Diusir! 149 PSK Kembali ke Kampung Halamannya – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Kriminal

Diusir! 149 PSK Kembali ke Kampung Halamannya

PULANG KAMPUNG: Ratusan mantan PSK yang beroperasi di sejumlah lokalisasi di Kaltim dipulangkan ke daerah asal, Senin (5/12). Sebelumnya, mereka telah mendapatkan pembekalan modal dan keterampilan.(IST)

PULANG KAMPUNG: Ratusan mantan PSK yang beroperasi di sejumlah lokalisasi di Kaltim dipulangkan ke daerah asal, Senin (5/12). Sebelumnya, mereka telah mendapatkan pembekalan modal dan keterampilan.(IST)

FAJAR.CO.ID, BALIKPAPAN — Sebanyak 405 mantan pekerja seks komersial (PSK) di lokalisasi di Kaltim dipulangkan hari ini. Kebanyakan mereka pulang ke Jawa, yakni Jawa Timur sebanyak 149 orang. Sisanya ke 26 daerah di luar dan dalam Kaltim. Menggunakan pesawat, rombongan pertama yang dipulangkan ke Jawa Timur berangkat pukul 15.40 Wita. Masing-masing mendapatkan pesangon Rp 5.050.000. Uang itu sebagai modal usaha ekonomi produktif, jaminan hidup selama tiga bulan, dan transportasi.

Kepala Dinas Sosial Provinsi Kaltim Siti Rusmalia Idrus mengatakan, 70 persen PSK yang dipulangkan berasal dari luar daerah sisanya 30 dari dalam daerah. Mereka sebelumnya bekerja di 22 lokalisasi di Kaltim. “Jumlah PSK mencapai 1.207, paling banyak berasal dari Samarinda, yakni 500 orang. Seluruhnya akan dipulangkan secara berkala,” kata perempuan berjilbab ini saat Penyerahan Bantuan dan Pemulangan secara Simbolis Eks PSK sebagai Tindak Lanjut Penutupan Lokalisasi, di Asrama Haji Manggar, Senin (5/12).

Tidak ingin kecolongan, setelah pulang pun pemantauan tetap dilakukan Dinas Sosial di tempat tinggal mereka. Dia berharap, para eks PSK dapat kembali diterima di tengah masyarakat, serta mendapatkan kehidupan yang layak bahkan memiliki usaha mandiri.

Sebelum dipulangkan, Rusmalia juga gencar memberikan pembinaan dan pemberian bekal kerajinan. Serta melakukan cek kesehatan. Sejauh ini, dari eks PSK itu tidak ditemukan yang menderita HIV, meski beberapa perempuan mengalami penyakit kelamin.

“Upaya pemberdayaan kami lakukan agar mengembalikan harkat dan martabat mereka sebagai perempuan, terlebih bagi mereka yang masih berusia produktif,” tuturnya.

Pemulangan bekas PSK ini sejalan dengan program Kementerian Sosial, yang mencanangkan Indonesia bebas lokalisasi pada 2019. Bahkan pemerintah pusat menggelontorkan dana sebesar Rp 2.065.250.000 kepada Provinsi Kaltim.

Direktur Rehabilitasi Sosial Tuna Sosial dan Korban Perdagangan Sonny W Manalu mengatakan, dana itu digunakan sebagai biaya pemulangan serta uang saku bagi para eks PSK.  Sonny mengapresiasi Pemprov Kaltim yang sigap dan cepat menutup area lokalisasi. Sebab, masih ada 111 area dari 168 lokalisasi di Indonesia yang belum ditutup. Jumlah PSK pun mencapai kurang lebih 60 ribu orang. Penyakit sosial tersebut menurutnya begitu mengkhawatirkan, apalagi ia mendapati kebanyakan merupakan korban trafficking.

“Setelah Kaltim, 15 Desember nanti kami akan memulangkan PKS dari Banjarbaru, Kalimantan Selatan hampir 400 orang, lalu Dumai pada 2017 nanti,” tegasnya.

Dari pantauan Kaltim Post di aula Asrama Haji Manggar Balikpapan, kebanyakan mereka berusia produktif antara 20-50 tahun. Satu di antaranya Yul—bukan nama sebenarnya–, mengenakan celana jins dengan atasan kemeja kotak-kotak.

Sebagai anak bungsu dari empat bersaudara, Yul mengaku hanya sempat merasakan bangku pendidikan hingga jenjang SD. Lantaran kedua orangtua tidak bekerja dan ketiga kakaknya telah menikah. Sekitar 8 bulan lalu, dia pun datang ke Samarinda karena diajak seseorang muncikari.

“Niatnya yang penting bisa hidup dan pengin cari duit, karena di Surabaya saya tidak memiliki apapun,” tutur dara berusia 23 tahun itu. Sadar pekerjaan yang dilakukan bukanlah halal, ia tidak memberitahukan pada sanak keluarganya. “Mereka tidak tahu saya kerja PSK, dulu pamit izin mau kerja di kafe,” lanjutnya.

Ketika sesampainya di kampung halaman, Yul berharap bisa mengubah nasib dan mendapatkan pekerjaan yang layak. Hal senada juga diungkapkan M (33), dengan menggendong buah hati berusia 7 bulan yang terlahir dari hasil hubungan gelap menginginkan dapat membesarkan anak pertamanya itu dengan pendidikan tinggi. (*/lil/tom/k15)

Click to comment
To Top