang sehat. Ia tampak biasa saja dan siap melangsungkan acara.

Usai acara hiburan dibuka dengan Tortor, dia pun duduk di pelaminan untuk kemudian disandingkan dengan calon mempelai wanita.

Diketahui, calon mempelai wanita tinggal di palumean (rumah pengurus gereja) yang jaraknya tidak jauh dari rumah korban, hanya sekitar 50 meter.

Hanya tinggal memanggil mempelai wanitanya untuk duduk besanding di pelaminan untuk mengikuti acara, tiba-tiba almarhum jatuh.

Para pemuda seketika mencoba menyadarkannya dan menggotongnya ke rumah. Saat itu kondisinya sangat lemah.

Saat itu ia masih sempat berbicara dengan suara yang sangat pelan, namun lambat laun tak bersuara lagi dan kemudian meninggal dunia.

Rabu (12/10) pagi, waktu yang seharusnya penuh dengan senyuman, kini berganti menjadi tangisan.

Sanak family serta warga yang seharusnya menyampaikan ucapan selamat, kini berganti dengan mengungkapkan rasa dukacita mereka. (Fjar/Jpnn)

loading...
Click to comment
To Top