Obama Naik Pitam, CIA Curiga Kemenangan Trump Berkat Bantuan Hacker Rusia – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Internasional

Obama Naik Pitam, CIA Curiga Kemenangan Trump Berkat Bantuan Hacker Rusia

FAJAR.CO.ID – Rusia berkali-kali muncul dalam perjalanan politik pilpres Amerika Serikat (AS).

Ketika fase kampanye, presiden terpilih Donald Trump mengundang negara yang dipimpin Presiden Vladimir Putin itu untuk mencari e-mail Hillary Clinton yang lenyap.

Kini Presiden AS Barack Obama minta CIA kembali menyelidiki peran Rusia dalam cyber attack di pilpres 8 November lalu.

Jumat (9/12) Presiden AS Barack Obama memerintah CIA meninjau ulang seluruh kasus cyber attack yang terjadi selama masa pemilu.

Obama ingin laporan tersebut diserahkan sebelum dirinya menyerahkan jabatan kepada Trump 20 Januari mendatang.

Wakil Juru Bicara Gedung Putih Eric Schultz menegaskan bahwa peninjauan ulang tersebut bukanlah usaha untuk tidak mengakui kemenangan Trump.

Obama hanya ingin transisi kekuasaan berjalan mulus. Karena itu, semua masalah akan diselesaikan sebelum dia turun jabatan.

“Peninjauan ulang tersebut akan mencakup tiga siklus pemilihan presiden,” ujar Schultz.

Yaitu, pada Pilpres 2008, 2012, dan 2016. Pada Pilpres 2008 juga ada cyber attack.

Namun, saat itu yang tertuding adalah Tiongkok. Sedangkan Pemilu 2012 tidak ada insiden yang terlalu berarti.

“Ini adalah prioritas utama. Saya rasa presiden ingin ini dilakukan di bawah pengawasannya karena dia menganggap hal tersebut sangat penting,” tambahnya.

Obama sudah mengawasi masalah cyber attack selama delapan tahun terakhir.

Obama memerintahkan peninjauan ulang karena Kongres meminta lebih banyak informasi terkait intervensi Rusia dalam pilpres.

Pada 7 Oktober Departe­men Keamanan Dalam Negeri sempat menyatakan bahwa pemerintah Rusia bermaksud mengintervensi proses pemilu di AS.

Beberapa senator juga telah mendapatkan paparan tentang pengamatan rahasia yang dilakukan CIA.

“Penilaian dari komunitas intelijen menyebut tujuan Rusia adalah mendukung salah satu calon atas calon yang lain. Yakni, membantu Trump terpilih. Itu adalah pandangan kami secara umum,” ujar pejabat senior AS saat presentasi di depan beberapa senator Demokrat minggu lalu seperti dilansir Washington Post.

Tujuh anggota Demokrat yang menjadi anggota Komite Intelijen Senat lantas meminta Gedung Putih menjelaskan apa yang mereka ketahui kepada publik tentang intervensi Rusia.

Permintaan tersebut diajukan pada 29 November. Mereka khawatir masalah itu akan diabaikan begitu saja saat Trump menjabat.

Selasa (6/12) para petinggi Demokrat kembali meminta Obama memberikan paparan khusus kepada semua anggota Kongres tentang intervensi Rusia.

Mulai peretasan hingga penyebaran berita palsu untuk membalik opini para pemilih.

Namun, keinginan itu mendapat sedikit ganjalan. Anggota Kongres dari Partai Republik mau mendengar paparan aktivitas Rusia tersebut.

Tapi, tidak sekarang, melainkan nanti, setelah pemerintahan yang baru di bawah Donald Trump telah berjalan.

Setelah pernyataan Gedung Putih untuk peninjauan kembali tentang cyber attack.

Beberapa media besar mengunggah laporan tentang peran Rusia dalam kemenangan Trump. Salah satunya Washington Post.

Mereka mengungkapkan, ada intervensi Rusia dalam pilpres AS.

Sumber Washington Post menyatakan, tujuan Rusia tidak hanya mengacaukan sistem pemilu AS.

Tapi, juga memenangkan taipan 70 tahun tersebut sebagai president of the United States (POTUS).

Sumber tersebut menegaskan, ada orang-orang yang memiliki koneksi dengan Moskow.

Mereka itulah yang lantas menyuplai Wikileaks dengan e-mail yang diretas dari Komite Nasional Demokratik, kepala tim kampanye capres partai Demokrat Hillary Clinton (John Podesta), dan beberapa pihak lainnya.

Waktu munculnya bocoran e-mail Podesta memang mencurigakan.

Wikileaks memiliki data tersebut sejak lama. Ketika Hillary Clinton masih bertarung dengan Bernie Sanders untuk merebut tiket sebagai calon presiden dari Demokrat, Wikileaks memilih menyimpan e-mail-e-mail yang menguatkan tudingan Sanders terhadap Clinton tersebut.

Dibandingkan dengan Clinton, Sanders memang lebih sedikit memiliki cela.

Wikileaks baru mengunggah bocoran e-mail-e-mail di atas hanya beberapa bulan menjelang hari H pemilihan.

Padahal, saat itu polling dukungan untuk Clin­ton baru saja naik karena Trump terlibat skandal pelecehan perempuan.

Bocoran e-mail-e-mail tersebut ibarat dewa penolong bagi tim kampanye Trump saat itu. (Reuters/AFP/CNN/sha/c10/Fajar)

To Top