KPK Agendakan Ulang Pemeriksaan Wakil Bupati Buton – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Hukum

KPK Agendakan Ulang Pemeriksaan Wakil Bupati Buton

FAJAR.CO.ID, JAKARTA Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sedianya melakukan pemeriksaan terhadap Wakil Bupati Buton non aktif La Bakry, Senin (21/11). Namun, untuk panggilan kedua ini, La Bakry juga tidak tampak hadir di gedung KPK untuk memberikan keterangan sebagai saksi.

La Bakry dipanggil KPK untuk memberikan kesaksian terhadap tersangka kasus dugaan suap Bupati Buton non aktif Samsu Umar Abdul Samiun dalam perkara sengketa Pilkada Buton di Mahkamah Konstitusi (MK) terhadap mantan Ketua MK Akil Mochtar yang telah divonis seumur hidup oleh majelis hakim pengadilan Tipikor.

Plh Kepala Biro Humas KPK Yuyuk Andriati yang dikonfirmasi mengatakan bahwa panggilan untuk La Bakry merupakan panggilan yang dijadwalkan ulang setelah sebelumnya tidak datang memenuhi panggilan penyidik.

Berdasarkan rilis jadwal pemeriksaan hari ini, juga tertera nama anggota DPRD Buton yang juga mantan calon bupati saat itu, La Uku. Sama halnya dengan La Bakry, La Uku juga tidak tampak menghadiri panggilan KPK.

“La Bakry pemanggilan dijadwalkan ulang. La Uku, pemeriksaan yang bersangkutan sudah dilakukan hari Rabu (16/11) lalu, jadi yang hari ini batal,” kata Yuyuk, Senin (21/11).

Karena kembali tidak memenuhi panggilan KPK, penyidik pun akan menjadwalkan kembali pemeriksaan terhadap La Bakry yang merupakan pasangan Umar Samiun ini. Namun, untuk waktunya, Yuyuk belum bisa membeberkan hal itu.

“(La Bakry, red) tidak hadir karena itu penyidik menjadwal ulang,” tutupnya.

Seperti diketahui, dalam putusan persidangan di pengadilan Tipikor beberapa waktu lalu, Umar Samiun mengaku memang mentransfer uang Rp1 miliar ke rekening atas nama CV Ratu Samagat dengan keterangan Down Payment (DP) Batu Bara.

Transfer itu dilakukan atas desakan advokat Arbab Paproeka yang mengatasnamakan Akil Mochtar. Dalam pernyataannya, jika tidak diberikan maka kemenangan Umar Samiun akan dianulir oleh Akil.

Sementara itu, Akil Mochtar usai persidangan menyangkal keterangan Umar Samiun. Ia mengaku tidak pernah menerima uang yang dikirim oleh Umar Samiun. “Yang tidak singkronnya itu, ada orang mengatasnamakan saya meminta uang, tapi mereka tidak mengkonfirmasi kepada saya langsung,” kata Akil.

Sementara dalam amar putusan Pilkada Buton berbeda dengan amar putusan dalam kasus sengketa pilkada daerah lain yang melibatkan Akil Mochtar. Dalam amar putusan Pilkada Buton bukan tertulis terbukti melakukan suap, melainkan patut diduga melakukan suap kepada Akil Mochtar. (hrm/Fajar)

To Top