Ternyata Begini Kronologisnya, Duel Sadis Bocah SD Sampai Mati – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Kriminal

Ternyata Begini Kronologisnya, Duel Sadis Bocah SD Sampai Mati

pra-rekonstruksi duel sadis bocah hingga meninggal

FAJAR.CO.ID, KUALA KAPUAS – Pihak Polres Kapuas langsung melakukan pra-rekonstruksi kasus pembunuhan yang diduga dilakukan NE (13) hingga menewaskan AH (9) di Desa Handiwung Kecamatan Puau Petak Kabupaten Kapuas.Pra-rekonstruksi dilaksanakan di lokasi kejadian, Senin (14/11).

Saat reka ulang kasus itu, NE mengenakan jaket hitam. Tersangka tunggal itu memperagakan 20 adegan di lokasi kejadian.

Kejadian pertama diawali pada Jumat (11/11) sekira pukul 08.00 WIB, dimana NE berangkat dari rumahnya mengendarai sepeda menuju Pasar Mingguan Desa Handiwong. Dia tiba di Pasar Mingguan itu sekitar pukul 08.05 WIB, dan memarkirkan sepedanya di depan sekolah lama dan berjalan kaki menuju pasar.

Di pasar itu, NE bertemu AH di depan rumahnya. Saat itu korban sedang membeli pisau silet, kemudian NE menghampirinya dan terjadi percakapan. Setelah itu keduanya berjalan masuk ke rumah korban.

Sekitar pukul 08.25 WIB korban makan di dapur rumahnya, sedangkan pelaku menunggu di ruang tamu.

Pada pukul 09.00 WIB korban selesai makan dan menghampiri pelaku. Saat itu, korban menanyakan “Mau ke mana kita”,  pelaku menjawab “kita keliling-keliling”.

Setelah itu pelaku dan korban langsung keluar rumah dan menuju tempat parkir sepeda.

NE mengendarai sepeda dan korban diboncang di belakang keliling desa. Selanjutnya pukul 09.20 WIB, pelaku dan korban istirahat di depan Masjid Istiqlal Desa Handiwung. Keduanya istirahat dalam masjid, dan secara bergantian main game yang ada di handphone korban.

Ketika jarum jam menunjukkan pukul 09.40 WIB, pelaku mengatakan kepada korban ingin buang air besar di sekolah MI Miftahudin dan saat itu korban juga ikut. Mereka ke MI Miftahudin menggunakan sepeda dengan berboncengan, lalu tiba di sana sekitar pukul 09.45 WIB.

Selanjutnya sepedanya diparkir di depan ruang kelas, kemudian pelaku dan korban berjalan kaki menuju toilet yang ada di samping kanan sekolah. Saat pelaku masuk dalam toilet untuk buang air besar, korban menunggu di depan toilet.

Awal perkelahian, pada pukul 09.50 WIB, pelaku keluar dari toilet dan saat menutup pintu toilet, korban mengejek pelaku, dengan mengatakan bahwa celana robek.

Kemudian pelaku mengatakan bahwa celana itu miliknya. Korban mendorong pelaku sehingga terjatuh ke tanah di depan toilet.

“Pelaku naik ke teras toilet dan langsung menampar korban dengan tangan kosong ke arah kepala sebelah kanan. Kemudian pelaku mendorong korban menggunakan kedua belah tangannya. Korban pun jatuh di depan teras toilet,” kata Kasat Reskrim Polres Kapuas AKP Wiwin Junianto SIK dalam rilisnya yang dikirimkan kepada awak media, Senin (14/11) sore.

Setelah itu korban kembali berdiri dengan membelakangi pelaku, dan saat itu pelaku kembali mendorong korban hingga jatuh ke tanah di samping toilet yang berair.

Pada saat korban jatuh dalam posisi tengkurap, pelaku langsung turun mendatangi korban dan menindih dengan cara menekan dengan lutut pelaku  di bagian belakang.

Hal itu dilakukan pelaku sambil kedua tangannya mencekik leher bagian belakang. Posisi muka korban terendam air. Walaupun korban sempat mengangkat kepala untuk bernapas, tetapi pelaku kembali menekan kepalanya hingga terendam air. Akibatnya korban kejang-kejang.

Menyadari korban sudah tidak berdaya, lalu pelaku menarik kakinya ke arah hutan dengan posisi korban masih dalam keadaan tengkurap. Sehingga bagian depan tubuh korban mengalami luka gores di dada dan perut hingga pinggang.

Dalam perjalanan saat diseret tersebut, medan yang dilewati dipenuhi ranting-ranting dan gundukan kayu.

“Kemudian pelaku pulang ke rumah dengan menggunakan sepedanya. Korban ditinggalkan di dalam semak belukar dengan posisi masih dalam keadaan tengkurap,” ungkap Wiwin Junianto, kemarin.

Dijelaskannya, berdasarkan pasal 32 ayat 2 UU Sistem Peradilan Pidana Anak Nomor 11 Tahun 2012, yang menyebutkan pelaku berusia dibawah 14 tahun tidak dapat dilakukan penahanan. “Proses sesuai prosedur dan profesional,” tambahnya.

“Penyidik akan berkoordinasi dengan LPKS di Palangka Raya dikarenakan dapat membahayakan pelaku apabila diserahkan kepada keluarga,” tegasnya.  (ono/end/ens)

loading...
Click to comment
To Top