Datangkan Ulama dari Mesir, Ahok Dinilai Adu Domba – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Nasional

Datangkan Ulama dari Mesir, Ahok Dinilai Adu Domba

Dok. Fajar.co.id

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sukamta menilai siapa pun yang menginisiasi mendatangkan saksi ahli dari Mesir ulama Al-Azhar, Syekh Amr Wardani dalam kasus dugaan penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), adalah tindakan kebablasan.

“Rencana untuk menghadirkan ulama dari Mesir sudah kebablasan. Dalam kapasitas apa mendatangkan saksi ahli dari luar? Jadi melebar ke mana-mana ini. Harusnya fokus saja kepada frase ‘dibohongi pakai’, jangan terlalu melebar sampai kepada memperdebatkan tafsir Al Maidah 51 itu sendiri,” kata Sukamta, Selasa (15/11).

Meski tidak ada larangan dalam proses hukum mendatangkan saksi ahli dari luar negeri lanjutnya, mestinya pihak Polri menolak rencana tersebut dengan alasan kasus ini perlu segera diproses dan diselesaikan sebab banyak saksi ahli yang kompeten di Indonesia.

“Secara etika, proses hukum di negara ini cukup diselesaikan dengan menghadirkan para ahli dan ulama yang ada di sini. Kesannya, pihak Pak Ahok sudah tidak percaya lagi dengan ulama Indonesia. Ini bisa mengarah kepada adu domba ulama, jelas tindakan yang sangat berbahaya. Tapi Alhamdulillah, Syekh Amr Wardani dikabarkan secara mendadak telah pergi meninggalkan Indonesia. Ini hal positif,” ujarnya.

Jutaan umat Islam yang bereaksi pada 411 lalu kata Sukamta telah menunjukkan sikap dewasa dalam berdemokrasi. Ini perlu terus untuk dijaga dan tidak dinodai dengan intervensi terhadap upaya hukum. Jangan sampai supremasi hukum tercederai.

Dia jelaskan, masyarakat menghendaki proses hukum dalam konteks penistaan agama, bukan perdebatan tafsir. “Mau pakai tafsir ‘teman setia’ atau ‘pemimpin’ kalau frase yang dipakai adalah ‘dibohongi pakai’, maka itu sama saja. Malah kalau orang berbeda agama dijadikan teman setia saja tidak boleh apalagi kalau untuk dijadikan pemimpin. Ini perdebatan bisa panjang dan sepertinya tidak perlu. Terlebih lagi soal tafsir, bisa ada perbedaan,” tegasnya.

Menurut wakil rakyat dari Yogyakarta itu, tentu ada tafsir yang membolehkan memilih pemimpin berbeda agama dalam syarat-syarat dan kondisi tertentu. Dan bisa jadi Pak Ahok akan diuntungkan dengan mendapat legitimasi dari yang membolehkan hal tersebut, sampai berniat mengundang saksi ahli dari luar, agar kalangan Muslim bisa terarahkan untuk memilihnya dalam Pilkada.

“Padahal ini bukan soal Pilkada dan bukan karena Pilkada. Kebetulan saja mungkin waktunya bersamaan dengan Pilkada. Maka sekali lagi, penyidikan fokus saja pada frase penistaan agama, bahwa Al Quran dianggap bisa dipakai untuk membohongi orang. Ini jelas melecehkan Al Quran. Ingat, waktu yang dijanjikan oleh Polri hanya dua pekan. Supaya efisiensi waktu, fokus saja,” sarannya. (Fajar)

Click to comment
To Top