Di Negara Ini Ponsel Jadi Penyebab Tingginya Angka Perceraian – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Gaya Hidup

Di Negara Ini Ponsel Jadi Penyebab Tingginya Angka Perceraian

FAJAR.CO.ID – Survei 2016 Prudential Relationship Index di Singapura mengungkapkan, banyak pasangan yang baru menikah langsung memilih cerai.

Dari 500 responden, hasilnya, 1 di antara 4 orang yang sudah menikah berpikir untuk bercerai.

Angka perceraian di Singapura memang tinggi. Berdasar data yang diungkap Departemen Statistik pada Juli lalu, sepanjang 2015 saja ada 7.522 perceraian dan pembatalan pernikahan.

Salah satu penyebab keinginan bercerai adalah pasangannya terus-menerus lengket dengan telepon genggam (smart phone).

Berdasar survei, 28 persen responden mengalami masalah itu.

Mereka bertengkar terus-menerus karena pasangannya lebih memilih menghabiskan waktu dengan memandangi layar gadget.

Padahal, saat itu istri ataupun suami berada di dekatnya.

Senior Manager Fei Yue Community Services Evelyn Khong mencontohkan satu kasus yang dialami pasangan suami istri pada usia 30-an tahun.

Hubungan mereka memburuk karena suaminya terobsesi dengan games di komputer.

Si suami sebenarnya tetap ingin makan bersama. Namun, saat makan, dia meminta anaknya yang masih berusia 7 tahun untuk cepat menyelesaikan makan agar dirinya bisa segera bermain game.

Sang istri mengeluh dan tidak suka karena si suami bermain game hingga pukul 03.00 dini hari.

Di lain pihak, konselor di The Counseling Paradigm Willy Ho mengungkapkan, keluarga pada era saat ini menghadapi banyak tantangan.

Bukan hanya istri. Banyak pula suami yang komplain karena pasangannya terlalu asyik dengan telepon genggam.

Hal tersebut bisa memicu prasangka bahwa pasangannya memiliki orang ketiga.

Selain masalah gadget, pemicu perceraian lainnya adalah pasangan kerap membuat mereka sedih.

Masalah lainnya terlalu sering bertengkar. Sebanyak 20 persen responden bahkan mengaku pertengkaran mereka berujung pada kekasaran secara verbal.

Masalah anak dan keuangan juga menjadi pemicu tertinggi sebagai penyebab perceraian.

Jika si anak lambat makan, si suami akan memukulnya. Istrinya begitu sedih dan akhirnya mencari bantuan dengan konseling. Hal seperti itu kerap terjadi di rumah tangga lainnya.

“Pasangan harus berfokus mengatur teknologi yang secara halus masuk ke kehidupan dan merenggangkan hubungan kita,” ujar Khong.

Click to comment
To Top