Dituduh Peras Terdakwa, Jaksa Buru-buru Bikin Rilis ke Media – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Kriminal

Dituduh Peras Terdakwa, Jaksa Buru-buru Bikin Rilis ke Media

MENGAKU DIMINTAI UANG - Pengacara A. Junaidi bersama istri kedua terdakwa.

MENGAKU DIMINTAI UANG – Pengacara A. Junaidi bersama istri kedua terdakwa.

FAJAR.CO.ID, TANJUNG – Kejaksaan Negeri Tanjung membantah pernah meminta uang kepada keluarga terdakwa kasus narkoba, Tajudin Amin dan Badri. Mereka bahkan membantah pernah bertemu dengan Lisna dan Lisda, istri dari dua terdakwa itu.

Kejaksaan Negeri Tanjung menegaskan hal itu melalui surat yang dikirimkan ke email Radar Banjarmasin. Dalam email itu, mereka membantah keras pengakuan dari kuasa hukum dan dua istri terdakwa yang mengatakan jaksa menawarkan negosiasi pasal-pasal dengan bayaran.

“Tidak pernah terjadi pertemuan antara Jaksa Boby Ardirizka dan Lisna dan Lisda ( istri terdakwa Tajudin dan Badri ) pada Tanggal 12 September 2016 sekitar jam 10.00 Wita di Ruang Kantor Kejaksaan Negeri Tabalong dikarenakan Tanggal 12 September 2016 merupakan hari libur nasional yaitu Hari Raya Idul Adha dan sdr Jaksa Boby Ardirizka pada hari itu sedang berada di Luar Kalimantan, sehingga pemberitaan ini sangat tidak benar dan mengganggu institusi kami,” tulis surat yang dikirimkan Kepala Seksi Tindak Pidana Umum Syahrul Arif Hakim, atas nama Kepala Kejaksaan Negeri Tanjung.

Syahrul dalam surat itu juga mengatakan pihaknya siap menunjukkan bukti – bukti atas ketidak benaran berita tersebut.
Sebelumnya, Pengadilan Negeri Tanjung dibikin geger dengan pembacaan naskah duplik dari kuasa hukum Tajudin Amin dan Badri, Rabu (26/10) sore. Kuasa hukum mengungkap ada permintaan sejumlah uang pada keluarga terdakwa dengan iming-iming janji pengurangan masa tahanan.

Tudingan serupa juga diungkapkan dalam naskah pledoi. Yang membuat panas seisi sidang, kronologi dan nominal rupiah dalam skandal tersebut diceritakan secara detil oleh pengacara.
Dalam cerita menurut versi kuasa hukum, Lisda, istri Tajuddin dan Lina, istri Badri diajak bertemu oleh jaksa di ruangan kejaksaan, pada 12 September 2016, jam 10 pagi.

Di sana, jaksa menawarkan mereka memilih Rp 80 juta untuk pemakaian pasal 131 dengan tuntutan penjara satu tahun atau Rp 40 juta untuk pasal 112 dengan masa penjara empat tahun. “Dia tidak mengucapkan langsung. Angka-angka itu ia tuliskan di atas secarik kertas,”ucap Lina, istri terdakwa.

Bingung karena tak memiliki uang, kedua ibu muda ini memutuskan berembuk dengan keluarga besar. Hasilnya, permintaan jaksa mereka tolak. Dua pekan berselang, dalam sidang berikutnya, keluarga tercengang melihat tuntutan jaksa.
Terdakwa dituntut dengan pasal 114 ayat 1 UU No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Dengan ancaman masa tahanan enam tahun enam bulan dan denda Rp500 juta. Kontan, keluarga shock.

Keluarga terdakwa tampak kelelahan. Wajar, mengingat berlarut-larutnya jalan persidangan. Sudah sampai 21 kali sidang dengan dua kali masa penundaan. “Itu tuntutan emosional, jaksa marah karena keluarga klien saya tidak mau memenuhi tuntutannya,” tegas pengacara, A Junaidi.

Penting diketahui, kejadian ini bermula dari penangkapan kedua terdakwa pada 13 April di kawasan Mabuun Kecamatan Murung Pudak. Mereka lalu ditahan polisi dari 14 April sampai 3 Mei. Persidangan pertama digelar 23 Juni 2016 lalu. (fud/ibn/by/ran)

Click to comment
To Top