Isu SARA di Pilgub DKI Sudah Sejak Enam Bulan Lalu – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Pilkada

Isu SARA di Pilgub DKI Sudah Sejak Enam Bulan Lalu

ray-rangkuti

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Pengamat politik Ray Rangkuti mengatakan, jauh sebelum surah Almaidah ayat 51 mengemuka, isu SARA sudah muncul dalam Pemilihan Gubernur DKI Jakarta. 

Gerakan-gerakan tersebut diduga untuk mengganjal Basuki Tjahaja Purnama kembali terpilih sebagai Gubernur DKI. “Jujur saya katakan (gerakan aktivis ’98 mengadang isu SARA) telat. Tapi saya dukung, karena isu SARA kalau tidak salah berlangsung dalam enam bulan terakhir. Jadi sebelum kasus Almaidah ayat 51,” ujar Ray pada diskusi publik yang digelar Rumah Gerakan ’98, Selasa (1/11).

Menurut Ray, isu SARA pertama kali muncul saat pihak-pihak tertentu menyuarakan agar kafir tak boleh dipilih dalam Pemilihan Gubernur DKI Jakarta. 

“Kalau ada orang tidak memilih karena perbedaan suku, agama, ras dan antargolongan (SARA), itu sah. Kalau memilih karena kesamaan suku, boleh. Tapi kalau Anda mengatakan orang tak boleh memilih karena agamanya, maka itu tak boleh,” ujar Ray.

Dia mengatakan, boleh-boleh saja seseorang tak memilih figur tertentu karena dasar agama. Hanya saja kalimat yang digunakan selama ini kurang tepat. Apalagi menyebut kafir tak boleh dipilih. 

“Kami sudah jamak mendengar jangan pilih kafir. Ini kalimatnya tak tepat, karena harusnya kalimat yang digunakan, pilih orang yang sesama (sesuai ajaran agama tertentu),” ujar Ray.

Dia mengemukakan pendapatnya, karena demokrasi pada hakikatnya mengajak orang memilih secara objektif. Karena itu tidak peduli dengan suku, agama, ras dan golongan tokoh tertentu. 

“Kalau hanya memilih karena latar belakang SARA, itu artinya demokrasi paling awam. Artinya enggak butuh demokrasi kalau tetap mendorong masyarakat memilih dari basis paling primordial,” ujar Ray. (Fajar/jpnn)

loading...
Click to comment
To Top