Banyak Pria yang Akhirnya Pasrah Karena Uang Minang Bikin Nyesak – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Nasional

Banyak Pria yang Akhirnya Pasrah Karena Uang Minang Bikin Nyesak

ilustrasi-pernikahan_20151215_194718

MUNGKIN Anda pernah mendengar sepasang kekasih terpaksa membatalkan pernikahannya hanya gara-gara mahar atau uang jujuran (bahasa Banjar,Red.) tidak cukup. Sangat miris sekali.

Padahal untuk menikah, uang bukan jaminan untuk membuat pasangan tersebut menjadi keluarga yang harmonis.

Tapi tidak dapat dipungkiri, dalam sebuah pernikahan untuk mempersatukan dua keluarga besar yang berbeda ada prosesnya, dan itu semua membutuhkan biaya.

Lazimnya, uang jujuran disediakan oleh pihak pria sebagai modal dan lambang keseriusan untuk mempersunting pihak wanita. Namun, semakin berkembangnya zaman, tingkat pendidikan wanita dan pria semakin setara.

Nominalnya pun sudah diluar logika. Beberapa budaya di Indonesia menyebut nominal uang jujuran harus disesuaikan dengan tingkat pendidikan dan status keluarga dari pihak wanita. Jika si wanita dari keturunan bangsawan, apalagi dari keluarga terpandang, uang jujuran bisa sampai puluhan bahkan ratusan juta.

Fenomena uang jujuran termahal pun turut menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga calon mempelai.

Besarnya nominal uang jujuran pun membuat tidak sedikit pemuda tercengang. Tidak heran, jika sering kali syarat ini tidak meloloskan pria. Khususnya bagi pria yang berpenghasilan standard.

Biasanya, uang jujuran dipatok berdasarkan besarnya pesta yang akan digelar untuk rangkaian pernikahan. Seperti dekorasi akad nikah, resepsi, catering, make-up, baju pengantin, perhiasan, dan seserahan lainnya. Jika menginginkan pesta pernikahan yang meriah, tentu saja harus siap dengan kantong ekstra tebal.

Farhat (bukan nama sebenarnya), bersedia berbagi pengalaman pahit yang pernah dialaminya kepada Radar Tarakan.

Di tahun 2004 silam, Farhat menjalin hubungan dengan seorang wanita yang dikenalnya saat masih duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA). Seperti remaja umumnya, cinta monyet yang berlangsung putus nyambung, dan sempat menjalani hubungan jarak jauh. Tapi justru membuat mereka semakin dekat.

Masa pacaran yang berlangsung lima tahun, membuat mereka yakin untuk membangun komitmen saling setia dan hidup bersama. Rancangan pesta pernikahan pun sudah menghiasi pikiran Farhat, seperti menjadi hiburan manis di sela sibuknya bekerja sebagai buruh pabrik.

Berpenghasilan tidak lebih dari Rp. 2.500.000 per bulan, ditambah beban cicilan motor dan biaya kebutuhan hidup sehari-hari lainnya membuatnya hanya dapat menyisihkan kurang lebih Rp.800.000 per bulan sebagai uang jujuran.

Meskipun telah menjalin hubungan cukup lama dengan kekasihnya, ternyata tidak menjamin niat baiknya sesuai dengan harapan.

Kurang lebih satu tahun, Farhat giat menabung. Uangnya pun sudah terkumpul Rp.10 juta dan menjadi modal awal untuk bertemu dengan pihak keluarga wanita. Tidak hanya itu, beberapa bantuan dana pun mengucur dari sejumlah kerabatnya. Anak sulung dari dua bersaudara ini pun semakin percaya diri untuk melamar kekasihnya.

Kesepakatan pertemuan pertama pun telah diatur kedua belah pihak keluarga. Saat waktunya tiba, sejumlah kerabat Farhat siap untuk mendatangi kediaman keluarga pihak wanita.

Proses ini biasa dikenal dengan istilah melamar. Ini adalah langkah awal dalam proses menuju pernikahan. Tidak ada kecemasan sedikit pun yang tergambar di raut wajah Farhat saat itu. Sembari menunggu perwakilan keluarganya kembali, tidak banyak yang dilakukannya, hanya mengobrol santai dan saling bertukar kabar dengan sang kekasih.

Nggak ada pikiran jelek sama sekali, mungkin karena saya merasa sudah kenal baik dengan keluarganya, apalagi kami berpacaran sudah dari zaman sekolah,” ujarnya.

Akhirnya waktu yang ditunggu tiba, satu persatu kendaraan kerabatnya telah tiba di halaman rumahnya. Tidak banyak yang menunggu di rumah saat itu, tapi suasana penantian pun begitu terasa. Dengan tenang, Farhat menunggu kerabatnya untuk lebih dulu berbicara. Ruang keluarga yang tadinya lenggang kini terlihat penuh. “Jadi waktu itu saya duduk di kursi, bersama keluarga saya, dan kerabat lainnya. Saya nggak banyak bicara sih, cuman menunggu mereka untuk lebih dulu bicara, mungkin karena saya terlalu percaya diri,” akunya.

Siapa sangka, suasana yang yang tadinya cair, kini berubah drastis menjadi beku dan kaku. Salah satu kerabatnya yang dipercaya menjadi juru bicara, mulai menatap Farhat dan mulai mengkerutkan alis.

Kecemasan mulai datang mengusik hatinya, diawali kata “sabar”, pria berparas tampan ini mulai merasa semangat yang tadinya membara kini mulai padam. Pembicaraan kembali dilanjutkan. Ternyata lamaran Farhat ditolak oleh pihak keluarga wanita.

Tidak banyak alasan yang dibagikannya, hanya saja ada satu hal yang begitu spesifik dan mudah ditanggapinya. Uang mahar dan jaminan hidup sejahtera yang menjadi persoalan.

Dari latar belakang pendidikan, kekasih Farhat memang lulusan sarjana dan anak sulung dengan tiga orang adik. Kekasihnya juga menjadi tumpuan dalam keluarga. Sementara itu Farhat yang hanya bekerja sebagai buruh dengan gaji standar, diragukan dapat memberikan jaminan hidup layak kepada kekasihnya.

“Jadi memang tuntutan ekonomi sih, saya coba buat berpikir positif. Wajar aja orang tua mengkhawatirkan anak perempuannya, orang tua mana sih yang nggak mau anaknya hidup sejahtera. Mungkin saya bukan orang yang tepat,” kenangnya dengan kepala tertunduk lesu.

Lamaran telah ditolak, hubungan yang disadarinya tidak akan berujung ini juga turut berakhir. Tidak ada dendam, meskipun hati masih terasa sakit. Farhat coba melupakan, karena hidup masih akan terus berjalan.

“Jodoh sudah diatur Yang Maha Kuasa, jadi kalau Dia bilang kami tidak berjodoh ya sudah terima saja,” tuturnya.

Kini Farhat telah menikah dengan wanita yang diyakini sebagai jodoh yang telah ditetapkan Tuhan untuknya. Hidup bahagia dengan dikaruniai dua anak membuatnya tidak lagi terpikirkan pengalaman pahit yang pernah dialaminya.

Bujeting anggaran juga menjadi kendala Rian (27), warga Tarakan yang tahun depan berencana akan menikahi kekasihnya. “Betul sekali, sejauh ini bujetinglah yang menjadi kendala dalam melaksanakan pernikahan,” tuturnya.

Sejauh ini, Rian baru mengumpulkan 10 persen dari biaya pernikahan yang direncanakan akan dilangsungkan tahun depan. “Saya sempat menanyakan kepada beberapa teman saya yang sudah menikah, rata-rata bujet untuk melaksanakan pernikahan paling sedikit Rp.50 juta, belum lagi ditambah biaya-biaya tak terduga yang harus disiapkan yang jumlahnya juga tidak sedikit,” tuturnya.

Diakuinya, biaya pernikahan merupakan masalah klasik yang dihadapi setiap pasangan yang akan menikah. Rian sebenarnya ingin menggelar acara pernikahan secara sederhana yang cukup dihadiri keluarga terdekat saja.

“Inti dari pernikahan itu sebenarnya untuk menyempurnakan ibadah kita sebagai umat Islam, namun karena ini merupakan momen yang bersejarah bagi kami berdua pasti kedua belah pihak keluarga menginginkan resepsi pernikahan mengundang orang yang dikenal untuk hadir dalam pernikahan anaknya,” tuturnya.

Namun Rian sedikit beruntung jika dibandingkan Farhat. Sebab keluarga calon istrinya tidak menuntut uang jujuran. “Hanya biaya pernikahan saja dan alhamdulillah keluarga juga ikut membantu,” ucapnya.

Sejauh ini, Rian masih berusaha mengumpulkan uang untuk pernikahannya dengan bekerja sebagai karyawan salah satu perusahaan swasta di Tarakan. Memang mengumpulkan semua biaya untuk pernikahan tidak mudah karena harus menyisihkan gaji untuk keperluan biaya nikah dan pribadi.

“Dengan penghasilan Rp 3 juta saya harus pintar-pintar menyisihkan uang, terlebih pekerjaan saya adalah pekerja lapangan yang pastinya membutuhkan biaya untuk operasional kendaraan. Sempat pesimis sih tidak bisa mengumpulkannya. Tapi kalau mencoba dan mempunyai niat pasti ada jalan,” tuturnya.

Sejauh ini pasangannya sangat mendukung dirinya dalam mencari biaya untuk pernikahannya. Bahkan pasangannya sempat menawarkan diri untuk ikut membantu menyisihkan gajinya untuk tambahan biaya pernikahan. “Kebetulan pasangan saya juga bekerja, jadi sama-sama mencari biaya untuk pernikahan,” ucapnya.

Sejauh ini persiapan yang sudah dilakukan Rian bersama pasangannya sudah berjalan lancar, mulai dari ketemu dengan masing-masing keluarga hingga membicarakan rencana pernikahan.

Kisah Farhat dan Rian memang cukup membuat dahi berkerut. Namun pengalaman yang diceritakan Lia, juga warga Tarakan cukup menarik.

Karena mahalnya biaya pernikahan, Lia (24) mengaku kekasihnya rela menjual beberapa barang miliknya demi memenuhi uang jujuran yang disyaratkan keluarga.

Itupun dilakukan warga Kelurahan Karang Anyar ini tanpa sepengetahuan Lia. Salah satu barang yang ternyata dijual adalah motornya. Dan itu baru ketahuan setelah mereka resmi menikah.

“Saya kaget, pas ke rumahnya kok motornya nggak ada. Pas saya tanya ternyata sudah dijual untuk biaya lamaran saya,” ceritanya kepada pewarta.

Selain menjual motor yang menjadi satu-satunya motor miliknya, suami dari wanita berambut panjang ini ternyata juga mengikuti arisan bersama teman-temannya di tempatnya bekerja.

Dijelaskannya, awal mula terbentuknya arisan itu adalah inisiatif teman-temannya untuk meringankan beban biaya pernikahan. Sistemnya, setiap bulan peserta arisan wajib membayar iuran sebesar Rp 3 juta. Yang mendapat arisan tergantung dari siapa yang sedang membutuhkan uang saat itu.

“Kalau harus nabung dulu kan perlu waktu lama, makanya mereka sengaja buat arisan biar bisa cepat nikah. Jadi pas sudah nikah tetap bayar uang arisan. Kebetulan suamiku alhamdulilah gajinya lumayan banyak, jadi cukup aja buat bayar arisan dan masih ada sisa buat biaya hidup sehari-hari,” jelasnya.

lain cerita yang dialami DN, warga Jalan Slamet Riyadi yang harus meminjam uang di salah satu koperasi untuk memenuhi uang jujuran. Masalahnya setelah menikah kini, ia masih harus memikirkan cicilan pinjaman.

“Saya terpaksa pinjam uang di koperasi, soalnya uang saya nggak cukup. Kalau saya nggakpenuhi (uang jujuran) dia akan dijodohkan dengan orang lain,” ungkapnya dengan sedih.

Selain Lia, AK (nama inisial) juga punya kisah yang hampir mirip. AK, pria yang menetap di Kelurahan Karang Anyar Pantai mengaku tak mudah untuk mengumpulkan uang panai (jujuran dalam bahasa Bugis,Red.) yang diminta pihak keluarga perempuan. Hampir 5 tahun bekerja, dia hanya sanggup mengumpulkan setengah dari yang diminta mempelai perempuan.

Kebetulan dirinya adalah pendatang, merantau ke Tarakan sejak 8 tahun lalu. Orang tuanya bukan terbilang tak mampu. Tanah warisannya cukup banyak di Sulawesi, tempat kelahirannya. “Saat keluarga datang melamar, pihak calon wanita awalnya minta Rp 50 juta. Keluarga awalnya tak menyanggupi, hanya sanggup di angka Rp 35 juta,” urainya mengenang.

Namun, setelah mufakat, akhirnya pihaknya menyanggupi. Dengan catatan seluruh acara pernikahan diserahkan sepenuhnya kepada pihak perempuan.

Ia menceritakan, untuk menemukan tambahan Rp 15 juta sangat mustahil. Sebab, untuk mendapatkan total Rp 35 juta itu dia minta bantuan kakak kandungnya. Ini lagi-lagi harus mencari tambahan Rp 15 juta.

“Akhirnya diputuskan, ada tanah warisan di kampung yang bisa dijual. Ke pihak keluarga juga. Karena di sana itu, tanah di wilayah perkampungan masih murah, beda di Tarakan,” jelasnya.

Meski uangnya telah terkumpul, tetap saja ada biaya-biaya tak terduga lainnya. “Tidak mungkin ke sana tangan kosong. Harus ada yang dibawa, misalnya kue-kue dan beberapa seserahan lainnya yang terdiri dari alat mandi, make up, pakaian, sandal sepatu, tas dan lainnya. Itukan kalau dihitung bisa sampai Rp 2 jutaan. Sementara tidak ada lagi uang cadangan,” urainya sembari mengingat sulitnya masa itu.

Tapi lanjutnya, selalu ada jalan jika ingin berniat baik. Apalagi menikah adalah hal yang akan dilalui setiap orang dalam proses menjalani hidup. “Intinya jika benar berniat, perjuangkan. Yang terpenting sah dulu. Insyaallah selalu ada jalan dan banyak berdoa,” ungkap AK kepada media ini.(fajar/ddq)

loading...
Click to comment
To Top