Dua Kali Mangkir, Saksi Kasus Pilkada Buton Akhirnya Penuhi Panggilan KPK – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Hukum

Dua Kali Mangkir, Saksi Kasus Pilkada Buton Akhirnya Penuhi Panggilan KPK

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Setelah dua kali mangkir dari panggilan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Advocat Dian Farizka akhirnya memenuhi panggilan KPK, Selasa (8/11). Kehadiran Dian ke KPK untuk memberikan keterangan terkait dengan kasus sengketa Pilkada Buton yang ditangani oleh Mahkamah Konstitusi (MK) 2011 silam.

Dihadapan sejumlah awak media, Dian membeberkan beberapa point terkait pemeriksaan terhadap dirinya. Bagaimana dirinya mengenal Umar Samiun, LD Agus dan Abu Abu Umaya. Untuk diketahui, LD Agus dan Abu Umaya juga dijadikan saksi dalam kasus tersebut.

“Semua pertanyaan dari penyidik sudah saya jawab sesuai apa yang saya ketahui, saya kenal dengan Agus dan Umar Samiun sudah lama sekitar tahun 2008-2009, kalau saya kenal dengan Abu Umaya sekitar tahun 2011 karena dia sering main di MK. Jadi saya kenal Agus dan Umar Samiun lebih dulu dari pada Abu Umaya,” beber Dian.

Selain itu, penyidik KPK juga menyinggung tentang pertemuan antara dirinya dengan Umar Samiun disekitar Hotel Indonesia (HI). Dalam pertemuan itu, KPK mempertanyakan pembicaraan apa yang dilakukan ketika itu dan siapa saja yang hadir pada saat itu.

“Kalau pertemuan di sekitar HI hanya bincang-bincang, canda gurau, kita ini sudah berteman lama dengan Umar Samiun. Waktu itu ada juga Sofyan Kaepa dan teman-teman lainnya yang datangnya menyusul. Kalau saya berteman dengan siapapun Insya Allah tidak ada yang kecewa, karena kalau sudah baik seperti keluarga sendiri,” ujarnya.

“Beliau cerita tentang perjalanan pilkada di Kabupaten Buton yang diwarnai banyak kecurangan dan pelanggaran yang dilakukan oleh KPUD Kabupaten Buton, kecurangan atau pelanggaran yaitu dari hasil verifikasi baik faktual maupun administrasi yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan, sehingga berakibat ke pasangan calon yang harusnya lolos tapi tidak bisa diloloskan dan pasangan calon yang tidak lolos bisa diloloskan,” sambungnya.

Lebih lanjut Dian menjelaskan bahwa dalam perbincangan itu juga Umar Samiun membeberkan bahwa suara yang diperoleh ketika Pilkada Buton itu hilang dan berkurang. Baik penghitungan ditingkat TPS, PPS, PPK dan KPUD.

“Dan yang terakhir bicara tentang berapa lama tenggat waktu pengajuan permohonan di MK setelah rekapitulasi suara di tingkat KPUD, dan berapa lama sidang di MK dari pendahuluan sampai putusan,” tukasnya.

Bagaimana dengan tudingan Agus Feisal Hidayat bahwa Dian Farizka menerima uang sebesar Rp10 juta dari Umar Samiun untuk operasional pembuatan permohonan pemohon La Uku-Dani? Dian menjelaskan hal itu sama sekali tidak disinggung oleh penyidik.

“Kalau penyidik bertanya pasti saya jawab dengan sejujur-jujurnya, agar masyarakat tahu dan tidak bertanya-tanya apakah benar atau tidak uang itu ke saya? Agar tidak ada dusta diantara kita seperti lagunya Broery Marantika,” ucapnya sambil tertawa.

Belum selesai awak media memberikan pertanyaan, Dian Farizka langsung meminta izin untuk pamit. Alasannya ingin menemui klien untuk berdiskusi tentang rencana melaporkan dugaan tindak pidana ke BNN, Kejaksaan Agung dan KPK.

“Sudah cukup ya, karena saya lagi mau ketemu klien untuk berdiskusi tentang rencana mau melaporkan dugaan tindak pidana ke BNN, Kejaksaan Agung dan KPK. Bukti-bukti sudah saya pegang dan kira-kira siapa yang saya laporkan, tunggu tanggal mainnya?,” tutup Dian yang juga sebelumnya melaporkan calon Bupati Buton Selatan Agus Feisal Hidayat ke Polda Metro Jaya terkait kasus dugaan pencemaran nama baik. (hrm/Fajar)

loading...
Click to comment
To Top