Miris! Ruang Kelas Hampir Ambruk, Murid Pilih Belajar di Parkiran – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Daerah

Miris! Ruang Kelas Hampir Ambruk, Murid Pilih Belajar di Parkiran

FAJAR.CO.ID, JEMBER – Selama dua bulan ini, siswa kelas I SDN Badean 03, Bangsalsari, terpaksa belajar di tempat parkir.

Pasalnya, ruang kelas yang biasanya untuk belajar rusak parah.

Dengan alasan mengutamakan keselamatan, para siswa tidak lagi belajar di ruangan yang berukuran 3 x 6 meter itu.

Genting ruang kelas I terpaksa diturunkan karena membahayakan para siswa.

Sebab, kayu usuk, blandar, serta langit-langit kelas mulai ambrol. Karena itulah, 26 siswa kelas I dipindahkan dari ruang kelasnya.

Selain kondisi usuk, blandar, dan atap yang rusak, ruang kelas bocor saat hujan.

“Untuk menghindari kejadian ambruknya ruang kelas, genting diturunkan,” ujar Kepala SDN Badean 03, Bangsalsari, Sunarso.

Untuk sementara, para siswa kelas I terpaksa belajar di tempat parkir yang diisi 14 bangku agar kegiatan belajar-mengajar tetap berlangsung sebagaimana mestinya.

“Sebab, kalau ada yang masuk siang, takut hujan dan banyak siswa yang tidak mau sekolah. Untuk menghindari itu semua, harus dicarikan jalan keluar. Yakni, sementara menempati tempat parkir,” sambung Sunarso.

Dia menyatakan, sebenarnya pihak sekolah pernah mengajukan permintaan rehab ke Dinas Pendidikan (Dispendik) Jember, bahkan hingga dua kali.

Selain itu, ada ruang guru dan kepala sekolah yang bocor. Plafon juga mulai miring.

Pihak sekolah beserta komite pernah rapat untuk membeli tenda untuk mengantisipasti kalau sewaktu-waktu ruang kelas II dan III ambruk. Total siswa di SDN Badean 03 berjumlah 203 orang.

Jika sudah ada tenda, 36 siswa kelas II dan 42 siswa kelas III tidak bingung lagi mencari tempat untuk belajar.
Rencananya, tenda dengan penyangga bambu dipasang di halaman sekolah.

“Yang rusak parah memang di ruang kelas I. Siswa berjumlah 26 orang. Tetapi, ruang kelas II dan III juga rusak. Kalau hujan bocor. Teras depan ruang kelas III juga rusak parah,” terangnya.

Siswa kelas I pun belajar dengan kondisi serba terbatas. Bagian pinggir hanya ditutup banner untuk melindungi siswa dari panas dan angin.

Meja tenis dan papan triplek dipakai sebagai dinding.

Sebab, tempat parkir yang dijadikan ruang kelas sementara itu berada di pinggir jalan menuju perkebunan Widodaren.

Menurut Atminingsih, guru kelas I, dirinya kasihan dengan anak didiknya karena rata-rata masih kecil.

Jika sudah pukul 09.00, suasana mulai panas karena atap yang terbuat dari asbes tidak terlalu tinggi.

“Kalau hujan, air masuk karena di bagian samping hanya dipasang banner bekas dan meja tenis meja,” ujarnya. (Faja/jpnn)

loading...
Click to comment
To Top