Mayoritas Kasus Gizi Buruk Disini Ternyata Dari Para Pendatang – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Kriminal

Mayoritas Kasus Gizi Buruk Disini Ternyata Dari Para Pendatang

MIRIS: Salah seorang pasien penderita Gizi Buruk yang ditangani pihak medis RSUD Gunung Malang. (dok/balpos)

MIRIS: Salah seorang pasien penderita Gizi Buruk yang ditangani pihak medis RSUD Gunung Malang. (dok/balpos)

FAJAR.CO.ID, BALIKPAPAN – Kasus gizi buruk yang terjadi di Kota Minyak mengalami peningkatan. Kondisi memprihatinkan itu bisa dilihat dari data Dinas Kesehatan Kota (DKK) dalam tiga tahun terakhir. Pada 2014 silam, terdapat 8 kasus gizi buruk, kemudian 2015 meningkat menjadi 10 kasus.

“Sampai 2016 ini, kami sudah menemukan 14 kasus gizi buruk,” ungkap Kepala Bidang Bina Kesehatan Masyarakat DKK Balikpapan Sri Juliarti.

Dari 14 kasus gizi buruk yang terdata di penghujung 2016, penderitanya didominasi warga pendatang yang masuk sebagai kaum urban ke Balikpapan. Ironisnya, mereka tidak dilengkapi dengan indentitas kependudukan sehingga penanganannya menjadi sulit.

“Pendatang itu tidak terdaftar dalam keanggotaan BPJS Kesehatan karena secara kependudukan juga tak terurus,”  beber Sri kepada Balikpapan Pos (grup fajar), kemarin.

Meski demikian, Sri menegaskn, DKK tetap berusaha memberikan bantuan sehingga kasus gizi buruk di Kota Minyak dapat tertangani 100 persen.

“Namun kami tetap usahakan bagaimana caranya menggalang pemberdayaan masyarakat agar pasien gizi buruk kembali pulih kondisinya,” ucap wanita berkerudung ini.

Lebih lanjut dirinya memaparkan, DKK Balikpapan punya program khusus penanganan kasus gizi buruk di Balikpapan, bahkan sudah terstruktur sampai di tingkat Puskesmas. Gizi buruk,  terjadi tidak secara tiba-tiba.

“Terjadinya tidak  tiba-tiba, berlangsungya gizi buruk itu bisa berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, tidak seperti kasus DBD dalam lima hari saja sudah langsung,” katanya.

Masih menurut Sri,  kasus gizi buruk yang terjadi itu didominasi penduduk pendatang yang di daerah asal memang sudah dalam kondisi berat badannya kurang.

“Biasanya seperti itu terjadi karena kependudukannya tidak terurus, tidak ke posyandu akhirnya jatuh pada status gizi buruk,” ungkapnya.

Sementara penanganan guzi buruk itu, ia menerangkan, penderita harus dipantau secara terus-menerus minimal selama tiga bulan, tidak boleh putus mengkonsumsi susu formula selama tiga bulan.

“Karena gizi buruk itu tidak terjadi secara tiba-tiba, keberlangsungannya lama, maka pemulihannya pun lama. Jadi DKK butuh dukungan seluruh pihak termasuk orangtua pasien,” harapnya.

Sri menambahkan, munculnya gizi buruk itu juga tejadi karena kesalahan dalam pola asuh orangtua. Memberi makan pada anak tidak telaten, memberikan menu makanan yang instan saja, dan disertai dengan penyakit penyerta.

“Misalnya ada cacat bawaan dari lahir, mengalami kelumpuhan saraf sehingga dia sulit untuk makan. Namun belum ada kejadian gizi buruk murni karena kemiskinan,” pungkasnya. (tur/yud)

To Top