Utang Ditukar dengan Nyawa – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Kriminal

Utang Ditukar dengan Nyawa

FAJAR.CO.ID, PROBOLINGGO – Warga Desa Gunung Geni, Kecamatan Banyuanyar, Kabupaten Probolinggo, Selasa malam (15/11) geger. Pasalnya, warga menemukan Dedy Kurniawan, 23, warga setempat, bersimbah darah di halaman rumahnya. Tak butuh waktu lama, pelaku penganiayaan Dedy ditangkap anggota Polsek Banyuanyar. Belakangan diketahui bahwa penganiayaan tersebut berlatar belakang utang piutang.

Berdasar informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Bromo (Fajar Group), penganiayaan yang berujung maut itu terjadi sekitar pukul 19.30. Hal tersebut bermula saat tersangka Kusnan, 35, warga Desa Andungsari, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo, bertandang ke rumah Dedy untuk menagih utang Rp 20 juta sekitar pukul 18.00.

Saat ditemui koran ini di Mapolsek Banyuanyar, Kusnan mengaku utang piutang itu sejatinya dilakukan antara dirinya dan Nur Halim, ayah Dedy. Tiga tahun silam, Nur Halim menggadaikan sawah miliknya kepada Kusnan senilai Rp 20 juta. Karena itu, sawah tersebut kemudian digarap Kusnan hingga Maret 2016.

Selama ini Nur Halim belum bisa membayar utang kepada Kusnan. Dia kemudian menggadaikan sawah miliknya kepada orang lain. Jaminan uang kepada Kusnan pun diganti dengan BPKB mobil.

’’Karena belum bisa mengembalikan uang saya, jadi BPKB mobil Nur Halim saya pegang. Kalau ada pembeli mobil tersebut, utang itu mau dibayar,’’ katanya. Namun, janji tinggallah janji. Selama enam bulan, tiga kali dia menagih utang tersebut. Hanya, Halim belum membayar.

Hingga akhirnya, pada Selasa sekitar pukul 18.00, Kusnan bersama temannya pergi ke rumah Nur Halim dengan niatan kembali menagih utang. Saat itu Nur Halim tidak ada di rumah sehingga Dedylah yang menemui pelaku. Setelah ngobrol sebentar, korban berpamitan keluar rumah ke Desa Blado Wetan, Kecamatan Banyuanyar. Sekitar pukul 19.00, dia kembali ke rumah dan ngobrol dengan pelaku.

Dalam pembicaraan tersebut, Dedy mengaku bahwa bapaknya belum bisa membayar utang itu. Karena tak membuahkan hasil, Kusnan lantas berpamitan pulang.

’’Dalam perjalan pulang, sampai di lapangan Desa Gunung Geni, saya kepikiran. Saya berpikir, kok saya dipermainkan. Saya nagih berkali-kali, tapi tidak ada hasil. Akhirnya, saya berhenti di lapangan desa itu,’’ terangnya.

Dia lantas teringat janji Nur Halim saat menggadaikan sawah tersebut. ’’Ingat kata-kata Nur Halim. Kalau tidak bayar, pedengan le’er (penggal leher, Red) dan corean colok (sobekan mulut, Red),’’ katanya.

Diliputi perasaan sakit hati, Kusnan lantas balik kanan ke rumah Nur Halim dengan berjalan kaki. Dia meminta temannya menunggu di lapangan. Kebetulan, jarak lapangan ke rumah Dedy hanya sekitar 300 meter. Sesampai di rumah korban, Kusnan berpura-pura kehabisan bensin dan meminta diantar membeli bensin.

Dedy yang tidak mencurigai gelagat buruk Kusnan lantas memboncengkan pelaku untuk membeli bensin. Saat perjalanan sekitar 200 meter, tanpa ba-bi-bu, pelaku menggorok leher korban menggunakan pisau yang dibawa sebelumnya.

’’Pisau itu saya bawa dari rumah, biasa untuk jaga-jaga. Sebab, rumah saya di Tiris ke Banyuanyar jauh, jadi buat jaga-jaga,’’ jelasnya. Setelah menggorok leher korban, Kusnan dan Dedy terjatuh dari motor. Saat itu korban sempat melawan dengan mencekik pelaku.

Pada saat tertindih tubuh korban, pelaku kembali menusukkan pisau ke kepala korban. Dedy yang sudah tidak berdaya berusaha kabur ke rumahnya. Sementara itu, Kusnan kabur ke arah berlawanan.

’’Kalau berniat membunuh Dedy, pasti saya kejar. Namun, waktu itu saya tidak mengejar, malah lari ke utara,’’ terangnya.

Dedy kemudian terkapar bersimbah darah di halaman rumahnya. Warga yang mengetahui peristiwa tersebut langsung heboh. Keluarga lantas berusaha menyelamatkan korban dengan membawanya ke RSUD Waluyo Jati, Kraksaan.

’’Korban yang ditemukan terkapar di halaman depan rumahnya langsung dibawa ke rumah sakit (Waluyo Jati, Re) untuk diselamatkan. Namun, ternyata nyawa korban tidak dapat diselamatkan dan meninggal di IGD,’’ terang Kapolsek Banyuanyar AKP Adri saat ditemui kemarin.

Akibat penganiayaan itu, korban yang sehari-hari bekerja sebagai makelar tersebut mengalami luka di empat titik. Yaitu, leher dan mulut karena digorok menggunakan pisau serta dua titik luka di bagian belakang kepala karena tusukan pisau.

Sementara itu, anggota Polsek Banyuanyar langsung menangkap pelaku yang diketahui kabur dengan membawa pisau. Polisi dengan mudah membekuk pelaku setelah mendapatkan informasi dari warga yang melihat seorang pria lari membawa pisau. Ternyata, pria tersebut adalah Kusnan.

’’Waktu penangkapan tersangka Kusnan hampir bersamaan dengan adanya laporan (via telepon, Red) soal kejadian penganiayaan yang menimpa korban Dedy,’’ katanya kepada Jawa Pos Radar Bromo kemarin. Kusnan pun terancam mendekam tujuh tahun di penjara karena melanggar pasal 351 ayat (3) tentang Penganiayaan Berat yang mengakibatkan hilangnya nyawa seseorang. (Fajar/JPG)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top