Jokowi: Saya Biasanya Gunakan Media Sosial untuk… – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Nasional

Jokowi: Saya Biasanya Gunakan Media Sosial untuk…

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) terus berkeliling mengampanyekan pentingnya menjaga keutuhan bangsa. Kemarin (13/11) Jokowi bersafari ke acara yang diadakan dua parpol pendukung pemerintah, yakni Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Amanat Nasional (PAN).

Safari presiden diawali dengan mendatangi Munas Alim Ulama dan rapimnas PPP di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta. Dia mengingatkan bahwa Indonesia merupakan negara berpenduduk muslim terbesar. “Setiap konferensi besar apa pun, G-20, APEC, (kalimat itu, Red) selalu saya pakai sebagai pembuka,” tuturnya.

Presiden selalu mempromosikan, di Indonesia Islam bisa berjalan beriringan dengan demokrasi. Karena itu, dia kembali mengingatkan prinsip kebersamaan di tengah keragaman. Umat mayoritas harus melindungi yang minoritas. Sebaliknya, minoritas wajib menghormati mayoritas.

Menurut Jokowi, satu hal yang perlu diredam saat ini adalah ujaran kebencian di media sosial (medsos). Khusus umat Islam, sebaiknya medsos dijadikan sarana untuk syiar dakwah. Bukan saling menghujat dan mencaci maki. Apalagi memfitnah.

“Saya biasanya menggunakan media sosial untuk hiburan, (lihat, Red) yang lucu-lucu. Tapi, kalau sudah bantai, bunuh, itu tidak islami,” ujarnya.

Di arena rapimnas PAN, Jokowi bicara tentang kasus dugaan penistaan agama oleh Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Kasus Ahok membuat perhatian publik terkonsentrasi ke pilkada Jakarta. Padahal, ada seratus daerah lain yang juga menyelenggarakan pilkada.

“Jadi, kenapa energi, konsentrasi kita, habis hanya di Jakarta? Apa kalkulasinya? Kalau ada masalah yang berkaitan dengan hukum, serahkan kepada proses hukum,” katanya. Jokowi menjamin tidak akan ikut campur urusan hukum apa pun yang sedang berjalan. Yang penting, Indonesia tidak sampai terpecah belah.

Setelah aksi massa pada 4 November lalu, muncul wacana bahwa demo serupa akan terjadi pada 25 November. Kadivhumas Mabes Polri Irjen Boy Rafli Amar menuturkan, nuansa kedamaian dalam aksi 25 November memang perlu untuk dibentuk. Misalnya dengan membawa simbol-simbol kedamaian. Saat aksi 4 November, ada sejumlah demonstran yang membawa pamflet bernuansa kedamaian. “Hal semacam itu boleh,” ucap dia.

Aparat kepolisian akan dirancang untuk menjaga dengan kedamaian. Aparat yang bertugas menjaga aksi tidak diperbolehkan membawa senjata api. “Semuanya mengarahkan untuk bisa berdamai,” ungkap mantan Kapolda Banten tersebut.

Sementara itu, Kabareskrim Komjen Ari Dono Sukmanto mengatakan bahwa pihaknya bekerja dengan sangat profesional dalam kasus dugaan penistaan agama yang melibatkan Ahok. Tidak ada yang mungkin bisa memengaruhi proses hukum. “Kami all-out,” tegasnya. (Fajar/JPG)

To Top