Anggotanya Serbu dan Aniaya Siswa Didalam Sekolah, Kapolres Muna Minta Maaf – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Daerah

Anggotanya Serbu dan Aniaya Siswa Didalam Sekolah, Kapolres Muna Minta Maaf

FAJAR.CO.ID, RAHA – Aksi Koboi aparat kepolisian  yang menyerbu masuk kawasan SMKN 2 Raha Kamis (24/11) lalu jadi preseden buruk bagi institusi itu. Gara-gara ulah konyol anak buahnya, Kapolres Muna, AKBP Yudith Satria Hananta, terpaksa harus menyampaikan permohonan maaf.

“Saya sudah sampaikan maaf kepada Ketua PGRI Muna, atas insiden kemarin di SMKN 2 Raha, termasuk pihak sekolah,” kata perwira dengan pangkat dua melati di pundaknya itu, kemarin. Hanya saja, Kapolres tetap menganggap bahwa reaksi yang dilakukan anak buahnya adalah respon dari aksi para siswa SMKN 2. “Jadi, mereka (pihak sekolah) juga harus minta maaf karena sudah melempari anak buah saya,” kata Yudith.

Kapolres juga membuat penjelasan kronologis versi institusinya. Menurutnya, aksi yang dilakukan anak buahnya bukanlah sebuah tindakan penyerangan. Katanya, kala peristiwa terjadi, anggota Dalmas Polres Muna sedang melakukan patroli pengamanan menyusul adanya laporan bahwa dua sekolah, yakni siswa SMAN 1 Raha dan SMKN 2 Raha, terlibat tawuran.

Begitu tiba di TKP, anggota polisi langsung berpencar membubarkan aksi tawuran. Para siswa pun lari dan membubarkan diri. Polisi ternyata belum puas, tapi masih melakukan penyisiran guna mengidentifikasi para pelaku tawuran. “Anggota saya hanya menyisir area di sekitar sekolah kok. Bukan di dalam. Tiba-tiba mereka dilempari bongkahan batu yang arahnya berasal dari dalam kawasan sekolah,” kata Kapolres.

Anggota, kata Kapolres, rupanya bereaksi. Mereka mengejar pelaku pelemparan itu sampai ke dalam sekolah dan ditarik keluar. Versi Yudith, menyadari bahwa cara itu (masuk sekolah) salah, anggotanya langsung keluar. “Tapi, kami mengakui, tindakan yang dilakukan anggota Dalmas tidak sesuai dengan mekanisme. Itu inprosedural. Kami sudah melakukan pemeriksaan internal, dan bakal memberi sanksi disiplin kepada oknum yang bersangkutan,” kata Kapolres.

Sayangnya, perwira utama di Mapolres Muna ini tidak mau menyebut berapa orang yang sedang diproses, dan berapa total jumlah anggota Dalmas yang dua hari lalu menyatroni kawasan SMKN 2 Raha. “Diperiksa semuanya,” kata mantan pejabat di Detasemen Gegana Polda Sultra itu tanpa menyebutkan berapa jumlah oknumnya yang terlibat serta sanksi disiplinnya berupa apa.

Di tempat terpisah, Ketua PGRI Muna, Haswa S.Pd M.Pd mengatakan, secara prinsip institusinya memberikan apresiasi terhadap kinerja kepolisian yang sudah bekerja keras mengamankan tawuran antar pelajar tersebut. Namun, pihaknya sangat menyesalkan tindakan yang dilakukan polisi dalam menghakimi pelajar. Apalagi, kejadiannya dalam lingkungan sekolah. Seharusnya, ada langkah-langkah persuasif. Untuk itu, pihaknya meminta Kapolres Muna untuk mengusut tuntas kasus tersebut.

“Harus usut tuntas. Kami tidak menyalahkan. Hanya saja, tindakan itu harus diproses seadil-adilnya agar tidak terulang kembali. Apalagi, insidennya terjadi dalam lingkungan sekolah,” kecam mantan Kepala SMP 6 Raha itu. Harusnya, kata pengawas sekolah aktif itu, polisi dalam menjalankan tugasnya harus humanis. Ironisnya, dilakukan pada remaja di lingkungan pendidikan. Tentunya, tidak pantas dilakukan. Ada prosedur yang harus dilalui. Pihaknya juga memberi kewenangan penuh pada Polres untuk mengusut tuntas masalah itu.

“Saya tidak mempresure. Dan tidak membesar-besarkan perkara. Hanya saja segera mungkin tuntaskan. Guru merasa keberatan atas insiden itu. Bagi siswa, guru merasa terzolimi dan mempengaruhi psikologis. Sehingga tidak nyaman. Sikapi secara serius. Jangan ditutup-tutupi. Kami juga memberi kepercayaan. Namun akan dikawal secara bersama,” tegasnya.

PGRI akan terus memantau perkembangan kasus tersebut. Dan terus melakukan koordinasi. Pihaknya tidak akan mengambil langkah berlebihan yang dapat memicu instabilitasi, sehingga peristiwa ini menjadi tanggung jawab semua. “Saya masih ada kegiatan di Jakarta, nanti setelah balik ke Raha, saya akan ajak Kepala SMKN 2 termasuk Ketua OSI untuk duduk bersama. Kalau perlu dengan aparat kepolisian,” tandas pembina rumah pintar Aldifa itu. Sementara itu, saat wartawan Kendari Pos beranjangsana, melihat kondisi terakhir dilingkungan SMKN 2 Raha, terlihat sepi serta tidak ada proses belajar mengajar. Siswa diliburkan. Sebab, bertepatan dengan hari besar PGRI.

“Liburnya siswa, tidak ada sangkut pautnya dengan tawuran. Karena semua guru-guru mengikuti upacara. Sehingga siswa diliburkan,” kata Guru SMKN 2 Raha, LM Nazaruddin saat ditemui di ruang kerjanya usai mengikuti upacara hari PGRI di Alun-alun Kota Raha. (Fajar/KP)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top