Sikap Jokowi Bisa Berakibat Fatal – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Nasional

Sikap Jokowi Bisa Berakibat Fatal

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Massa Aksi Bela Islam II sampai saat ini masih berada didepan Istana Negara. Mereka ingin perwakilan massa bisa ditemui langsung oleh Presiden Joko Widodo. Namun, sampai saat ini Presiden masih berada diluar Jakarta.

Menanggapi hal itu, Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah yang juga ikut dalam barisan demonstran sangat menyayangkan sikap Jokowi yang justru mengutus wakilnya Jusuf Kalla dan menteri untuk bertemu dengan para demonstran.

Atas sikap tersebut, Fahri menganggap Jokowi tidak menghargai para demonstran yang hadir dari beberapa daerah. Padahal kehadiran para demonstran di Jakarta untuk menyampaikan aspirasi mengenai gugatan dan tuntutan penegakan hukum yang berkaitan dengan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

“Fatal ga mau bertemu itu fatal. Jokowi tidak tdk mengerti bahwa aspirasi masyarakat itu penting karena secara keseluruhan isunya gugatan dan tuntutan penegakan hukum dan secara spesifik terkait dengan Basuki,” ujar Fahri Hamzah.

Dalam kesempatan itu, Jokowi justru lebih memilih meninjau proyek yang sementara berjalan. Padahal, lanjut Fahri untuk pekerjaan meninjau proyek bisa saja diwakili oleh Menteri atau lainnya.

“Presiden mengabaikan demo terbesar dalam sejarah Indonesia. Gak pernah ada demo sebesar itu. Dr istana ke Istiqlah aja nyambung itu 1 juta. Masa datang dari seluruh pelosok negeri masak gak dianggep? Kayak gak punya leadership, kayak gak punya perasaan sebagai pemimpin. Orang datang dari Aceh, Madura, Makasar, NTB dan lainnya,” ketusnya.

Fahri menganggap dengan sikap Jokowi seperti itu dengan menganggap remeh sesuatu yang besar maka tidak menutup kemungkinan akan berakibat fatal kedepannya. “Ulama dicuekin? Dia gak paham sejarah bangsa, konstitusi apa, hukum apa. Dia sudah janji mau bertemu demonstran,” ujarnya.

Sikap Jokowi ini juga dianggap seperti jam waktu yang bisa menjadi pertanda bahwa Jokowi akan terus ada atau tidak. Jutaan orang sudah merasa tidak punya pimpinan dan pemimpinnya tidak ada buat masyarakat.

“Itu aja efektnya, maka tunggu saja nanti. Menjadi pemimpin itu panggilan jiwa, dulu dia gunakan kampanye, voulenterianisme, dimana dia katakan masyarakat mendukung dia secara sukarela, massa yang kumpulkan uang mendukung dia. Volenterianisme itu sendiri datang dari perasaan memiliki pemimpin,” ungkapnya.

“Makanya mereka mau mendukung dan berkorban. Rakyat ada mendukung Jokowi. Sekarang perasaan itu gak ada lagi dan hilang karena sikap jokowi sendiri yang tidak ada bagi rakyat. Orang gak akan lagi mau dukung dia,” tutupnya. (Fajar)

To Top