Gilaaa, Jumlah Penderita Gangguan Jiwa di Jakarta Capai… – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Jabodetabek

Gilaaa, Jumlah Penderita Gangguan Jiwa di Jakarta Capai…

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Beratnya tantangan hidup di Ibu Kota memicu masyarakat beban cukup besar. Tak sedikit bagi yang “kalah” bersaing harus menjadi korban. Di antaranya menderita gangguan jiwa.

Berdasarkan data Pemprov DKI Jakarta, di kota metropolitan ini terdapat 854 orang dengan gangguan jiwa kategori berat. Sebanyak 81 orang dari mereka mendapat rawat inap di rumah sakit.

Adapun sisanya mendapat perawatan di Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa 1 milik Dinas Sosial DKI Jakarta.

“Warga Binaan Sosial yang berada di panti ini berasal dari jalanan yang belum tersentuh obat. Sedangkan gangguan jiwa sangat bergantung dengan obat,” kata Kepala Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa 1, Sarima, Rabu (7/12).

Sarima mengatakan, di panti tersebut merupakan klaster khusus orang dengan gangguan jiwa berat. Sehingga mereka yang berada panti itu masih membutuhkan perawatan secara intensif.

Di samping itu, selain ada yang dirawat inap, warga binaan pun setiap minggu melakukan rawat jalan ke rumah sakit untuk mengetahui kondisi mereka.

“Seminggu tiga kali warga binaan kami bergantian datang ke Rumah Sakit Khusus Daerah Duren Sawit. Sebenarnya ini perjalanan yang cukup jauh dari panti kami yang berada di Cengkareng,” ujarnya.

Dia melanjutkan, butuh waktu sampai dua jam ke rumah sakit dengan kondisi mereka yang mengalami gangguan jiwa. Ini disebabkan aturan dari BPJS yang mengharuskan penderita datang ke rumah sakit.

“Sebelumnya kami ada klinik satelit. Jadi dokter yang mendatangi mereka. Tapi setelah ada aturan BPJS, maka kami yang semua yang mendatangi rumah sakit,” keluhnya.

Jumlah warga binaan yang mencapai 854 orang itu menurutnya, akan terus bertambah. Untuk itu pihaknya melakukan perawatan yang sifatnya terapetik agar kondisi penderita gangguan mental semakin baik.

“Setelah mereka mendapat perawatan medis di rumah sakit dan pemberian obat, mereka akan diberikan terapi aktivitas Kelompok (TAK). Terapi itu untuk mengenalkan aktivitas sehari-hari,” paparnya.

Bagi orang dengan gangguan jiwa yang berat, melakukan aktivitas sehari-hari cukup menyulitkan. Maka mereka diajarkan seperti cara makan, mandi, berpakaian, menyapu, bersosialisasi dengan teman dan aktivitas sehari-hari lainnya.

Apabila mereka sudah mampu melakukan aktivitas sehari-hari, mereka akan dipindahkan ke klaster sedang sampai ringan yang berada di Panti Laras selanjutnya. Karena kondisi pasien sudah berangsur membaik.

“Kami juga mengembalikan mereka kepada keluarga. Kami mengembalikan kepada keluarga bukan karena sembuh. Namun karena di dalam keluarga mereka akan mendapat perhatian penuh,” pungkasnya. (Fajar/JPG)

loading...
Click to comment
To Top