Dua Holding BUMN Ditargetkan Rampung Tahun Ini – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Ekonomi & Bisnis

Dua Holding BUMN Ditargetkan Rampung Tahun Ini

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menargetkan induk usaha alias holding company 6 sektor BUMN selesai akhir tahun ini. Namun dari target itu, hanya 2 induk usaha BUMN di sektor migas dan tambang yang akan rampung lebih dulu. Sisanya, diproyeksi kelar tahun 2017.

Holding company BUMN di sektor migas dan tambang bisa terbentuk tahun ini disampaikan langsung Menteri BUMN Rini M Soemarno usai Rapat Kerja dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di Gedung Kementerian Keuangan, di Jalan Lapangan Banteng Jakarta, Kamis.

Menurut Rini, pertemuannya dengan Sri Mulyani membahas detail persiapan yang dibutuh­kan untuk membentuk holding BUMN. Ia menjelaskan, pemba­hasan meliputi berbagai aspek, mulai dari bagaimana pemben­tukan holding dikaitkan dengan status perusahaan, sampai soal aset yang akan disatukan.

“Kami juga membahas soal saham pemerintah pada Freeport sebesar 9,36 persen yang otoma­tis dialihkan ke holding BUMN tambang,” ujar Rini.

Menurut catatan, holding BUMN migas akan menyatukan dua perusahaan besar, yaitu PT Pertamina (Persero) dan PT PGN Tbk (Persero) di mana Pertamina akan menjadi peru­sahaan induk.

Sedangkan Holding BUMN tambang menyatukan empat perusahaan, meliputi PT Inalum (Persero), PT Bukit Asam Tbk (Perseo), PT Timah Tbk (Per­sero), dan PT Aneka Tambang Tbk (Persero) dengan PT Inalum menjadi perusahaan induk.

“PGN merupakan perusahaan publik sehingga proses pemben­tukan juga harus dilaporkan dan disesuaikan dengan ketentuan atau peraturan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK),” kata Rini.

Setelah itu, yang juga harus dilalui dalam pembentukan holding adalah keharusan me­laporkan dan membahas lebih lanjut dengan DPR. “Setelah semua proses dilalui, maka akan diterbitkan Peraturan Presiden (PP) masing-masing holding BUMN tersebut,” jelas Rini.

Data Kementerian BUMN menunjukkan, selain holding migas dan holding tambang, pemerintah juga mempersiapkan empat holding lainnya. Yaitu holding BUMN Jalan Tol dan Konstruksi, BUMN Perumahan, BUMN Pangan, BUMN Per­bankan dan Jasa Keuangan.

Staf Khusus Menteri BUMN Budi Gunadi Sadikin mengata­kan, holding BUMN migas dan pertambangan jauh lebih siap untuk dibentuk dibandingkan sektor lainnya.

“Kalau saya lihat sih yang benar-benar confirm dua, migas sama tambang,” jelas Budi di Gedung Pascasarjana UGM, Jakarta, Sabtu (5/11).

Namun, Menteri Rini menar­getkan holding 6 sektor dapat direalisasikan akhir tahun ini. Pembentukan holding 6 sektor BUMN masih dalam kajian lebih dalam, baik di Kementerian BUMN maupun di masing-mas­ing BUMN. “Ibu Rini inginnya 6 akhir tahun ini, ada diskusi dan dinamika di dalam,” ujar bekas bos Bank Mandiri ini.

Perkuat Daya Saing

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menga­takan, pembentukan perusahaan induk dengan menggabungkan beberapa perusahaan BUMN yang memiliki lini bisnis yang sama, diharapkan menjadi solusi agar perusahaan tersebut mampu memenangi persaingan global.

“Diharapkan menjadikan BUMN bekerja lebih efisien dan memperkuat daya saingnya dalam kompetisi global, apalagi sekarang eranya pasar bebas,” harap Sri.

Ia menilai, kondisi BUMN yang saat ini bisnisnya terpisah-pisah membuat struktur per­modalan BUMN menjadi tidak kompetitif. Untuk itu, dengan adanya pembentukan holding tersebut, BUMN dapat lebih profesional dan transparan.

Menkeu pun berharap, pem­bentukan perusahaan gabungan BUMN juga akan meningkatkan nilai perusahaan dalam mem­perkuat struktur permodalan, peningkatan aset, serta efisiensi usaha.

Sebab, menurut Sri, selama ini banyak BUMN yang masih sangat bergantung pada Penyer­taan Modal Negara (PMN). Aki­batnya, kegiatan pembangunan BUMN sangat bergantung dari suntikan modal dari pemerintah melalui APBN.

Meski memiliki beberapa pandangan soal holding BUMN, kata Sri, pada dasarnya ia men­dukung adanya holding BUMN di Indonesia. Namun, harus dilihat secara manfaat dan ke­untungannya. Oleh sebab itu, sinergi BUMN menjadi solusi dalam menjawab tantangan permodalan tersebut. Dengan sinergi, BUMN dapat dikelola secara lebih profesional dan mandiri dalam mengelola keuan­gan perusahaannya.

Namun, Sri menegaskan, pembentukan penggabungan bu­kan sekadar menyatukan neraca keuangan. Tetapi yang paling sulit adalah menggabungkan aktivitas bisnis yang berbeda, baik dalam tata kelola perusa­haan, sosial ekonomi, maupun dukungan politik.

“Perusahaan yang diakuisisi akan tetap menjadi diri sendiri, namun akan dikelola dalam satu bentuk holding,” katanya. (Fajar/RMOL/PS)

Click to comment
To Top