Hanya Ini yang Bisa Bebaskan Maluku dari Kemiskinan – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Daerah

Hanya Ini yang Bisa Bebaskan Maluku dari Kemiskinan

kemiskinan
ilustrasi

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Direktur Archipelago Solidarity Foundation, Dipl.-Oek. Engelina Pattiasina mengatakan Provinsi Maluku yang kaya migas dan hasil laut tidak dapat keluar dari peringkat keempat termiskin di Indonesia kalau hanya mengandalkan anggaran dari pemerintah pusat.

Sebab menurut Engelina, alokasi anggaran yang berdasarkan luas wilayah dan jumlah penduduk, dirasakan sangat tidak adil bagi Maluku, karena luas laut Maluku lebih besar dibandingkan daratan.

“Kemiskinan di Maluku hanya bisa diatasi lewat pemanfaatan Blok Gas Abadi Masela dan Blok Migas lainnya, yang sudah pasti dapat menjadi sumber pemasukan bagi negara dan Maluku,” kata Engelina, dalam rilisnya usai memberi kuliah umum ”Maluku: Pilihan Kemitraan Strategis”, di Universitas Pattimura Ambon, Selasa (1/11).

Maluku lanjutnya, harus memastikan dapat manfaat yang setimpal dari Blok Masela dan harus menyiapkan diri menghadapi pertemuan teknologi modern dari berbagai negara pengelola sumber gas di Masela sebagai ujung tombak perekonomian.

Jika pilihan zona dan teknologi berbasis di darat (onshore) ujarnya, maka partisipasi masyarakat akan lebih tinggi. Ini harus dimanfaatkan oleh perguruan tinggi dengan menyiapkan sumber daya manusia untuk mengisi pengembangan industri turunan dari hasil produksi Blok Masela.

“Industri turunan dapat membuka lapangan kerja dan usaha kecil, sehingga perekonomian wilayah dapat berkembang, termasuk sektor pariwisata. Ini sangat membutuhkan peran perguruan tinggi dan tenaga guru untuk menghasilkan SDM yang berkompeten guna mendorong pemanfaatan industri hilir,” tegasnya.

Dia contohkan, pada akhir abad 20, Deng Xiaoping asal Tiongkok adalah perancang pertumbuhan ekonomi Tiongkok, mampu meningkatkan standar hidup rakyat lebih dari satu miliar jiwa. Tahun 1978-1984, Deng merilis strategi kebijakan gaige kaifang (reformasi dan keterbukaan) guna menguji dan memperkaya ideologi, memacu agrikultur, dan ekonomi-pasar sosialis Tiongkok.

“Strateginya ialah shí shì qiú shì atau ‘seek truth from facts’. I don’t care if it’s a white cat or a black cat. It’s a good cat so long as it catches mice!’. Tidak penting, kucing hitam atau putih, sejauh dapat menangkap tikus,” ungkap Engelina.

Karena itu, Engelina berharap, Unpatti dan universitas lainnya di Maluku dapat berfungsi sebagai motor penggerak dan partner pemerintah untuk mengawal pengelolaan 25 blok migas di Maluku.

Dia tambahkan, sekitar 90 persen zona kepulauan Maluku dengan luas 850.000 kilometer persegi terdiri dari laut. Kepulauan Maluku sangat kaya keragaman hayati, ikan, emas, minyak, gas dan mineral strategis lainnya. Resikonya yakni selama 400 tahun terakhir, zona-zona kaya sumber alam sering terjebak konflik dan kemiskinan atau the paradox of plenty. “Sebanyak 15 blok migas dikelola oleh investor asing di Maluku, sedangkan 10 blok lainnya masih ditawarkan ke para investor,” ugkapnya.

Selain itu, Engelina mengutip data Biro Pusat Statistik (BPS) Maluku tahun 2015 yang menyebut penduduk Provinsi Maluku 1,6 juta jiwa, sekitar 18,84 persen atau sekitar 307.000 jiwa adalah penduduk miskin dan menempati urutan ke-4 setelah Papua, Papua Barat, dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Maluku dapat keluar dari jebakan paradox of plenty, resiko konflik dan kemiskinan dengan menerapkan model triple-helix dalam program kebijakan pembangunan berkelanjutan (triple-bottom-line). Misalnya, level partisipasi masyarakat Maluku dan sekitarnya sangat bergantung pada pilihan zona dan teknologi ekstraksi sumber-sumber alam seperti 25 blok migas Maluku,” imbuhnya. (Fajar)

loading...
Click to comment
To Top