Jangan Sepelekan Pilek Berkepanjangan, Bisa Jadi itu Tanda…. – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Kesehatan

Jangan Sepelekan Pilek Berkepanjangan, Bisa Jadi itu Tanda….

FAJAR.CO.ID JAKARTA – Musim hujan kadang membuat badan lebih mudah terserang flu. Namun bagi yang sering mengalami pilek dalam waktu lama? Bisa jadi itu tanda sinusitis atau sebetulnya lebih pas disebut rinosinusitis.

“Itulah kenapa penyebutan rinosinusitis lebih tepat,” kata dr Budi Sutikno SpTHT-KL (K), pakar THT dari RSUD dr Soetomo Surabaya.

Pada penyakit itu, bagian yang terserang adalah mukosa rongga hidung. Akibat rhinovirus (virus penyebab flu) yang masuk ke selaput lendir, hidung jadi lebih banyak memproduksi ingus.

“Nah, ingus ini terus diproduksi dan tertumpuk. Inflamasi atau pembengkakan rongga hidung pun terjadi dan berujung pada tersumbatnya hidung,” ujar Budi.

Selanjutnya, bukan cuma mukosa hidung yang tersumbat. Sinus atau rongga-rongga di sekitar hidung pun ikut membengkak akibat peradangan di mukosa hidung.

Ketika sinus membengkak, cairan yang ada di dalamnya tidak bisa dikeluarkan dari hidung.
“Proses ini jika dibiarkan akan memperparah peradangan sehingga penderita mengalami rinosinusitis kronis atau pilek berkepanjangan,” tambah Budi.

Gangguan lain mulai bermunculan di samping tersumbatnya hidung. Sinus yang membengkak bisa menimbulkan rasa nyeri.

Rasa sakit seperti ditusuk-tusuk akan muncul di dahi, pipi, rongga dekat mata, hingga di belakang hidung.

“Bagian-bagian itu merupakan lokasi sinus yang membengkak. Kadang-kadang semuanya terasa nyeri, kadang hanya sebagian,” jelas Budi.

Rasa nyeri bisa jadi bertambah parah. Sebab, peradangan pada mukosa hidung dan sinus memengaruhi sistem saraf di rongga hidung.

Saraf menjadi lebih sensitif sehingga sentuhan kecil bisa menimbulkan rasa sakit di rongga hidung dan sinus. Selain nyeri, sensasi penuh di sekitar hidung membuat proses pernapasan terganggu.

Banyak yang salah kaprah mengenai rinosinusitis. namun yang benar adalah ingus tidak bisa keluar karena sistem aerasi atau ventilasi dan drainase yang terganggu.

dr Dendy Hamdali SpTHT-KL, spesialis THT dari Siloam Hospitals Surabaya menilai
Penyebab rinosinusitis hampir sama dengan flu. Virus, alergen, dan polip di hidung merupakan pemicunya.

Ketiganya, selain mengakibatkan inflamasi, memberikan akses terhadap kuman atau bakteri untuk menyerang hidung dan sinus. Akibatnya, penderita bisa juga mengalami demam saat menderita rinosinusitis.

Selain demam, kuman dan bakteri yang masuk saat rinosinusitis membawa efek lain. Lama-lama, ingus menjadi berwarna. Bisa kekuningan atau bahkan kehijauan.

Semakin lama dibiarkan, ingus bisa berbau busuk. Kuman dan bakteri pun bisa mengakibatkan peradangan semakin parah pada hidung dan sinus jika tidak lekas diobati dengan antibiotik atau obat-obatan lain.

Rinosinusitis yang tidak diobati dengan tuntas bisa menjadi penyakit kronis. Memang, bisa sembuh dengan sendirinya atau bersifat self-limiting.

Namun, karena tidak diobati secara total, sewaktu-waktu sinusitis akan terjadi lagi ketika penderita mengalami flu.

“Kalau sudah kronis, biasanya rasa nyeri berkurang. Namun, kuman dan bakteri lebih bisa berkembang biak pada mereka yang menderita sinusitis kronis,” papar Dendy.

Satu-satunya pembeda antara flu dan rinosinusitis adalah durasinya. Flu biasa umumnya sembuh dalam jangka waktu satu minggu. Jika lebih, harus mewaspadai itu sebagai tanda rinosinusitis.

Sebagai diagnosis awal, sebaiknya penderita tidak ragu untuk melakukan foto rontgen. Dari hasil foto, akan diketahui kondisi rongga hidung dan sinus. Selain rontgen, CT-scan bisa dilakukan untuk deteksi. (Fajar/Jpg)

Click to comment
To Top