Dua Diva Cantik Ini Hidup Bersama Penyakit Seribu Wajah – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Kesehatan

Dua Diva Cantik Ini Hidup Bersama Penyakit Seribu Wajah

FAJAR.CO.ID – Penyanyi muda yang sedang naik daun, Selena Gomez mengidap penyakit lupus dan menyandang status odapus atau orang yang hidup dengan lupus.

Apa yang dialami Selena juga dialami diva senior Toni Braxton. Karena penyakit itu pula, tur dan show mereka dibatalkan tahun ini. Dari pandangan medis, apakah lupus itu?

Systemic lupus erythematosus (SLE) atau lupus bukanlah penyakit baru. Gangguan autoimun tersebut kali pertama ditemukan pada awal abad ke-19.

Penamaan penyakit merujuk pada gejala yang muncul pada pasien pertama.

“Penderita pertama lupus adalah perempuan. Erythematosus adalah ruam merah, sementara lupus adalah serigala,” ucap Dr dr Yuliasih SpPD KR.

Ciri pasien saat itu adalah rona merah di pipi yang coraknya menyebar mirip serigala.

Spesialis penyakit dalam yang berpraktik di RS Husada Utama, Surabaya, itu menjelaskan, imbuhan systemic mengacu pada gejala penyakit yang menjangkiti sistem organ tubuh.

Gangguan sistemik itulah yang mengakibatkan lupus sering dijuluki penyakit seribu wajah.

“Lupus menyerang ginjal, sehingga ginjal bocor. Orang mengira, sakitnya sakit ginjal. Begitu pula saat yang kena jantung atau paru-paru,” kata Yuli.

Itu juga yang terjadi pada Toni Braxton. Pada 2008, dia pingsan saat manggung di Las Vegas.

Dokter mengira dia terkena serangan jantung. Tapi, pemeriksaan darah yang detail memastikan bahwa dia terkena lupus.

Secara medis, Yuli mengungkapkan, lupus disebabkan oleh gangguan gen.

Dalam kondisi normal, sel imun atau kekebalan tubuh punya karakter tidak mengenali sel tubuh lain.

“Nah, karena kelainan gen, sel imun mengenali sel-sel tubuh. Akibatnya, muncul kelebihan antibodi. Sel tubuh yang diserang menumpuk, timbul inflamasi (peradangan),” papar dokter sekaligus staf pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya, itu.

Namun, karena gejalanya menyaru dengan penyakit lain, lupus sering terlambat ditangani.

Obat-obatan yang diberikan memang sesuai dengan gejala di lokasi yang diserang, tapi tidak mampu mengontrol sel imun.

“Padahal, salah satu karakter lupus adalah fatal. Kalau nggak ditangani dengan benar dan cepat, bisa menyebabkan komplikasi parah sampai meninggal,” tegas Yuli.

Dia mengungkapkan, diagnosis lupus dilakukan dengan pemeriksaan klinis.

Di antaranya, tes laju endapan darah, kadar komponen komplemen protein C3 dan C4 dari ginjal, serta antibodi.

Hal itu juga ditegaskan oleh Ns Elvira Sari Dewi SKep MBiomed, dosen keperawatan medikal bedah Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya.

Vira menjelaskan, indikator dari tes klinis juga harus didukung dengan anamnesis (wawancara dokter dengan pasien seputar riwayat kesehatan) dan pemeriksaan fisik.

“Nah, kalau dari segala tahap pemeriksaan setidaknya ada empat dari sebelas tanda lupus (versi American College of Rheumatology/ACR), baru pasien didiagnosis lupus,” tegasnya.

Bila gejala tidak memenuhi syarat itu, bisa jadi pasien mengalami gangguan autoimun lain.

“Kalau dibiarkan, mereka tidak bisa beraktivitas maksimal karena ambang nyeri yang tinggi. Komplikasi itu bisa menyebabkan pasien meninggal dunia,” tegas Vira. (Fajar/Jpg)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top