Pungli Tanjung Perak Gunakan Modus Baru – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Kriminal

Pungli Tanjung Perak Gunakan Modus Baru

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri, Brigjen Agung Setya menerangkan bahwa modus pungutan liar yang ada di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya adalah modus baru. 

Pasalnya, pungli dilakukan oleh perusahaan palsu bernama PT Ankara yang bekerjasama dengan otoritas bongkar muat yakni PT Pelindo III.

Dari kejahatan ini, Satgas Dwelling Time Dittipideksus Bareskrimada menyita dua jenis rekening.  Yakni rekening penampung pungli dari perusahaan pemilik kontainer yakni PT Ankara dan rekening penerima PT Pelindo III.

Perusahaan pemilik kontainer yang akan melakukan bongkar muat harus menyetorkan uang Rp 500 ribu sebelum ke luar dari Pelabuhan Tanjung Perak. Sebelum ke luar, mereka harus memperlihatkan slip pembayaran atau setoran ke rekening. Bila tidak maka mereka akan tetap mangkal di pelabuhan.

“Ini satu modus kejahatan pencucian uang di mana caranya bagaimana para pelaku ini menyetorkan ke rekening-rekening tertentu hasil kejahatannya sehingga tidak tampak ada penyerahan uang,” kata Agung Rabu (2/11).

Bareskrim menyita 17 rekening yang isinya mencapai Rp 15 miliar. Agung berjanji, ke depan akan terus dilakukan pengembangan apakah ada pihak lain di luar PT Ankara ataupun PT Pelindo III yang menampung atau menerima di 17 rekening tersebut. “Kita ketahui, 17 rekening dari beberapa nama dari PT Ankaara dan nama-nama lain. Ini juga menampung ataupun mendistribusikan hasil pungli kepada pihak-pihak tertentu,” katanya.

Sejauh ini Bareskrim baru menetapkan dua tersangka yakni Direktur Operasional PT Pelindo III Rahmat Satria dan Direktur PT Ankara Augusto Hutapea. Mereka diduga melakukan tindak pidana pemerasan. Sementara pemberi suap yakni perusahaan pemilik kontainer bebas dari pidana karena mereka terpaksa memberikan uang pungli itu.

“Ya mereka  merasa terpaksa dengan pungutan ini sehingga menginformasikan dan melaporkan kepada kita,” tukasnya. (Fajar/JPG)

loading...
Click to comment
To Top