Tito Pakai Contoh Policarpus untuk tidak Penjarakan Ahok. Lantas Kasus Mirna, Lia Eden dan Arswendo Bagaimna? – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Hukum

Tito Pakai Contoh Policarpus untuk tidak Penjarakan Ahok. Lantas Kasus Mirna, Lia Eden dan Arswendo Bagaimna?

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Sekali lagi, Kapolri Jendral Tito Karnavian menjelaskan alasannya untuk tidak menahan tersangka kasus dugaan penistaan agama, Basuki T Purnama.

Saat dipanggil Komisi III DPR, Senin (5/12), Tito menjelaskan bahwa sejak awal gelar perkara kasus pria yang terkenal dengan panggilan Ahok tersebut, terjadi perbedaan pendapat di kalangan ahli, penyelidik maupun penyidik dalam menilai ada tidaknya unsur pidana.

Karena mayoritas memandang ada unsur pidana, maka pria yang disapa Ahok ini ditingkatkan statusnya menjadi tersangka dan dilakukan pemberkasan.

Nah, terkait penahanan, itu menurut Tito berkaitan dengan faktor objektif dan subjektif.

“Faktor objektif adalah ketika penyidik bulat, mutlak dan telak mereka menyatakan yakin. Sebaliknya kalau belum bulat maka kita tidak ingin mengambil resiko untuk melakukan penahanan. Jadi fakta hukum menjadi masalah, bukan tekanan publik,” kata Tito.

Mantan Kepala BNPT itu membandingkan kasus Ahok dengan pembunuhan aktivis HAM Munir. Meski kasus itu menonjol dengan ancaman hukuman 5 tahun, tersangkanya tidak ditahan.

“Policarpus tidak ditahan karena alat buktinya tidak telak dan mutlak. Sehingga diserahkan pada pengadilan yang memutuskan meskipun sebagai tersangka. Tapi tersangka kasus lain itu tidak ada yang bebas,” jelas Tito.

Pembanding lainnya adalah kasus pembunuhan Wayan Mirna Salihin dengan tersangka ketika itu Jessica Kumala Wongso, yang juga diwarnai perbedaan pendapat.

Tapi karena faktor subjektif, kekhawatiran melarikan diri maka dia ditahan.

Pada kasus yang Arswendo dan Lia Eden, lanjut Tito, keduanya langsung ditahan karena suara penyidik dalam melihat kasus itu bulat. Di samping pembuktiannya juga lebih mudah dibanding kasus Ahok.

“Kasus Arswendo, kasus Lia Eden, kami sampaikan dalam kasus itu penyidik melihat itu telak dan mutlak. Kebetulan saya masih letnan satu ikut di kasus itu.”

“Lia Eden pembuktiannya juga mudah karena yang bersangkutan menganggap titisan Nabi Muhammad SAW. Itu juga pembuktiannya sangat mudah karena bagi umat Islam Nabi Muhammad adalah satu,” jelasnya.(fajar/jpnn)

Click to comment
To Top