Soarpito Dan Soarpa Akui Fandy Ashari Wael Sebagai Raja Kaiyeli – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Daerah

Soarpito Dan Soarpa Akui Fandy Ashari Wael Sebagai Raja Kaiyeli

FAJAR.CO.ID, AMBON- Aktivitas tambang emas Gunung Botak yang masuk dalam petuanan Kerajaan Kaiyeli Kabupaten Buru, ikut merusak sendi-sendi adat yang selama ini dianut masyarakat setempat.

Nilai emas yang begitu menggiurkan bahkan membuat sebagian orang lupa akan status sosial mereka seperti apa. Mereka secara terang-terangan menokohkan diri sebagai penerus raja tanpa dasar yang jelas.

Hal ini membuat pemimpin adat dari Soa Portelu, Soa Perwisi Waetemun, soa Matlea Waelua, soa Segel Waelua, Soa Matlea Wagida, Soa Matlea Migido, dan Soa Lapis Tamah yang tergabung dalam Soarpito bergerak secara adat untuk menyelesaikan polemik yang timbul ditengah masyarakat adat Kaiyeli tentang penerus Raja Kayeli almarhum M. Fuad Wael.

Para kepala soa itu kemudian turun gunung dan langsung bertemu dengan Fandi Ashari Wael selaku anak pertama almarhum M.Fuad Wae yang juga putra mahkota Kerajaan Kaiyeli.

Pada pertemuan yang ikut disaksikan Soar Pa dan masyarakat adat Kayeli, para kepala soa terdiri dari kepala Soa Portelu atas nama Linus Nurlatu, Bantama Nurlatu dari Soa Perwisi Waetemun, Rekun Latbual dari Soa Matlea Waelua, Wasa Latbual dari soa Segel Waelua, Babes Tasane dari Soa Matlea Wagida, Muhammad Nacikit dari Matlea Migido, dan Halit Wael dari Soa Lapis Tamah juga ikut melegitimiasi Fandi Ashari Wael sebagai penerus Raja Kayeli.

Pengakuan para kepala soa atas kepantasan Fandi Ashari Wael sebagai Raja Kaiyeli bukan tanpa sebab, tapi merujuk aturan adat yang berlaku di Kayeli. Dimana Fandi telah sah sebagai Raja Kaiyeli, tanpa harus dilantik sekalipun.

Para kepala soa juga berharap Raja Kaiyeli Fandi Ashari Wael sebagai penerus tahta almarhum dapat membawa kesejahteraan dan kemakmuran serta kedamaian bagi masyarakat adat diseluruh petuanan Kerajaan Kaiyeli.

“Yang mati adalah manusianya, bukan rajanya, secara otomatis yang berhak meneruskan tahta adalah putra mahkota atas nama Fandi Ashari Wael,” tegas para pimpin soa pada pertemuan yang dilakukan secara adat 30 November sesuai rilis yang diterima redaksi, Minggu kemarin.

Menurut para kepala soa, setelah seorang raja meninggal, tidak ada lagi tahapan pelantikan karena pengukuhan secara adat itu sudah ada sejak dahulu kala.

Penegasan sikap para kepala soa ini juga telah disampaikan ke imam negeri, modim, dan hatib sebagai bagian dari menjunjung tinggi nilai kesakralan adat yang berlaku. Sehingga bagi yang meneruskan tahta Raja Kaiyeli hanya akan diperkenalkan kepada masyarakat adat.

Caranya adalah raja penerus akan dibawa ke setiap perkampungan adat yang menjadi wilayah admintratif adat kerajaan Kaiyeli. Disetiap persinggahan raja akan disambut dengan ritual-rituak adat yang selama ini dijalankan masyarakat adat Kaiyeli.

“Tidak ada lagi pelantikan, penerus tahta hanya akan diperkenalkan kepada masyarakatnya saja, dan itu yang berlaku di Kaiyeli selama ini. Dalam kunjungannya, raja akan didampingi para kepala soa, mengenai waktu kapan Raja Kaiyeli Fandi Ashari Wael akan bertemu dengan masyarakatnya dan akan dikenalkan secara langsung, masih dikoordinasikan,” kata mereka.

Pada kesempatan itu, para kepala soa juga meminta agar siapapun tidak lagi mempolemikan status Raja Kaiyeli pasca pertemuan adat tersebut. Para kepala soa juga akan bertanggungjawab untuk ikut mensosialisasikan kehadiran Raja Kaiyeli penerus almarhum M.Fuad Wael di wilayah adat masing-masing.(fajar)

Click to comment
To Top